Oleh: Irham Thoriq*
Secara umum, berdasarkan pengamatan saya yang tanpa teori, setidaknya ada dua jenis manusia. Pertama, manusia yang serba teratur. Sistematis. Dia tahu tahun depan mau ngapain. Tahun ini apa saja yang harus dilakukan. Sedangkan yang kedua, orang yang suka dengan ketidakteraturan.
Dia cenderung zig-zag. Asal melangkah. Sedikit berpikir. Maju dulu. Tempur. Lalu, kalau sudah babak belur, dapat pelajaran. Diperbaiki sedikit demi sedikit. Dan tampaknya, yang jenis kedua ini adalah saya. Semua serba mengalir. Dan kadang melakukan langkah-langkah besar juga tanpa rencana yang sistematis.
Mungkin karena terlalu zig-zag inilah, saya tergolong orang yang terlambat studi lanjut Magister (S2). Sebelum lulus kuliah Sarjana pada 2013, saya sudah bekerja sebagai wartawan. Setelah lulus, saya gaspol kerja terus. Nyaris tidak ada kepikiran S2. Terlebih, saat sarjana, saya punya prinsip: pokoknya lulus. Skripsi gak perlu bagus-bagus.
Lalu, pada 2019, saya mendirikan perusahaan yang juga tanpa sengaja. Panjang ceritanya. Mungkin lain kali saya ceritakan. Perusahaan media, Tugu Media Group, yang kini punya dua entitas perusahaan, yakni tugumalang.id (PT Tugu Media Komunikasindo) dan tugujatim.id (Tugu Sejahtera Nusantara).
Baca juga: Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Singkat cerita, saya baru kuliah magister di kampus yang sama, yakni Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang, pada 2026. Berjarak 13 tahun dari waktu kuliah. Meski sudah memulai perkuliahan, masih ada pertanyaan yang belum sepenuhnya hilang: pentingkah kuliah S2?
Pertanyaan ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Saat baru lulus kuliah S1, saat ada pertanyaan tidak lanjut kuliah S2, dalam hati pasti saya bergumam: tidak ah, buat apa. Tidak ingin jadi dosen, dan lain sebagainya.
Pertanyaan S2 penting apa tidak, tentu akan mudah dijawab bagi mereka yang punya goal jelas, yakni ingin jadi dosen atau ingin naik pangkat dengan S2 yang ditempuh. Dan bagi goal-nya yang tak jelas, kayak saya ini, kuliah S2 penting atau tidak masih penuh dengan perdebatan.
Namun, saya agak sepakat dengan argumentasi Dokter Tirta, yang menyebut kuliah S2 penting jika tujuannya memperbaiki pola pikir. Kata Dokter Tirta, setiap lembaga pendidikan punya tujuannya masing-masing. Kita sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), tujuannya adalah bermain. Jangan sampai, di TK anak-anak diminta belajar dan berhitung.
Begitu juga dengan Sarjana, kata Dokter Tirta, adalah mahasiswa diajari cara mencari uang. Mungkin karena ini, umumnya ketika seseorang lulus S1, maka langsung kerja. Ini mayoritas. Sangat sedikit sekali yang langsung S2. Kecuali, yang orang tuanya kaya, atau orang yang bingung mau kerja apa, maka S2 bisa menjadi alternatif. Atau yang targetnya ingin jadi dosen, maka wajib langsung S2.
Sedangkan S2, kata Dokter Tirta, adalah momen untuk meng-upgrade pola pikir. Meskipun, kuliah S2 bukan satu-satunya cara untuk upgrade itu. Bisa misalnya upgrade dengan ikut kursus seperti kursus bulan lalu yang saya ikuti, Grounded Bussines Coaching lead by Coach Fahmi. Kursus seperti ini bagus untuk meningkatkan pola pikir dan juga menambah pemahaman tentang suatu hal.
Baca juga: SEKATEN
Namun, kata Dokter Tirta, ada orang yang upgrade pola pikir tidak merasa cukup dengan kursus. Mereka perlu S2. Dan jika niat mereka adalah upgrade pola pikir, maka inilah alasan yang benar, kata Dokter Tirta.
Saya setuju dengan Dokter Tirta. Meskipun saya baru satu pekan kuliah S2. Jangan dibayangkan kuliah S2 sama dengan S1. Semuanya hampir berbeda. Jika S1 lebih banyak memahami teori dan omon-omon, kuliah S2 lebih banyak riset dan ending dari kuliah adalah produk.
Saat kuliah kemarin, ada dosen yang meminta goal perkuliahannya submit jurnal, ada yang ending-nya membuat buku, dan ada yang membuat book chapter, dan lain sebagainya. Intinya, goal-nya adalah produk.
Mungkin ini yang akan membuat pemikiran kita upgrade. Karena lebih banyak experiens dalam perkuliahan S2. Tidak hanya mendengarkan dosen ceramah.
Lalu, kembali kepada pertanyaan di atas, apakah kuliah S2 penting? Maka jawabannya bisa penting, bisa tidak. Penting bagi kamu yang ingin berkarier di dunia akademik menjadi dosen, peneliti, dan pengajar. Penting juga bagi yang ingin naik pangkat.
Penting juga bagi yang ingin upgrade pengetahuan dan mencari peluang baru. Namun, tidak penting bagi yang merasa upgrade pengembangan diri tidak harus kuliah. Bisa dengan kursus, membaca buku, belajar pada orang lain, dan lain sebagainya.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, mungkin satu hal yang penting menurut saya: kita harus terus-menerus belajar, baik sedang kuliah atau tidak sedang kuliah. Dan ini jugalah yang diajarkan Islam, yakni menuntut ilmu dari buaian ibu hingga liang lahat.
*Penulis adalah mahasiswa Magister Psikologi UIN Maliki Malang dan CEO tugumalang.id.
editor: jatmiko































