Malang, Tugumalang.id – Pernah nggak sih, ketika menghadapi masalah, bukannya mencari solusi, kita malah memilih sibuk sendiri, diam, atau menjauh? Padahal masalahnya jelas di depan mata. Tubuh dan pikiran seolah otomatis menekan tombol mode menghindar.
Bagi orang luar, perilaku ini sering disalahartikan sebagai sikap cuek, dingin, atau nggak peduli. Padahal sebenarnya, ini adalah cara otak kita melindungi diri dari tekanan emosional yang terasa terlalu berat. Fenomena ini bukan tanda kelemahan, melainkan pola bertahan hidup yang terbentuk sejak lama.
Baca juga: Mengapa Hidup Terasa Hampa Meski Semua Terlihat Lancar? Ini Penjelasan Psikologi Eksistensial
Defense Mechanism: Saat Otak Memilih Menjauh
Dalam teori Sigmund Freud, tokoh pendiri psikoanalisis, ada konsep yang disebut defense mechanism—cara bawah sadar kita menghindari rasa sakit psikis.
Dua mekanisme yang sering muncul dalam situasi ini adalah:
-
Repression – memendam emosi seolah-olah masalah tidak ada.
-
Avoidance – menjauh dari konflik, seperti tidak membalas pesan, diam saat debat, atau sibuk mencari distraksi.
Kedua mekanisme ini bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan sistem pertahanan alami yang bekerja diam-diam tanpa kita sadari.

Attachment Style: Akar dari Pola Menghindar dari Masalah
Menurut teori attachment dari John Bowlby dan Mary Ainsworth, cara kita membentuk hubungan dan menghadapi konflik banyak dipengaruhi pengalaman masa kecil.
Jika sejak kecil kita dibesarkan di lingkungan yang menuntut mandiri secara emosional, atau tidak aman untuk mengekspresikan perasaan, kemungkinan kita akan mengembangkan avoidant attachment style.
Dalam gaya hubungan ini, seseorang belajar bahwa menunjukkan emosi adalah hal yang berisiko. Akibatnya, ia terbiasa menekan perasaan, menjauh dari konflik, dan menutup diri demi rasa aman.
Baca juga: Introvert Bukan Antisosial: Fakta, Mitos, dan Penjelasan Psikologi
Emotion Regulation: Nggak Semua Emosi Harus Disimpan

Psikolog James Gross lewat Emotion Regulation Theory menjelaskan bahwa manusia mengatur emosi dengan berbagai strategi.
Salah satu yang umum digunakan oleh orang dengan pola avoidant adalah emotional suppression—menahan emosi agar tidak terlihat. Meski terdengar aman, cara ini justru dapat:
-
Memperparah stres
-
Memicu kecemasan
-
Menghambat koneksi emosional yang sehat
Menghindar Bukan Solusi, Tapi Tanda Ada Luka yang Perlu Disembuhkan
Orang yang sering menghindar bukan berarti tidak peduli. Mereka mungkin pernah terluka ketika mencoba terbuka, atau bahkan dihukum saat mengekspresikan perasaan. Menghindar terasa seperti pilihan paling aman.
Namun, masalah yang dihindari tidak akan hilang. Ia hanya “bersembunyi” dan menunggu di kesempatan berikutnya.
Langkah awal untuk berubah tidak selalu harus langsung konfrontasi. Cukup mulai dengan kejujuran pada diri sendiri:
“Aku takut, tapi aku nggak mau terus begini.”
Menghadapi masalah adalah proses, dan setiap langkah kecil menuju keberanian adalah bagian dari penyembuhan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko
























