Malang, Tugumalang.id – Malang Raya tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan pegunungannya. Kawasan ini juga memiliki beragam destinasi wisata rohani yang menyimpan jejak sejarah, budaya, dan perkembangan berbagai agama. Mulai dari masjid, taman doa, pesarean, situs kuno, hingga desa bersejarah, seluruhnya masih dimanfaatkan sebagai tempat ibadah, ziarah, maupun pembelajaran sejarah.
Setiap lokasi memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda. Sebagian menjadi pusat kegiatan keagamaan, sementara lainnya menyimpan peninggalan sejarah yang masih terawat hingga sekarang.
1. Masjid Tiban Turen
Masjid Tiban yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, menjadi salah satu destinasi wisata rohani yang paling dikenal. Bangunannya memadukan arsitektur Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Eropa sehingga menghadirkan tampilan yang unik.
Sebutan “Masjid Tiban” muncul dari cerita masyarakat yang menyebut bangunan itu hadir secara tiba-tiba. Namun, pengelola pesantren menjelaskan pembangunan dilakukan secara bertahap sejak sekitar 1978 melalui gotong royong santri dan pengasuh pondok tanpa melibatkan kontraktor besar.
Selain digunakan untuk salat dan berbagai kegiatan keagamaan, masjid ini juga ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitekturnya. Pengunjung diimbau mengenakan pakaian sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap aktivitas ibadah dan pendidikan di lingkungan pesantren.
Lokasi: Jl. KH. Wachid Hasyim Jl. Anggur No.17, Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Baca juga: Sejarah Pesanggrahan Giri Kelop Gunung Emas, Wisata Rohani di Gedangan
2. Taman Doa Biara Flos Carmeli
Suasana hening menjadi daya tarik utama Taman Doa Biara Flos Carmeli di Kota Batu. Berada di kompleks Biara Rubiah Karmel, kawasan ini diresmikan pada 29 April 2025 oleh Uskup Keuskupan Malang bersama Pemerintah Kota Batu sebagai tempat doa dan ziarah umat Katolik.
Di dalam kawasan tersedia Gua Maria, Jalan Salib, area doa terbuka, dan berbagai fasilitas penunjang refleksi spiritual. Tempat ini dimanfaatkan untuk berdoa, meditasi, maupun kegiatan ziarah.
Masyarakat umum juga dapat berkunjung untuk mengenal tradisi spiritual Katolik dengan tetap menjaga ketenangan dan kesakralan kawasan biara.
Lokasi: Jl. Ridwan No.7, Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu.
3. Taman Doa Karmel Paranti Jati
Nama Paranti Jati berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti peristirahatan sejati. Kawasan yang dikelola Ordo Karmel tersebut dilengkapi kapel, Gua Maria, Jalan Salib, taman doa, serta kolumbarium untuk penyimpanan abu jenazah umat Katolik.
Seluruh fasilitas itu mendukung kegiatan ibadah, doa, meditasi, dan ziarah. Karena itu, kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata rohani di Kabupaten Malang.
Peziarah dapat datang secara pribadi maupun rombongan untuk mengikuti berbagai kegiatan rohani yang berlangsung di lokasi tersebut.
Lokasi: Jl. Raya Pandanlandung No.48A, Dusun Kunci, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
4. Pesarean Gunung Kawi
Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, menjadi salah satu lokasi ziarah yang telah lama dikenal di Jawa Timur. Kompleks ini merupakan tempat dimakamkannya Kanjeng Kyai Zakaria II (Eyang Djoego) dan Raden Mas Imam Soedjono yang dikenal memiliki peran pada masa Perang Jawa sekaligus dalam penyebaran Islam di wilayah Malang.
Tradisi ziarah masih berlangsung hingga kini, terutama saat hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa maupun peringatan haul kedua tokoh tersebut. Para peziarah datang untuk berdoa, membaca tahlil, dan berziarah ke makam.
Keunikan lain kawasan ini adalah keberadaan masjid dan kelenteng yang berdiri berdampingan. Kondisi tersebut mencerminkan akulturasi budaya yang telah berkembang selama bertahun-tahun di kawasan Gunung Kawi.
Lokasi: Jl. Pesarean, Sumbersari, Desa Wonosari, Kabupaten Malang.
5. Situs Petirtaan Ngawonggo
Situs Petirtaan Ngawonggo di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Berdasarkan Prasasti Wurandungan bertarikh 943 Masehi, petirtaan ini dibangun pada masa pemerintahan Mpu Sindok sebagai kawasan suci bernama Kaswangga.
Pada masa itu, petirtaan digunakan sebagai tempat penyucian diri sebelum menjalankan kegiatan keagamaan sekaligus lokasi ibadah dan meditasi masyarakat Hindu-Buddha.
Situs tersebut kembali ditemukan warga pada 2017 saat membersihkan aliran sungai. Kini kawasan dimanfaatkan sebagai cagar budaya dan wisata edukasi, sementara pengunjung tetap diminta menghormati aturan demi menjaga kesakralan lokasi.
Lokasi: Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
6. Makam Mbah Mbatu
Makam Mbah Mbatu menjadi salah satu lokasi ziarah yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kota Batu. Di kawasan ini dimakamkan sejumlah tokoh yang diyakini sebagai perintis sekaligus penyebar agama Islam di wilayah Batu, antara lain Syekh Abul Ghonaim atau Pangeran Rojoyo, Dewi Condro Asmoro atau Mbah Tu, Dewi Mutmainah, dan Kyai Naim.
Nama Mbah Mbatu dikaitkan dengan Dewi Condro Asmoro atau Mbah Tu. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, penyebutan Mbah Tu lambat laun berubah menjadi Mbatu dan kemudian dihubungkan dengan asal-usul nama Kota Batu.
Hingga sekarang, tradisi ziarah masih ramai dilakukan, terutama menjelang Ramadan, pada momen tertentu dalam kalender Islam, maupun saat peringatan hari jadi Kota Batu.
Lokasi: Dusun Banaran, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
7. Desa Wisata Peniwen
Desa Wisata Peniwen di Kecamatan Kromengan menjadi salah satu kawasan yang mencatat sejarah perkembangan agama Kristen di Kabupaten Malang. Desa ini dikenal sebagai permukiman dengan mayoritas penduduk beragama Kristen di Pulau Jawa yang tetap menjaga kehidupan harmonis bersama pemeluk agama lain.
Salah satu ikon desa ialah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Peniwen yang berdiri sejak awal abad ke-20 dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Bangunan tersebut menjadi bagian dari sejarah penyebaran agama Kristen di wilayah Malang sekaligus mempertahankan nilai arsitekturnya.
Wisatawan juga datang untuk mempelajari sejarah desa, kehidupan jemaat, serta tradisi Unduh-Unduh sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang masih terus dilestarikan.
Lokasi: Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.
Keberadaan tujuh destinasi tersebut menunjukkan bahwa Malang Raya memiliki warisan sejarah keagamaan yang beragam. Selain menjadi tempat ibadah dan ziarah, kawasan-kawasan itu juga menyimpan nilai budaya serta sejarah yang tetap terpelihara hingga sekarang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
editor: jatmiko























