Senin, Oktober 12, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Redaksi by Redaksi
Agustus 27, 2026 10:59 am
in Ruang Cendekia
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Irham Thoriq. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Irham Thoriq*

Tugumalang.id – Kuliah kadang bukan tentang apa yang kita pelajari. Tapi, tentang apa yang tersisa dari ingatan. Ingatan tentang teori, tentang proses belajar, interaksi dengan teman dan tentang iklim akademik.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Terlebih, bagi saya yang terakhir kuliah 2013 silam. Artinya, sudah 13 tahun saya tidak mengenyam bangku perkuliahan.

Ada sedikit yang saya ingat. Tapi, mayoritas saya sudah melupakan aneka macam teori yang saya pelajari di bangku sarjana.

Di sela Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Magister Psikologi UIN Malang, Selasa (26/8/2026), saya berpikir agak keras.

Apa yang lebih penting dari sebuah teori, dalam sebuah proses perkuliahan. Apalagi, saat ini eranya akal imitasi (AI) yang dengan mudah kita bisa mengumpulkan banyak teori, lalu menghafalkannya.

Baca Juga: Jadi Sarjana Lebih Cepat, Ini Keunggulan Program RPL S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unisma

Dari berpikir singkat itu, saya menemukan dua kata: experience dan kesadaran. Saya kira, dua kata inilah yang penting untuk saya lakukan saat kuliah Pascasarjana.

Dua kata itu muncul setelah saya menarik ingatan saat masuk Sarjana Psikologi UIN Malang, pada 2008 silam atau 18 tahun silam.

Saat itu, tentu saja saat saya masih culun, yang saya ingat adalah dosen yang mengajak mahasiswa berpikir. Tidak hanya menghafal teori.

Yang saya ingat juga saat saya dua kali tidak lulus di mata kuliah tententu. Hingga proses interaksi dengan teman dan dosen yang intens. Yang saya ingat juga dosen yang mengajak mahasiswanya aktif membaca buku.

Baca Juga: Wholehearted Service, Our Experience at Hospital Penawar Johor, Malaysia

Momen-momen yang saya sebut sebagai sebuah experience itulah yang saya ingat. Sedangkan saya cenderung mudah lupa terhadap proses perkuliahan yang hanya menghafalkan teori.

Di Pascasarjana, tentu saja experience -nya bisa berbeda. Di sini, experience-nya bisa jadi dengan cara meruntutkan cara berpikir. Memadukan teori dengan dunia nyata saya, khususnya dalam bidang bisnis, media, dan mengelola orang. Dan bukan tak mungkin, apa yang bisa dibisniskan dari Ilmu Psikologi ini.

Memadukan dunia perkuliahan dengan dunia nyata adalah tantangan. Dalam Islam, disebutkan bahwa aneka macam peristiwa adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang berpikir. Tanda-tanda itulah, yang perlu kita padukan. Connecting the dots, meminjam istilah Steve Jobs.

Karenanya, saya selalu yakin, dunia kuliah seharusnya menyatu dengan dunia industri. Keduanya bisa saling menguatkan, dan tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Ini bisa kita dapatkan, tentu saja ketika kita berpikir, lalu mencoba mempraktikkannya.

Experience inilah yang menjadi tantangan. Bagaimana perkuliahan yang mungkin singkat, yakni dua tahun ini, juga berdampak bagi kehidupan kita yang lain: yakni karier profesional, usaha, keluarga, hingga kehidupan sosial.

Sedangkan kata lain yang menurut saya cukup penting adalah kesadaran penuh. Kita akan meraih puncak potensi kita, saat kita hadir dengan kesadaran penuh.

Saat kita hadir dengan kesadaran penuh, kita tidak hanya datang, tapi juga menyelami dan mamaknai. Kesadaran penuh kalau dalam salat bisa dibilang khusuk. Karena manjurnya kesadaran penuh ini, orang yang khusuk dalam salatnya maka dia akan terhindar dari prilaku keji dan perbuatan tercela.

Kalau ada orang salat tapi masih berbuat jahat, bisa jadi dia salat tidak dengan kesadaran penuh. Ini bukan kata saya, tapi kata Allah SWT dalam Alqur’an.

Tulisan ini juga sebagai pengingat saya, agar bisa kuliah Pascasarjana, dengan dua hal tadi: tidak ragu melakukan experience, dan hadir tidak hanya hadir, tapi melakukannya dengan kesadaran penuh.

Jika dua hal itu konsisten saya lakukan, maka saya yakin: ini adalah investasi paling berhasil untuk kehidupan saya di massa mendatang.

Saya yakin, padi yang dipanen hari ini, tidak ditanam kemarin sore.

 

*Penulis adalah Founder Tugu Media Group (tugumalang.id dan tugujatim.id), saat ini menempuh Magister Psikologi di UIN Maliki Malang.

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: pascasarjanapsikologitugu media groupUIN Malang

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Cak Imin Minta BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja Migran

Cak Imin Minta BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja Migran

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.