Malang, Tugumalang.id – Kombucha semakin akrab di tengah masyarakat. Minuman hasil fermentasi teh ini kini mudah dijumpai di kafe, supermarket, hingga toko makanan sehat. Cita rasanya yang asam dengan sensasi berkarbonasi alami menjadi daya tarik utama, sementara kandungan probiotik dan antioksidannya membuat kombucha sering dikaitkan dengan gaya hidup sehat. Meski demikian, manfaatnya bagi kesehatan manusia masih terus diteliti.
Kombucha dibuat dari teh manis yang difermentasi menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yaitu kultur bakteri dan ragi. Proses fermentasi yang umumnya berlangsung satu hingga dua pekan mengubah sebagian gula menjadi berbagai senyawa, termasuk asam organik dan karbon dioksida. Proses inilah yang menghasilkan rasa asam dan gelembung alami pada minuman tersebut.
Bahan baku kombucha tidak terbatas pada teh hitam. Teh hijau maupun jenis teh lainnya juga dapat digunakan. Perbedaan jenis teh, lama fermentasi, hingga cara penyimpanan akan memengaruhi rasa, aroma, dan kandungan senyawa yang dihasilkan.
Salah satu alasan kombucha banyak diminati adalah kandungan mikroorganisme hasil fermentasi yang dikenal sebagai probiotik. Selain itu, karena berasal dari teh, minuman ini juga mengandung antioksidan berupa polifenol yang secara alami terdapat pada daun teh.
Baca juga: 6 Makanan Fermentasi dan Manfaatnya: Dari Kimchi hingga Kombucha
Sejumlah penelitian laboratorium dan penelitian pada hewan menunjukkan kombucha berpotensi memiliki aktivitas antioksidan serta membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di saluran pencernaan. Namun, bukti ilmiah pada manusia hingga kini masih terbatas. Berbagai lembaga dan peneliti menilai masih diperlukan lebih banyak uji klinis untuk memastikan manfaat kesehatan kombucha.
Karena itu, kombucha belum dapat dianggap sebagai minuman yang terbukti mampu mengobati maupun mencegah penyakit tertentu.
Meski umumnya aman dikonsumsi orang sehat dalam jumlah wajar, kombucha tetap perlu diminum secara bijak. Minuman ini memiliki tingkat keasaman yang relatif tinggi dan biasanya masih mengandung sedikit gula, kafein, serta alkohol dalam jumlah kecil yang terbentuk secara alami selama proses fermentasi.
Baca juga: Penyuka Kuliner Jepang Wajib Tahu! Ini Rekomendasi Restoran di Malang yang Tawarkan Cita Rasa Negeri Sakura
U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam laporan kasus tahun 1995 menyoroti pentingnya proses produksi yang higienis. Kombucha yang dibuat dalam kondisi tidak terkontrol berpotensi mengalami kontaminasi mikroorganisme. Sementara itu, tinjauan sistematis yang dipublikasikan di National Center for Biotechnology Information (NCBI) menyimpulkan bahwa bukti klinis mengenai manfaat kesehatan kombucha pada manusia masih terbatas.
Orang dengan daya tahan tubuh lemah, ibu hamil, maupun individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi kombucha, terutama produk yang tidak dipasteurisasi.
Saat ini berbagai produsen menawarkan kombucha dengan tambahan buah maupun rempah untuk memperkaya cita rasa. Konsumen tetap dianjurkan membaca informasi pada label kemasan, termasuk kandungan gula dan petunjuk penyimpanan.
Kombucha dapat menjadi salah satu pilihan minuman sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Namun, minuman ini tidak dapat dijadikan pengganti makanan bergizi ataupun solusi instan untuk menjaga kesehatan karena bukti ilmiah mengenai manfaatnya pada manusia masih terus berkembang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/ Magang
editor: jatmiko
























