Tugumalang.id – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar kegiatan Mbalah Aswaja bareng Gus Baha di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembang Ilmu Alquran (LP3IA), Desa Narukan, Rembang, Jawa Tengah, Rabu, (20/8/2025).
Lewat kegiatan itu, Unisma ingin mengalap berkah ilmu dan wawasan untuk memperkuat karakter Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) melalui pendalaman Al-Quran dan hadis bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
Baca Juga: FK Unisma Buka Gelombang 3 Tahap 2 Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun 2025/2026
Kegiatan Mbalah Aswaja itu dihadiri langsung oleh Rektor Unisma Prof Drs Junaidi Mistar PhD bersama jajaran pengurus yayasan dan sivitas akademika kampus NU tersebut. Kegiatan berlangsung gayeng dan penuh gelak tawa mendengar ceramah Gus Baha.
Rektor Unisma Prof. Junaidi menerangkan bahwa kehadiran sivitas akademika Unisma yang sudah keempat kalinya ke pesantren itu merupakan bagian dari tradisi santri mencari ilmu. Meski sudah lulus dari pesantren, tidak membuat jajaran Unisma untuk berhenti ngangsu kaweruh.

”Tradisi santri itu ya sowan ke kiai. Kami hadir untuk menjalankan hal itu, ngaji, memperkokoh karakter keaswajaan melalui Al-Quran dan hadis. Semoga majelis ini diridai Allah SWT dan menjadi ilmu yang manfaat serta barokah,” ujarnya.
Baca Juga: Catat! Ini Jadwal Pendaftaran Gelombang 3 Tahap 2 Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Unisma
Sementara dalam ceramahnya, Gus Baha memberi banyak wejangan yang dibalut dengan humor. Salah satu yang ia tekankan yaitu bahwa ilmu agama harus mudah diakses dan tidak dibatasi birokrasi.
Ia mencontohkan praktik Nabi Muhammad SAW yang melayani pertanyaan umat secara langsung di ruang publik.

”Jadi, kalau disamaratakan semua harus menunggu ‘semester’ atau jenjang tertentu, orang awam pasti akan kesulitan. Di kampus ada jalur struktural, di masyarakat ada jalur kultural. Tapi tujuannya sama. Jadi keduanya harus saling menguatkan agar ilmu agama bisa diakses oleh semua masyarakat,” kata Gus Baha.
Gus Baha juga menyinggung ihwal fikih haji badal yang kerap disalahpahami. Ia mengingatkan bahwa niat menjadi pondasi ibadah.
Ia mengibaratkan bahwa membantu orang naik haji orang yang semasa hidup tak berkomitmen ibadah haji tidak serta-merta menjadi pahala.
”Sering kali itu hanya urusan administrasi waris. Idealnya, selama masih hidup dan mampu, seorang muslim yang berniat akan berikhtiar menunaikan hajinya,” paparnya.
Di sisi lain, adab sosial dalam Islam juga turut harus digarisbawahi. Antara lain pemisahan ruang privat, publik Nabi, etika bertanya, serta kepekaan terhadap kebutuhan keagamaan perempuan.
Menurut Gus Baha, pengelolaan ilmu Islam yang luwes, baik melalui lembaga pendidikan maupun majelis taklim adalah ciri karakter Aswaja yang mengedepankan kemaslahatan.
Pengajian Mbalah Aswaja di LP3IA Rembang ini menjadi ruang refleksi bagi rombongan Unisma dan jamaah yang hadir: menghidupkan tradisi ngaji, menjaga etika keilmuan, sekaligus mengaplikasikan nilai Aswaja dalam keseharian kampus dan masyarakat.
Mbalah Aswaja ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperdalam pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam dengan pendekatan Aswaja yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin.
Dari situ diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun karakter masyarakat yang lebih baik dan lebih kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
”Kami datang untuk belajar dan terus berusaha menghadirkan ilmu yang membentuk karakter, bukan sekadar pengetahuan,” tutup Prof. Junaidi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























