Sabtu, Agustus 29, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

M Ulul Azmy by M Ulul Azmy
Juli 15, 2026 6:17 pm
in News
Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

Ilustrasi fenomena heat dome. Foto: iStock

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Fenomena heat dome yang memicu suhu udara di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara Eropa belakangan ini kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan membuat panas lebih mudah dilepaskan ke atmosfer sehingga tidak mudah terperangkap.

Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph.D., mengatakan kondisi geografis Indonesia menjadi faktor utama yang membedakannya dengan kawasan seperti Eropa maupun Amerika Utara. Luas perairan di Indonesia membantu proses sirkulasi udara dan penguapan sehingga akumulasi panas tidak berlangsung seperti di wilayah daratan yang sangat luas.

READ ALSO

Pemkab Malang Kaji Empat Lokasi Alun-Alun Kepanjen

Daftar Rais Aam dan Ketua PBNU dari Masa ke Masa, Siapa Pemimpin Berikutnya?

“Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas,” jelas dia, Kamis (15/7/2026).

Baca juga: 5 Rekomendasi Bahan Pakaian untuk Cuaca Panas, Adem dan Nyaman Dipakai

Heat Dome Terjadi karena Panas Terperangkap

Prof. Adi menjelaskan, heat dome merupakan fenomena ketika tekanan udara tinggi membentuk semacam kubah yang menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terus terperangkap dan terakumulasi hingga memicu kenaikan suhu permukaan secara ekstrem.

“Heat dome itu ibaratnya seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir serupa dengan efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu,” jelasnya.

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia
Akademisi Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph. D. Foto: Dok

Menurut dia, fenomena tersebut lebih sering muncul di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara. Karakteristik sirkulasi atmosfer serta bentang daratan yang luas membuat panas bertahan lebih lama dibandingkan di negara kepulauan.

“Di Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia,” ujarnya.

Prof. Adi menambahkan, heat dome bukan fenomena yang mudah diprediksi karena dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer yang terus berubah. Namun, wilayah dengan daratan luas dan berada di lintang tinggi memiliki peluang lebih besar mengalaminya.

Berbeda dengan Gelombang Panas

Ia menegaskan, heat dome tidak sama dengan heat wave atau gelombang panas. Gelombang panas hanya menunjukkan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi ketika lapisan tekanan tinggi memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat jauh lebih ekstrem.

“Dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa,” katanya.

Baca juga: Viral! Wisatawan Jepang Soroti Bau Asap Rokok Saat Berendam di Pemandian Air Panas Cangar

Tetap Waspadai Radiasi Matahari

Meski peluang heat dome terjadi di Indonesia sangat kecil, Prof. Adi mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat intensitas radiasi meningkat pada musim kemarau. Risiko yang lebih mungkin dihadapi masyarakat Indonesia adalah paparan sinar ultraviolet yang dapat mengganggu kesehatan jika terlalu lama beraktivitas di luar ruangan.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas ketika cuaca sangat terik, menggunakan topi, pakaian pelindung, serta tabir surya untuk mengurangi risiko akibat paparan sinar matahari.

Selain itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial. Informasi tersebut sebaiknya diverifikasi melalui sumber resmi, seperti BMKG maupun instansi pemerintah terkait.

“Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan,” pungkas dia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko

Tags: Akademisi UBBMKGefek rumah kacafenomena alamheat domeheat waveperubahan iklimUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

Pemkab Malang Kaji Empat Lokasi Alun-Alun Kepanjen
News

Pemkab Malang Kaji Empat Lokasi Alun-Alun Kepanjen

Sabtu, 29 Agu 2026
Daftar Rais Aam dan Ketua PBNU dari Masa ke Masa, Siapa Pemimpin Berikutnya?
News

Daftar Rais Aam dan Ketua PBNU dari Masa ke Masa, Siapa Pemimpin Berikutnya?

Sabtu, 29 Agu 2026
RMI PBNU Bahas Peran Bu Nyai Wujudkan Pesantren Aman
News

RMI PBNU Bahas Peran Bu Nyai Wujudkan Pesantren Aman

Sabtu, 29 Agu 2026
Gus Kautsar Ungkap Makna Historis Muktamar NU di Tambakberas
News

Gus Kautsar Ungkap Makna Historis Muktamar NU di Tambakberas

Sabtu, 29 Agu 2026
Kongkow Santri Bareng Masyayikh Bahas Ulang Qonun Asasi NU Jelang Muktamar ke-35
News

Kongkow Santri Bareng Masyayikh Bahas Ulang Qonun Asasi NU Jelang Muktamar ke-35

Sabtu, 29 Agu 2026
MHERA LAW Perluas Layanan Pendampingan Hukum di Malang Raya
News

MHERA LAW Perluas Layanan Pendampingan Hukum di Malang Raya

Jumat, 28 Agu 2026
Next Post
Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.