MALANG, Tugumalang.id – Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna menjadi bukti nyata kesuksesan konservasi yang diiringi dengan pariwisata. Di samping menyelamatkan alam, konservasi ini juga menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar.
CMC Tiga Warna berlokasi di Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Area ini memiliki tiga pantai, yakni Clungup, Gatra, dan Tiga Warna.
Clungup merupakan pantai pertama ditemui pengunjung saat berjalan mengitari area CMC Tiga Warna. Di Pantai Clungup inilah konservasi mangrove ini digencarkan.
Baca Juga: Dukung Konservasi Desa Adat Bali, Dosen ITN Malang Kembangkan Dynamic Building Information Modelling
Begitu melewati Pos 2, pengunjung disambut dengan pepohonan mangrove di sisi kanan kiri. Pagar tali terlihat mengitari area pepohonan mangrove, selain menambah kecantikan pemandangan juga menjadi pembatas agar pengunjung tidak menerobos.

Hijau daun bakau, putihnya pasir pantai, serta biru langit terlihat sangat harmonis menghiasi area ini, membuat pengunjung betah meski harus berjalan kaki sekitar 500 meter menuju Pantai Clungup.
Siapa sangka, area ini dulunya sangat gersang dan hampir tidak ada pohon mangrove yang berdiri. Butuh waktu 20 tahun untuk menumbuhkan mangrove yang serimbun sekarang.
Sekretaris Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, Novita Sari mengatakan, pohon mangrove yang ada di sekitar pantai sempat digunduli oleh warga. Kayunya digunakan untuk kayu bakar.
Baca Juga: 7 Pantai di Malang dengan Fasilitas Camping Ground, Cocok untuk Liburan Seru di Alam
“Entah warga dulu tak tahu atau tak mau tahu, mereka menebang pohon mangrove. Padahal hutan mangrove berfungsi sebagai benteng,” jelasnya saat ditemui wartawan Tugu Malang ID, beberapa waktu lalu.
Akibatnya, hutan di sekitar pantai Clungup menjadi gundul, satwa liar tak lagi memiliki rumah, dan banjir rob pun menerjang rumah-rumah warga. Di tahun 2005, seorang warga bernama Saptoyo berinisiatif untuk memulihkan hutan mangrove di area Pantai Clungup.
Memulai konservasi bersama keluarga
Awalnya, Saptoyo bergerak menanam mangrove hanya bersama keluarga kecilnya. Mengedukasi warga tentang pentingnya peran pepohonan ini bukanlah hal mudah. Apalagi, tak ada manfaat ekonomi yang bisa diambil.
Lambat laun, ia mengajak saudara-saudara dan teman-temannya untuk ikut berpartisipasi dalam konservasi ini. Selama bertahun-tahun, Saptoyo yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru terus memberi edukasi kepada warga agar peduli terhadap keberadaan mangrove ini.

“Proses ini sangat lama karena tak mudah mengedukasi warga,” kata Vita.
Meski butuh waktu yang tak sebentar, usaha ini membuahkan hasil. Saat ini luas hutan mangrove di area Pantai Clungup mencapai 77,7 hektare. Warga yang dulunya menolak pun kini sudah mendukung upaya Saptoyo.
Memulihkan hutan dengan metode miyawaki
Selain mengembalikan hutan mangrove di Pantai Clungup, Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru juga memulihkan hutan asli di area sekitar.
Reforestasi ini dilakukan dengan menggunakan metode Miyawaki, yakni menggunakan teknik penanaman spesies tumbuhan asli dalam jarak dekat untuk meniru pola pertumbuhan yang terjadi secara alami.

Sebanyak 1.400 bibit tumbuhan asli ditanam di lahan seluas 400 meter persegi. Penanaman dilakukan pada 13 Desember 2022 dengan bantuan dari Women’s Earth Alliance (WEA).
Pada proses penanaman, mereka juga menambahkan mikroba lokal yang diambil dari lahan sekitar dan dikultur menggunakan rendaman pati kentang. Mikroba ini berfungsi mempercepat pemulihan kesehatan tanah.
“Sekarang di hutan itu sering muncul monyet. Bahkan pernah kelihatan ada landak,” imbuh Vita.
Beri pekerjaan bagi puluhan warga
Area CMC Tiga Warna yang dulunya tak memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar kini telah menjadi sumber penghasilan bagi mereka. Ekowisata yang dikunjungi ratusan wisatawan setiap minggunya ini telah memberi penghidupan secara langsung kepada sekitar 80 orang karyawan.
“Semua karyawan kami adalah warga sekitar, tidak ada yang dari luar kota,” ujar Vita.

Tentu saja ini belum termasuk UMKM di sekitar area konservasi yang juga mendapatkan pemasukan dari kunjungan wisatawan. Selain menghidupkan alam, CMC Tiga Warna juga sukses menjadi sumber penghasilan bagi warga Dusun Sendangbiru.
Karyawan-karyawan tersebut terbagi menjadi beberapa divisi. Ada yang tergabung dalam divisi ekowisata, konservasi mangrove, hingga konservasi terumbu karang.
Para karyawan tersebut tidak ada yang lulusan sarjana. Tapi semangat belajar mereka sangat tinggi. Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru telah bekerja sama dengan perguruan tinggi dan dinas-dinas pemerintahan terkait sistem pengelolaan ekowisata serta konservasi.
Tutup saat liburan hari raya dan batasi pengunjung
Berbeda dengan tempat wisata lainnya, CMC Tiga Warna justru tutup saat liburan hari raya dan sangat membatasi jumlah pengunjung yang masuk. Ini disebabkan pengelola tak ingin alam menjadi rusak karena pengunjung yang membludak.
CMC Tiga Warna tutup selama lebih dari satu minggu setiap hari raya Natal dan Tahun Baru serta hari raya Idulfitri. Setiap minggu, CMC Tiga Warna juga ditutup di hari Kamis.
Vita menjelaskan, layaknya manusia, alam juga butuh beristirahat. Setiap minggu, alam di CMC Tiga Warna mendapatkan waktu satu hari untuk bernapas lega tanpa kunjungan manusia.
“Selama enam hari alam dikunjungi orang, dilihat, dan dinikmati. Jadi kami berikan satu hari khusus untuk beristirahat,” kata Vita.
Sementara di libur hari raya, alam bisa beristirahat lebih lama. Di samping itu, petugas juga bisa merayakan hari raya mereka dengan tenang.
Vita mengatakan, petugas pengelola di CMC Tiga Warna terdiri dari golongan Nasrani dan Islam. Di hari raya Natal dan Tahun Baru, petugas yang beragama Nasrani bisa beribadah dengan tenang, sementara petugas yang beragama Islam bertugas menjaga kawasan.
Hal serupa juga terjadi di hari raya Idulfitri. Petugas yang beragama Islam bisa bersilaturahmi dengan tenang, sementara petugas yang beragama Nasrani menjaga kawasan. “Jadi nilai toleransi ini kami bangun di hari raya itu,” terang Vita.
Konservasi mangrove bisa selaras dengan pertumbuhan ekonomi
Kisah sukses konservasi mangrove ini tak hanya terjadi di CMC Tiga Warna. Konservasi dengan integrasi ekowisata maupun pengelolaan pangan juga dilakukan di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah serta di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Dalam Forum Bumi yang diselenggarakan Yayasan KEHATI dan National Geographic Indonesia di Jakarta, 4 Juni 2025 lalu, kisah-kisah sukses ini dipaparkan sebagai inspirasi dan motivasi.
Setelah bermitra dengan Yayasan KEHATI, kedua lokasi di atas seolah disulap dari kawasan yang rusak menjadi hutan yang asri.
Kawasan konservasi di Brebes dulunya merupakan tambak udang yang tidak berkelanjutan. Petani tambak kerap gagal panen dan akhirnya menelantarkan lahan tersebut.
“Di area ini sempat terjadi abrasi yang merugikan warga lokal,” ujar Direktur Program Yayasan KEHATI, Rony Megawanto.
Usai bermitra dengan Yayasan KEHATI, warga melakukan rehabilitasi mangrove yang kemudian dijadikan ekowisata. Kawasan ini dikelola oleh warga sekitar. Mereka juga membangun bisnis kuliner, homestay, dan batik mangrove.
“Kawasan ini juga menjadi pusat pembelajaran restorasi dan ekowisata mangrove nasional,” papar Rony.
Di Palu, mangrove menyelamatkan rumah warga dari terjangan tsunami di tahun 2018. Sementara pemukiman yang tak terlindungi mangrove mengalami kerusakan hebat.
Rehabilitasi mangrove pun dilakukan sebagai bagian dari mitigasi yang meminimalisir kerusakan akibat bencana alam. Di samping itu, warga juga mendapatkan penghasilan dari olahan pangan berbahan mangrove.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























