Minggu, Oktober 11, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU

Redaksi by Redaksi
Agustus 14, 2026 12:37 pm
in Ruang Cendekia
Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Mastur Sonsaka*

Ada sesuatu yang menarik sekaligus menggelitik ketika kita menempatkan tiga peristiwa yang terpisah jauh oleh waktu di atas peta yang sama: Sungai Tambakberas. Di sana, pada 1295, darah kesatria Majapahit mengalir. Di sana pula, dua abad lalu, sebuah pesantren sederhana tumbuh dari hutan. Dan di sana, pada Agustus 2026, organisasi Islam terbesar di Indonesia akan menentukan nasibnya sendiri.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Pertempuran Tambakberas bukan sekadar catatan sejarah lokal. Ia adalah cermin paling awal dari kerapuhan politik internal sebuah kekuatan besar. Ranggalawe memberontak bukan karena ia ingin menghancurkan Majapahit, melainkan karena merasa diabaikan dalam pembagian kekuasaan. Intrik, kecurigaan, dan pembunuhan antar-kerabat sendiri menjadi harga yang harus dibayar.

Majapahit menang secara militer, namun kehilangan sebagian legitimasi moral dan wilayah. Pelajaran yang seharusnya tidak dilupakan: konflik internal yang tidak dikelola dengan adil dan bijak selalu meninggalkan luka yang lebih dalam daripada musuh dari luar.

Baca juga: Anak Muda dan Pengasuh Pesantren di Malang Berkumpul Jelang Muktamar NU, Hasilkan 9 Seruan Moral yang Penting

Enam abad kemudian, di tanah yang sama, KH Abdussalam membuka padepokan. Dari tempat penjemuran beras milik keluarga Kiai Hasbullah, lahir nama Tambakberas. Dari sana pula lahir KH Abdul Wahab Hasbullah-tokoh yang tidak hanya mendirikan pesantren, tetapi turut merancang Nahdlatul Ulama.

Ironis sekaligus indah: tempat yang pernah menjadi arena perebutan kekuasaan duniawi berubah menjadi pusat pembentukan kekuatan moral dan intelektual. Mbah Wahab tidak memilih jalan konfrontasi berdarah. Ia memilih organisasi, pendidikan, dan ukhuwah. Itu adalah jawaban sejarah atas trauma politik masa lalu.

Kini, ketika PBNU menetapkan Tambakberas sebagai lokasi Muktamar ke-35, keputusan itu tidak bisa dibaca sekadar sebagai pilihan teknis atau nostalgik. Ia mengandung pesan politik yang sangat kuat. Di tengah dinamika internal yang sempat membuat banyak pihak khawatir akan fragmentasi, NU seolah dipanggil pulang ke rumahnya sendiri.

Bukan ke hotel berbintang atau gedung konvensi modern, melainkan ke pesantren yang di dalamnya masih terasa napas para muassis.

Pertanyaannya: apakah NU mampu membaca simbolisme ini dengan sungguh-sungguh?

Jika Muktamar di Tambakberas hanya menjadi ajang penghitungan suara dan konsolidasi kubu, maka sejarah hanya akan berulang dalam bentuk yang lebih halus. Konflik Ranggalawe dan Mahisa Anabrang akan kembali dalam versi modern: saling curiga, saling mengklaim legitimasi, saling menyingkirkan.

Namun, jika forum tertinggi itu mampu menjadikan tempat tersebut sebagai ruang penyembuhan-bukan sekadar tempat pemungutan suara-maka Tambakberas akan menulis babak baru. Bukan lagi sebagai saksi pertumpahan darah atau sekadar tempat lahirnya organisasi, melainkan sebagai titik balik di mana NU membuktikan bahwa ia mampu mengelola perbedaan tanpa mengorbankan persatuan.

Baca juga: Ratusan Peserta Muktamar Rakyat An Nahdliyin Sepakati Petisi untuk NU yang Lebih Baik

Sejarah tidak pernah netral. Ia selalu menawarkan pilihan. Di tepi sungai yang sama, dulu orang saling bunuh demi jabatan. Nanti, di tanah yang sama, orang-orang yang mengaku pewaris Mbah Wahab akan memutuskan: apakah mereka ingin mengulangi pola lama atau menulis cerita yang berbeda.

Pilihan itu ada di tangan mereka yang akan duduk di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said bulan Agustus nanti. Dan sejarah, seperti biasa, akan mencatat dengan teliti.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Muhibbin NU dan calon rombongan lillah Muktamar 35

editor: jatmiko

Tags: KH Wahab HasbullahMuktamar NUNahdlatul UlamaRanggalaweTambakberas

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Unikama Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Lewat Talkshow Karir

Unikama Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Lewat Talkshow Karir

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.