Oleh: Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog
SUATU waktu mungkin kita pernah bertemu dengan sosok teman, orang yang baru kita kenal, atau siapa pun yang sedang terpuruk.
Saat ia bercerita tentang persoalan atau masalahnya, acap kali kita ikut terlarut dalam kesedihan atau kemarahannya.
Secara naluriah kita akan berusaha membuatnya tenang atau merasa lebih kuat menghadapi masalahnya. Selain kata sabar dan kuat, kalimat yang paling sering kita ucapkan atau kita dengar saat menguatkan orang lain adalah kamu tidak sendirian.
Kata-kata ini bukan sekadar hiburan belaka. Ia adalah kesimpulan dari sebuah fakta yang mungkin tidak pernah tertulis, bahwa semua manusia di muka bumi ini sedang bergulat dengan sedih, sakit, kecewa, atau bahkan putus asa.
Penyebabnya bisa berbeda, bisa juga serupa, namun yang pasti, tidak ada satupun orang yang benar-benar baik-baik saja sepanjang waktu. Hanya saja, mungkin ia sedang berusaha berjuang, bertahan, atau bertaruh dengan keadaannya.
Lantas, benarkah kita tidak sendirian? Iya, benar. Kita sedang bersama-sama dengan orang lain, berusaha melewati setiap tapak perjalanan kehidupan yang sulit dan menantang.
Namun mengapa yang tampak di permukaan seakan kehidupan orang lain lebih menyenangkan dari kehidupan kita?. Jawabannya sederhana, karena setiap individu itu unik, maka setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya.
Baca juga: Bertahan, Bukan Menyerah!
Seperti halnya tangis tidak selalu berarti kesedihan, dan senyum tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari cerita besar yang sedang dijalani seseorang.
Jika seseorang memang tipe orang yang tidak bisa tidak membandingkan diri dengan orang lain, maka silahkan bandingkan namun bukan hanya tentang betapa sukses atau bahagianya mereka. Bandingkan pula bagaimana pergulatan mereka menghadapi persoalan hidup, bagaimana mereka bangkit dari jatuh yang sama beratnya, bagaimana mereka juga pernah menangis di balik pintu yang tertutup rapat.
Dengan begitu, perbandingan tidak lagi melahirkan rasa rendah diri, melainkan rasa syukur dan kelegaan bahwa kita tidak sedang berjalan sendiri di lorong gelap kehidupan.
Kesulitan yang kita alami hari ini bukanlah tanda bahwa kita gagal atau kurang beruntung dibanding orang lain. Ia adalah bagian dari perjalanan yang memang harus dilalui setiap manusia, dengan bentuk dan waktunya masing-masing.
Baca juga: Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak
Maka, izinkan diri untuk tidak selalu tampak kuat. Izinkan diri untuk beristirahat sejenak, menangis jika perlu, dan bangkit kembali dengan cara yang sesuai dengan diri sendiri, tanpa harus menyamai ritme orang lain.
Pada akhirnya, kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa jarang kita jatuh, melainkan pada keberanian untuk terus bangkit, sekecil apa pun langkah itu. Dan yakinlah, di suatu tempat, ada orang lain yang sedang berjuang dengan caranya sendiri, tepat seperti kita. Bahwa kita tidak sendirian, melainkan sedang berjalan bersama, meski di jalan yang berbeda-beda.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang)
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com































