Oleh: Ahmad Wildan Afif, M.Pd
SETIAP orang tua tentu menginginkan anaknya aman, seperti memasang pagar di rumah agar anak tidak jatuh.
Kemudian menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan. Lalu, sebagai orang tua memilih sekolah terbaik, makanan terbaik, pakaian terbaik, bahkan berusaha memberikan masa depan terbaik.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, apakah sebagai orang tua sedang mempersiapkan anak untuk menjalani kehidupannya, atau hanya berusaha menjauhkan anak dari semua kesulitan?. Pertanyaan ini penting karena dunia tempat anak tumbuh tidak pernah benar-benar tidak ada masalah.
Anak akan menghadapi kegagalan, penolakan, kehilangan, tekanan sosial, persaingan, perubahan teknologi, bahkan berbagai pilihan moral yang tidak selalu dapat dijawab untuk mereka.
Orang tua tidak mungkin selamanya berdiri di samping anak. Suatu hari, tangan yang dahulu kita genggam ketika menyeberang jalan akan terlepas. Anak akan pergi ke sekolah sendiri, memilih teman sendiri, mengambil keputusan sendiri, memasuki dunia kerja, membangun keluarga, dan menghadapi ujian yang tidak dapat diwakilkan oleh orang tua.
Maka, tugas parenting sesungguhnya bukan hanya menjaga anak agar tidak jatuh, tetapi juga membekali anak agar ketika jatuh, ia tahu bagaimana bangkit sebagaimana kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Al-Qur’an tidak menggambarkan Nabi Ibrahim AS hanya sebagai seorang ayah yang memberikan perintah kepada anaknya.
Dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102, ketika menerima perintah Allah swt. yang sangat berat, Nabi Ibrahim AS justru mengajak Nabi Ismail AS mempertimbangkan pendapatnya. Sebagaimana termaktub dalam ayat tersebut:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah swt.) kepadamu! InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar”.
Sebuah kalimat sederhana, tetapi memiliki makna luar biasa. Seorang ayah yang memiliki otoritas memilih untuk berdialog. Seorang Nabi yang mengetahui perintah Allah swt. tetap memberikan ruang kepada anaknya untuk menyampaikan pendapat.
Parenting Nabi Ibrahim AS sangat relevan bagi orang tua masa kini. Sebab persoalan parenting modern bukan hanya tentang kurangnya kasih sayang.
Terkadang masalahnya justru karena kasih sayang tidak diikuti dengan cara yang tepat. Orang tua melindungi anak, tetapi terlalu mengontrol. Bermaksud mendidik anak, tetapi terlalu banyak menggurui. Mencintai anak, tetapi jarang mendengarkan. Ingin melihat anak sukses di masa depan, tetapi lupa mengajarkan bagaimana menghadapi kegagalan.
Pengasuhan Nabi Ibrahim AS memberikan pelajaran berbeda, anak harus memiliki akar yang kuat, hubungan yang hangat, ruang untuk bertumbuh, dan ketangguhan untuk menghadapi kehidupan.
Root: Sebelum Membangun Masa Depan Anak, Bangun Akar/Pondasi
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 127–129, Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS terlibat dalam pembangunan Ka’bah. Setelah itu mereka berdoa agar amal ibadah dan kebaikan mereka diterima oleh Allah swt., agar keturunan mereka dijadikan umat yang tunduk kepada-Nya dan agar Allah swt. mengutus seorang Rasul yang mengajarkan kitab, hikmah, serta mensucikan mereka.
Pelajaran penting yang sedang diterapkan Nabi Ibrahim AS adalah bahwa masa depan anak tidak pertama-tama dibangun dari prestasi, tetapi dari fondasi nilai. Visi itu harus dimulai dari rumah, bukan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.
Karena itu, parenting Ibrahim dimulai dari Root. Akar itu adalah tauhid, akhlak, tanggung jawab, kejujuran, ibadah, dan kesadaran bahwa kehidupan memiliki pertanggungjawaban kepada Allah swt. kelak di akhirat. Manusia terkadang lupa bahwa visi dan misi utamanya ia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt. (QS. Adz-Dzariyat ayat 56). Pertanyaan orang tua seharusnya tidak hanya, “Anakku nanti mau menjadi apa?”, tetapi juga, “Anakku nanti ingin menjadi manusia seperti apa?”.
Orang tua harus hadir dalam membangun pondasi anak. Edukasi terkait bagaimana menjadi manusia yang menggunakan segala fasilitas yang ia miliki, baik itu fasilitas fisik atau non fisik yang ia gunakan untuk semata-semata ibadah kepada Allah SWT.
Manusia yang sadar akan tanggung jawabnya, tidak akan pernah berani untuk menyalahgunakan kepada hal-hal yang tidak baik. Justru ia akan lebih humanis (memanusiakan manusia), sayang kepada semua makhluk, sebagaimana teladan Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi seluruh alam dan akan terus menebarkan kebaikan dan manfaat bagi sekitarnya.
Relate: Anak Tidak Hanya Membutuhkan Orang Tua Yang Hadir, Tetapi Orang Tua Yang Terhubung
Banyak orang tua hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir secara emosional. Ayah pulang ke rumah, tetapi sibuk dengan telepon genggam. Ibu berada di samping anak, tetapi pikirannya dipenuhi pekerjaan.
Anak berbicara, orang tua mendengar sekilas. Anak bercerita, orang tua langsung memberikan nasihat. Padahal, terkadang anak tidak membutuhkan nasihat terlebih dahulu. Ia membutuhkan telinga untuk didengar.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS memperlihatkan pentingnya hubungan dialogis antara ayah dan anak. Ungkapan “Ya bunayya”, wahai anakku menunjukkan kedekatan yang penuh kelembutan sebelum masuk kepada pembicaraan yang sangat berat. Ini merupakan parenting dalam upaya membangun bonding (membangun kedekatan emosional) yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim.
Penulis sendiri merupakan ayah dari 2 anak. Dalam keterbatasan waktu untuk membersamai, saya selalu memotivasi diri sendiri bahwa saya harus menjadi ayah yang benar-benar “hadir” dalam kehidupan mereka meskipun dengan waktu yang tidak banyak.
Mulai dari pembiasaan jalan kaki bersama menuju tempat Shalat, pergi belanja snack, minuman, atau barang yang ia sukai, meluangkan waktu untuk bermain, bahkan kadang hanya sekadar berjalan atau naik kendaraan berdua tanpa tujuan tertentu.
Dari pengamatan penulis, hasil dari bonding yang di lakukan adalah anak-anak lebih mudah untuk diberi nasihat, mereka antusias saat penulis pulang ke rumah (bahkan mendengar suara kendaraan mereka sudah menatap dari jendela lalu keluar rumah untuk menyambut). Dua hal terjadi sekaligus: anak bersuka cita menyambut, dan rasa lelah penulis pun seolah hilang.
Menjadi orang tua memang tugas mulia dalam upaya membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk berbicara, bercerita, bertanya, bahkan berbeda pendapat. Hal ini sesuai kajian tentang father involvement juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah merupakan aspek penting dalam kesejahteraan keluarga dan perkembangan anak.
Release: Mendidik Anak Bukan Berarti Mengendalikan Seluruh Hidupnya
Dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102, Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah swt. kepada Nabi Ismail AS dan membuka ruang bagaimana responnya. Ini menunjukkan bahwa anak perlu dilatih belajar berpikir, memilih, dan bertanggung jawab. Tidak semua hal harus ditetapkan lewat keputusan mutlak orang tua. Salah satu pelajaran paling menarik dari parenting Nabi Ibrahim AS.
Menurut teori parenting modern, pendekatan yang memberi ruang bagi anak untuk berkembang sebagai individu dikenal sebagai autonomy support. Dalam parenting Nabi Ibrahim AS, memberikan ruang bagi anak tetap didasari oleh batasan nilai-nilai atau moral sehingga tidak terlalu bebas.
Parenting demikian disebut bounded autonomy, kemandirian yang memiliki batas moral. Maka, orang tua perlu berhenti untuk menyodorkan kalimat karena Ayah dan Ibu lebih tahu!, sudah nurut saja apa kata Ayah/Ibu, atau kamu itu anak kecil tahu apa?, sebagai jawaban untuk setiap pertanyaan anak.
Ada saatnya kita perlu berkata, menurutmu bagaimana?, bagaimana tanggapanmu tentang ini?. Kalimat sederhana seperti itu dapat mengubah posisi anak dari sekadar objek pengasuhan menjadi subjek pendidikan.
Resilience: Jangan Jadikan Anak Rapuh Karena Terlalu Banyak Dilindungi
Penulis lambat laun menyadari bahwa ada sebuah paradoks dalam parenting. Selalu ingin anak tidak terluka, tetapi kehidupan pasti memberikan luka. Orang tua ingin anak tidak gagal, tetapi kegagalan adalah bagian dari pembelajaran.
Kita ingin anak selalu bahagia, tetapi manusia tidak mungkin hidup tanpa kesedihan. Karena itu, perlindungan terbaik tidak selalu datang dengan menghilangkan semua masalah anak. Kadang-kadang perlindungan terbaik adalah membekali anak agar mampu menghadapi masalah. Menjadi pribadi yang tahan banting, yang disebut Resilience.
Kisah Nabi Ismail AS menegaskan bahwa ia tidak tumbuh sebagai anak yang hanya mengenal kenyamanan. Ia tumbuh dalam lingkungan tauhid, doa, keteladanan, kerja keras, dan ujian. Hasilnya bukan sekadar anak yang patuh, tetapi sosok yang menunjukkan keteguhan ketika menghadapi ujian yang sangat berat.
Orang tua tidak mungkin menghapus seluruh masalah dari kehidupan anak. Tetapi orang tua dapat memberikan keyakinan, nilai, keterampilan mengambil keputusan, kemampuan mengelola emosi, keberanian menghadapi kegagalan, dan hubungan yang membuat anak tahu bahwa ia tidak sendirian.
Konsep 4R Parenting: Dari Protecting Menuju Preparing
Dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, penulis menawarkan sebuah konsep praktis bernama 4R Parenting.
· Root: Bangun akar Tauhid, akhlak, integritas, tanggung jawab
· Relate: Bangun hubungan hadir, mendengar, berdialog, empati
· Release: Berikan ruang anak berpikir, memilih, dan bertanggung jawab
· Resilience: Bangun ketangguhan latihan menghadapi masalah, gagal, dan bangkit
Konsep 4R akan lebih bermakna dengan menerapkan Ibrahim Family Lab, yaitu ruang latihan keluarga yang dilakukan secara rutin menyesuaikan waktu dan kondisi masing-masing keluarga.
Root Talk, orang tua selama sekitar 15 menit dapat mendiskusikan suatu nilai yakni kejujuran, amanah, salat, tanggung jawab, atau syukur. Bukan ceramah satu arah, orang tua bertanya menurut kamu, mengapa nilai ini penting?.
Lalu Relate Time, anak diberi kesempatan menceritakan satu hal yang membuatnya bahagia, sedih, takut, malu, atau bangga. Tugas pertama orang tua adalah mendengar, bukan langsung menyelesaikan.
Sementara soal Release Challengge tentang bagaimana anak diberi satu tanggung jawab yang sesuai usia, seperti mengatur jadwal belajar, menyiapkan perlengkapan sekolah, mengelola uang saku, atau menyelesaikan masalah sederhana. Orang tua mendampingi tanpa mengambil alih.
Sedangkan Resilience Reflection, di mana keluarga menjawab tiga pertanyaan, apa kesulitan yang kita hadapi?, apa yang kita pelajari? Apa yang harus kita perbaiki minggu depan? kemudian ditutup dengan doa bersama.
Pada akhirnya, setiap orang tua akan menghadapi kenyataan yang sama: anak akan tumbuh dan meninggalkan rumah. Tangan yang dulu digenggam akan menjadi tangan yang mengambil keputusan sendiri.
Mata yang dulu mencari orang tuanya ketika takut akan memandang dunia yang lebih luas. Pada saat itu, kita tidak dapat selalu berada di samping mereka. Tidak bisa menelepon anak setiap kali ia menghadapi masalah. Orang tua tidak bisa memilihkan semua temannya, tidak bisa menghapus semua kegagalannya. Bahkan tidak bisa memastikan bahwa hidupnya selalu berjalan sesuai rencana.
Lalu apa yang dapat kita wariskan? Bukan sekadar rumah. Bukan sekadar tabungan, bukan sekadar ijazah. Tetapi akar yang membuatnya tidak kehilangan arah, hubungan yang membuatnya tahu ke mana harus pulang, ruang yang membuatnya mampu berdiri sendiri, dan ketangguhan yang membuatnya tidak mudah runtuh.
Itulah yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Ibrahim AS. Ia tidak sekadar membesarkan Nabi Ismail AS. Ia menyiapkan seorang manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Tuhannya, mampu berdialog, mampu mengambil sikap, dan sanggup menghadapi ujian.
Maka mungkin sudah waktunya kita mengubah definisi tentang menjadi orang tua. Orang tua adalah mereka yang berhasil membuat anak memiliki bekal untuk tetap bertahan ketika dunia tidak selalu aman kepada mereka.
Jika biasanya sebagai orang tua bertanya kepada diri sendiri, apa yang akan saya berikan kepada anak saya?, maka sekarang mulailah dengan bertanya manusia seperti apa yang sedang saya bangun melalui cara saya mengasuhnya?.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah akademisi dan praktisi Pendidikan Islam, Muallim sekaligus Mushahih di UIN Malang dan Tutor Universitas Terbuka. Penulis juga pengajar di SMP Nurul Huda Mergosono, Kota Malang.
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.































