Oleh: Irham Thoriq
Jangan pernah meragukan bagaimana Islam dan kerajaan jawa benar-benar menyatu.
Tadi malam, di sela perjalanan Wonosobo-Malang, saya mampir makan di alun-alun utara, Solo, Jawa Tengah.
Saat mau pulang, saya bertanya kepada tukang parkir kok ramai sekali ada apa. Seperti pasar malam.
“Ini sekaten mas, dalam rangka Maulid Nabi, sebulan penuh,” kata si tukang parkir.
Karena inilah saya penasaran dengan sekaten. Lalu merisetnya di internet.
KRT Haji Handipaningrat dalam karya “Perayaan Sekaten,” di mana istilah Sekaten memiliki akar pada kata Arab yaitu “Syahadatain,” yang mencerminkan arti kesaksian iman (syahadat).
Wali songo yang menyebarkan islam, mencoba mengalkuturasi budaya dengan dakwah islam.
Baca juga: Wajib Tahu! Inilah 5 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Daerah yang Cukup Populer
Karenanya, di sekaten ada penampilan gamelan untuk mengiringi shalawat. Ini karena masyarakat jawa suka dengan gamelan. Gamelan tahun ini rencananya akan ditabuh terus menerus selama sepekan.
Kini, sekaten menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Selain pasar rakyat, penabuhan gamelan, ada grebek maulud di mana hasil bumi keraton akan diperebutkan oleh masyarakat.
Dengan aneka macam perayaan tersebut, bisa jadi peringatan maulid oleh keraton solo ini salah satu yang terbesar di dunia. Satu bulan penuh dan melibatkan puluhan ribuan orang. Bisa jadi, orang yang biasanya tidak mengenal nabi, karena program ini, diam-diam mulai memperlajari, mengenali, mencintai dan meneladani sang rosul.
Ini juga menunjukan ekspresi cinta bisa banyak jenisnya.
Pertanyaannya, sudah secinta apa kita kepada makhluk paling mulia di muka bumi ini?
mari kita jawab di hati kita masing-masing.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Irham Thoriq* (CEO Tugu Media Group)





























