Tugumalang.id – Rumah Batik yang dibangun oleh PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk membuang air sisa pelorodan batik. Ini merupakan komitmen TBIG untuk tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dalam kegiatan ekonomi kreatif.
Rumah Batik TBIG merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendorong kelestarian budaya. Rumah Batik TBIG yang berlokasi di Kabupaten Pekalongan ini mengajar dan melatih anak-anak muda untuk terus melestarikan kebudayaan membatik.
Head of CSR Department TBIG, Fahmi Sutan Alatas menjelaskan, pembangunan IPAL ini tidak hanya menjadi solusi teknis terhadap limbah batik, tetapi juga sarana edukasi lingkungan yang diintegrasikan dalam proses belajar membatik.
Baca Juga: Perjalanan Eva Maria Bangun Rumah Ceria, Sulap Perca Menjadi Kreasi Menawan

Harapannya, anak-anak muda yang baru belajar membatik sudah memiliki pola pikir yang ramah lingkungan. Dengan demikian, di masa mendatang proses membatik di Kota Batik ini tidak lagi mencemari lingkungan.
“Anak-anak muda yang baru belajar batik dari awal sudah kami tanamkan pentingnya menjaga lingkungan. Jadi, memori pertama mereka tentang batik adalah aktivitas yang ramah lingkungan,” kata Fahmi saat menemui awak media di Rumah Batik TBIG, beberapa waktu lalu.
IPAL di Rumah Batik TBIG memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti ijuk, arang, dan batu. Sistem ini tidak menggunakan bahan kimia, melainkan filtrasi berlapis yang dapat menetralkan senyawa dari pewarna sintetis.
Baca Juga: Batik Utik Mardiati, Narasi Cerita dalam Selembar Kain
Untuk menguji keberhasilan filtrasi, air hasil olahan digunakan sebagai habitat ikan. Jika ikan mati, sistem akan dievaluasi dan bahan filter dijemur kembali agar aktif kembali.
Fahmi mengupayakan agar sistem IPAL ini bisa diadaptasi oleh perajin batik di seluruh Pekalongan. Sistem ini bisa digunakan secara kolekif, sehingga biaya pembangunan dan penggunaannya bisa ditanggung secara bersama-sama.
“Satu instalasi ini bisa digunakan oleh lebih dari satu pembatik,” kata Fahmi.
Kesadaran terhadap lingkungan sering kali dianggap rumit oleh sebagian pelaku usaha mikro. Karena itu, TBIG memilih pendekatan bertahap dan memulai edukasi ramah lingkungan ini sejak tahun 2014.
“Kami tidak memikirkan harus langsung masif. Yang penting mulai dari satu langkah kecil, itu akan memunculkan langkah-langkah lainnya,” kata Fahmi.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Rumah Batik TBIG juga memasukkan materi lingkungan ini ke dalam kurikulum pelatihan batik. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk generasi pembatik yang sadar dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan sejak dini.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























