Saturday, July 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Featured

Kisah Pejuang Gerilyawan Agresi Militer yang Kini Hidup di Malang, Bolak-Balik Ditangkap Belanda

Redaksi by Redaksi
August 23, 2024 2:01 pm
in Featured
Soetarjo, gerilyawan pejuang yang masih hidup saat berkisah tentang masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Foto: Azmy

Soetarjo, gerilyawan pejuang yang masih hidup saat berkisah tentang masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Foto: Azmy

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – 17 Agustus menjadi momentum untuk memperingati jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Dari sekian banyak pahlawan yang gugur, ada juga para veteran yang masih hidup hingga saat ini.

Salah satunya adalah Soetarjo, pejuang asal Solo yang kini hidup di Malang, Jawa Timur, persisnya di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

READ ALSO

Dari Gersang Menjadi Hijau, Transformasi CMC Tiga Warna Lewat Konservasi dan Ekowisata

Cak Sindu dari Pentas Rakyat ke Aktor Film, Founder Studi Akting Malang

Pria itu sudah berusia 99 tahun. Namun raganya masih tampak bugar meski sejumlah inderanya seperti mata dan telinga mulai tak berfungsi.

Baca Juga: Pahlawan Nasional Mohammad Tabrani, Wartawan Asal Madura yang Gagas Bahasa Indonesia jadi Bahasa Nasional

Tugumalang.id berkesempatan mengulik kisah-kisah perjuangan kemerdekaan 79 tahun silam. Soetarjo sendiri adalah pejuang gerilyawan yang merasakan situasi mencekam di beberapa periode perjuangan kemerdekaan.

Soetarjo, gerilyawan pejuang yang masih hidup saat saat ini, pernah ditangkap Belanda bolak-balik. Foto: Azmy
Soetarjo, gerilyawan pejuang yang masih hidup saat saat ini, pernah ditangkap Belanda bolak-balik. Foto: Azmy

Mulai era Agresi Militer Belanda 1 tanggal 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947 dan Agresi Militer Belanda 2 tanggal 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949. Dalam situasi itu, Soetarjo merasakan bagaimana mencekamnya situasi karena Belanda masih terus merongrong negeri.

Mulanya, Soetarjo adalah anak muda biasa. Namun, dua kakaknya merupakan tentara pejuang. Bahkan, kakak keduanya gugur saat terjadi perang di Semarang pada 1947. Sejak itu, anak ketiga dari enam bersaudara ini memutuskan untuk ikut dalam barisan perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga: Abdul Manan Wijaya, Pahlawan Nasional Asli Malang yang Ahli Strategi Perang

Ia kemudian menempuh pendidikan sebagai calon prajurit Keraton Solo pada 1945. Kemudian, setelah kakak keduanya gugur pada 1946, ia memutuskan untuk ikut dalam barisan pasukan gerilyawan dan ditempatkan di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

”Saya sendiri terinspirasi dari kakak kedua saya yang gugur. Namanya Soedijono yang kini dimakamkan di TMP Solo. Saya ingat, dia punya semboyan sendiri, yaitu ‘Berani Membunuh, Berani Dibunuh.’,” kisah Soetarjo pada Tugumalang.id , Jumat (23/8/2024).

Soetarjo mengisahkan, selama masa perang kemerdekaan itu, dirinya kerap melakoni taktik perang gerilya di malam hari. Ia bermarkas selama 2 tahun di Pemerintahan Militer Kecamatan (Koramil, red) Sidoharjo.

Pria dari 5 anak dan 6 cucu ini mengisahkan, dirinya kerap kali tertangkap oleh Tentara Belanda. Ini lantaran tugas yang diemban kepadanya untuk memata-matai pergerakan tentara Belanda di wilayah Kota Solo.

”Kira-kira empat kali saya tertangkap. Saya dipukuli, dipopor sama senjata. Tapi mereka tidak bisa membuktikan bahwa saya adalah mata-mata (intel). Akhirnya bisa lepas dan kembali ke markas,” kata dia.

Selama masa itu pula, kisahnya, ia mengalami ikut perang sebanyak 2 kali saat agresi militer 1 dan 2. Namun jangan dikira pasukan melakukan gencatan senjata, melainkan menjalankan taktik perang gerilya di wilayah hutan-hutan dan pedalaman.

”Jelas kita pakai taktik gerilya, pasukan kita kurang, senjata kita juga kurang. Saat gerilya itu ya kita pakai senjata seadanya. Ada pun, itu hasil rampasan saat menghadang tentara Belanda,” ujarnya.

Soetarjo sendiri baru benar-benar bisa merasakan kemerdekaan usai Agresi Militer Belanda 2 berakhir pada 5 Januari 1949. Hingga kemudian, ia berpindah ke Malang untuk mencari pekerjaan dan akhirnya tinggal di Kota Dingin ini hingga di usia senjanya kini.

Di usia Indonesia yang ke-79, Soetarjo berpesan kepada generasi muda untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa. Tentu dengan jalan yang berbeda, bukan lagi gencatan senjata. Melainkan gencatan pemikiran dan ilmu pengetahuan.

”Tugas anak muda sekarang itu sudah bukan lagi perang senjata. Tapi memerangi kebodohan dan kemiskinan. Lewat pendidikan,” pesannya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: M Ulul Azmy

Editor: Herlianto. A

Tags: Agresi MiliterBelandaGerilyawanHeadlinekabupaten malangKemerdekaan IndonesiaVeteran Perang

Related Posts

Wisatawan melintasi hutan mangrove di CMC Tiga Warna. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Featured

Dari Gersang Menjadi Hijau, Transformasi CMC Tiga Warna Lewat Konservasi dan Ekowisata

Thursday, 10 Jul 2025
Cak Sindu, pendiri Studi Akting Malang (SAM), yang percaya bahwa akting bukan hanya sekeda seni peran. (Foto: Dohir Herliato/Sindu)
Featured

Cak Sindu dari Pentas Rakyat ke Aktor Film, Founder Studi Akting Malang

Wednesday, 7 May 2025
Bantu Lansia dan Anak Stunting, Pokmas di Sumberpucung Bagikan Nila dan Lele Gratis
Featured

Bantu Lansia dan Anak Stunting, Pokmas di Sumberpucung Bagikan Nila dan Lele Gratis

Tuesday, 21 Jan 2025
Polresta Malang Kota membongkar sindikat curanmor di Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Bisnis

Polresta Malang Kota Ringkus 5 Sindikat Curanmor

Tuesday, 24 Dec 2024
Batik karya Utik Mardiati motif kupu-kupu yang sudah dijahit menjadi rok. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Featured

Batik Utik Mardiati, Narasi Cerita dalam Selembar Kain

Saturday, 30 Nov 2024
Penampilan tim Korsik Pemkot Malang dalam format Big Band. Foto: Korps Musik Pemkot Malang
Featured

Mengenal Tim Korsik Pemkot Malang yang Punya Big Band Satu-satunya di Jawa Timur

Monday, 22 Jul 2024
Next Post
Melalui kegiatan PBAK 2024, FITK UIN Malang tanamkan jiwa entrepreneurship kepada mahasiswa baru./Foto: dok.UIN Malang

FITK UIN Malang Tanamkan Jiwa Entrepreneurship Kepada Mahasiswa Baru

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Festival Budaya di Malang yang Digelar Rutin Setiap Tahun, Wajib Masuk Daftar Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Edi Purwanto, Santri dan Penggerak NU Asal Malang Terpilih Jadi Komisioner KI Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.