Oleh: Irham Thoriq*
Ahmad, baru lulus dari kampus negeri di Malang, sudah 15 kali melamar pekerjaan. 13 kali dipanggil untuk tes, dua kali tidak dipanggil tanpa tahu alasannya.
15 kali pula dia gagal. Dua bulan lagi dia mau menikah. Tapi, Ahmad tetap optimistis. Di tengah kegelapan yang dia alami saat ini, dia yakin suatu saat ada cahaya terang: dia bisa bekerja dan bebas finansial di kemudian hari. Dia merasa punya passion bekerja di sektor formal, dan dia ingin mewujudkannya.
Aldo, orang lain, lulusan dari kampus yang sama. Sudah 17 kali melamar pekerjaan, tapi belum ada yang nyantol. Ada sekali yang nyantol, tapi dia mau ditempatkan di Semarang, tapi tidak dia ambil.
Dia ingin bekerja di Malang. Sambil menemani ibunya yang berusia senja. Setiap kali gagal diterima kerja, Aldo selalu punya alasan untuk bangkit. Kadang dia pusing seharian, tapi akhirnya dia kembali semangat untuk melamar pekerjaan. Saat gagal, biasanya dia membaca Al-Qur’an dan merelaksasi pikirannya dengan apa yang membuat tenang, seperti merokok. Tidak lama setelah itu, Aldo perlahan mulai bangkit lagi.
Ahmad dan Aldo sama-sama tangguh. Tapi, keduanya berbeda. Ahmad secara tidak sengaja ‘mengamalkan’ teori grit. Dan Aldo ‘mengamalkan’ teori resilience.
Sesuai namanya, grit berarti batu kerikil. Yang tentu saja tahan banting. Batu kerikil sulit pecah, meski ditimpa beban seberat apa pun.
Orang yang mempunyai grit berarti dia mempunyai passion, gairah, dan dipadukan dengan keteguhan hati, kegigihan, dan keberanian.
Angela Duckworth dalam bukunya menyebutkan orang yang mempunyai kegigihan mungkin sesekali kecewa dan bosan. Namun, itu tidak mengubah haluan mereka.
Baca juga: Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan
Sebagaimana contoh Ahmad di atas, dia melamar pekerjaan, dia bergairah ingin menjadi seorang profesional yang bekerja di sektor formal. Dia gigih karena selalu melihat cahaya di masa depan.
Sedangkan resilience adalah kemampuan untuk pulih setelah terpuruk. Jika grit lebih membahas gairah dan passion seseorang dalam mengejar masa depan, resilience lebih pada bagaimana seseorang beradaptasi, bertahan, dan cepat pulih setelah mengalami trauma, krisis, dan kegagalan.
Grit dan resilience tentu saja perlu dimiliki oleh banyak orang di lintas profesi. Karena, kadang hidup berjalan dengan tidak baik-baik saja.
Di dunia usaha misalnya, pengusaha yang mempunyai grit tetap akan bekerja penuh dengan passion, meski selama 5 tahun berjalan, usahanya belum membuahkan hasil maksimal. Dia tetap bergairah meski usahanya masih jalan di tempat.
Baca juga: Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Sedangkan resilience bagi seorang pengusaha, bagaimana dia bisa bangkit dari kebangkrutan, dan bagaimana mereka tetap dinamis di tengah ketidakpastian.
Grit dan resilience bisa terus ditumbuhkan bagi lintas generasi. Keduanya bisa dipupuk, dilatih, dan dikembangkan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya tangguh, tapi juga punya gairah dari waktu ke waktu.
Karena kita semua tahu: hidup tidak hanya menyajikan jalan yang landai, tapi kadang juga berkelok, terjal, dan penuh ketidakpastian.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Mahasiswa Magister Psikologi UIN Malang dan CEO Tugumalang.id
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com































