Oleh: Irham Thariq*
Ada perjalanan yang memuaskan pikiran. Ada yang memuaskan hati. Ada yang memuaskan ruhani. Perjalanan ngaji ke Gus Baha, Rembang, Jawa Tengah, kali ini termasuk yang komplet memuaskan ketiganya.
Kami janjian kumpul pukul 03.00 dini hari, Rabu, 5 Agustus 2026. Kurang lebih pada jam itu, semua dari kami sudah berkumpul. Sekitar pukul 03.15, Kami berangkat dengan mobil Fortuner. Total isi delapan orang. Semuanya warga Sanan yang tergabung dalam Sanan Community. Ada Gus Bidin, Habib Rudy, Cak Solikhan, Mas Wiwid, Cak Sholeh, Mas Yudi, Daniel, dan saya sendiri.
Berdesak-desakan, tapi enjoy. Menuju perjalanan ruhani. Malang-Rembang. Subuh berkumandang. Kami berhenti di rest area Gresik. Di rest area, kami bertemu dengan rombongan serupa dari Pasuruan. Sudah sekitar dua tahun ngaji rutin setiap bulan ke Rembang. Setelah salat Subuh, foto-foto, merokok satu dua batang, kami tancap gas lagi menuju Tuban. Kami sampai Tuban sekitar pukul 06.30 WIB.
Di tempat ini, kami makan dan ngobrol-ngobrol. Sekitar pukul 08.00 WIB, kami tancap gas lagi menuju Rembang. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, kami tiba di Pondok Pesantren Al Qur’an LP3IA asuhan KH Ahmad Bahaudin Nursalim, kiai kondang tanpa akun media sosial pribadi, yang akrab disapa Gus Baha.
Kami langsung bersiap-siap ikut mengaji kitab Tafsir Jalalain yang rutin dikaji setiap Rabu pertama di setiap bulannya. Kajian ini untuk umum. Dulu dua minggu sekali. Sekarang sebulan sekali.

Baca juga: Ngaji Bareng Gus Baha, Unisma Teguhkan Karakter Aswaja Lewat Alquran dan Hadits
Yang datang dari mana-mana. Pesantren penuh dengan mobil yang parkir. Selain dari Malang dan Pasuruan, ada juga dari Madura, Tuban, Bojonegoro, Pati, dan daerah lain yang tidak sempat penulis tanya-tanya. Lebih dari seribu orang yang hadir. Semua lesehan mengaji kitab legendaris.
”Biasanya ada yang dari Jakarta, ada juga yang dari luar Jawa. Mungkin kalau yang dari luar Jawa itu saat ada acara di Jawa, mampir ikut ngaji,” kata salah seorang peserta.
Ngaji baru dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Sebelum ngaji dimulai, ada aneka macam snack yang dibagikan. Yang bawa para jamaah. Ada ketan. Ada kelepon. Tentu saja ada kopi dan teh yang disiapkan para santri. Obrolan masing-masing peserta cukup gayeng. Ada yang ngebul dengan rokok. Ada yang tidak.
**
Sekitar pukul 11.30 WIB, Gus Baha tiba di musala tempat beliau mengaji. Musala itu persis ada di samping rumah beliau. Saya yang berada di musala bagian luar sempat melihat Gus Baha lewat.
Gayanya tetap sederhana: kopiah hitam, baju putih berkerah, dan sarung goyor. Semua peserta pengajian sudah paham aturan main ngaji di tempat ini: dilarang salaman, dilarang memotret, dilarang memvideo, dan dilarang merekam. Sebagaimana kita tahu, Gus Baha tidak menerima tamu di ndalem beliau. Jika ingin bertamu, maka diharapkan ikut mengaji sebulan sekali. Itu pun para peserta pengajian tidak bisa salaman, juga tidak bisa memberi apa pun kepada Gus Baha. Sebaiknya para pecinta Gus Baha mengaji saja. Karena mengaji dan ilmu adalah kesenangan Gus Baha. Dan para pecintanya juga diharapkan suka terhadap ilmu.
Ngaji kali ini sampai pada surat Al-Mutaffifin, Juz 30. Gus Baha begitu njelentreh menjelaskan setiap ayat. Bahkan, beliau menjelaskan dengan referensi kitab-kitab lain. Tentu saja, dengan gaya ger-geran. Kurang lebih 4,5 jam mengaji, pendakwah kondang KH Thoha Abrori, yang merupakan santri lawas Gus Baha, sering menjadi bahan gojlokan Gus Baha.
”Gimana kira-kira rasanya ya Abror, saat pengajian disambut dengan selawat dan sangat dihormati, tiba-tiba di rumah dimarahi istri dan disuruh ngepel,” kata Gus Baha disambut tawa para peserta pengajian.
Baca juga: Gus Iqdam Bakal Isi Pengajian di Stadion Gajayana Kota Malang Peringati Hari Bhayangkara
Gus Baha juga menjelaskan agar kita selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Bahkan, orang yang miskin akan terhindar dari kemiskinan kalau dalam pikirannya dia tidak merasa miskin. ”Kita juga harus sadar sepenuhnya bahwa kita adalah hamba, yang tidak bisa mengatur semuanya. Saya juga tidak pernah protes kepada pengurus pesantren kalau ada, karena saya sadar saya ini cuma hamba yang tidak bisa mengatur segalanya,” kata Gus Baha.
Gus Baha, sebagaimana ciri khas beliau, selalu menekankan tauhid yang kuat kepada para santri-santrinya. Kata beliau, Allah kita adalah Allah yang sama, yakni yang menciptakan Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW, Donald Trump, dan lain sebagainya.
Kita juga harus sadar menjadi hamba saat di dunia, jangan sampai kita baru sadar saat di akhirat. Gus Baha juga melontarkan guyonan. ”Kira-kira kamu jawab gimana, kalau salat di musala tidak khusyuk, kalau salat di Masjidil Haram khusyuk, kira-kira kamu jawab gimana?” kata Gus Baha disambut ger-geran lagi.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa sejatinya yang ada di dunia ini bukan milik kita. Maka dari itu, beliau jarang sekali komplain. Ini juga yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, bahwa banyak hal-hal penting, tapi tidak beliau wajibkan.
Nabi Muhammad SAW juga sempat dapat protes dari sahabatnya. Dengan demikian, Nabi Muhammad adalah ‘abdun’ atau hamba yang juga pernah diprotes. ”Lha sekarang ulama kok mintanya dimuliakan terus, bahkan kadang ulama oleh umat dimuliakan melebihi nabi, dakwah ada panggungnya megah. Dulu Nabi khutbah terakhir di Arafah, cuma menginjak batu kecil,” kata Gus Baha.

Baca juga: Para Muhibbin Gus Baha
Gus Baha juga mengingatkan agar manusia senantiasa bersyukur. Termasuk bersyukur kepada orang di sekitar kita. ”Karena yang tidak mensyukuri manusia, tidak mensyukuri Allah,” imbuhnya.
Gus Baha juga mendefinisikan orang abror atau orang baik itu adalah orang yang beriman. Karena, sebaik-baiknya amal itu adalah iman, dan seburuk-buruknya amal itu adalah kafir.
Dan orang paling baik di muka bumi ini adalah Nabi Muhammad SAW. Karena, Nabi Muhammad SAW tidak ikut melakukan dosa, yang melakukan dosa umatnya, tapi yang diminta bertanggung jawab beliau. ”Bahkan, ada hadis, syafaatku untuk para pelaku dosa besar untuk umatku,” katanya.
Pengajian sempat break sekitar pukul 14.00 WIB untuk salat Zuhur berjamaah dan makan siang. Semua yang ngaji makan. Ada yang prasmanan, ada yang nasi bungkus. Tidak tahu asal nasi bungkus ini dari mana. Bisa jadi Gus Baha yang menyiapkan, bisa juga para jamaah yang membawa.
Pengajian dimulai lagi sekitar pukul 14.50 WIB. Di sesi kedua saya ikut mengaji dari luar musala. Saya sempat jalan-jalan saat sesi kedua. Ternyata yang ikut pengajian banyak sekali. Semua lesehan. Parkir mobil juga full. Kami memperkirakan sekitar 1.000 orang lebih yang mengikuti pengajian tersebut.
Pada sesi kedua tersebut, salah satu yang dijelaskan Gus Baha adalah soal doa nabi yang meminta miskin. Dalam artian, bukan meminta miskin tidak punya uang, tapi makna miskin di sini Nabi meminta sesuatu keadaan hati yang selalu butuh kepada Allah SWT.
Gus Baha juga menekankan salah satu wirid yang bisa dilakukan, yakni wirid tidak melakukan maksiat.
**
Pengajian selesai sekitar pukul 16.00 WIB. Namun, karena banyaknya mobil yang parkir, mobil kami tidak bisa keluar. Sehingga kami baru bisa keluar sekitar pukul 17.00 WIB.
Perjalanan pulang tidak ada hambatan berarti. Kami berhenti untuk ngopi di Tuban, lalu makan juga di Tuban. Lalu gaspol lagi menuju Gresik.
Baca juga: Di Pesantren Gus Baha, Disambut Para Santri Muda Penghafal Al-Qur’an
Kami masuk tol Gresik. Lalu berhenti untuk ngopi lagi di rest area Sidoarjo. Setelah itu gaspol lagi hingga akhirnya sampai Sanan, Kota Malang, sekitar pukul 00.30 WIB. Dengan demikian, kurang lebih total 21 jam kami melakukan perjalanan, ngaji, lalu perjalanan lagi.
Benar-benar perjalanan ruhani yang memberi makna. Semua peserta, delapan orang dari Sanan, Malang, tampak puas dengan perjalanan ruhani ini.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis CEO Tugu Media Group*
editor: jatmiko


























