Oleh: Puguh Wiji Pamungkas*
Bulan Dzulhijah bagi kaum muslimin merupakan bulan yang dijadikan sebagai simbol pengorbanan dalam sepanjang sejarahnya, adalah Nabi Ibrahim as yang menjadi simbol akan peristiwa agung dalam sejarah Idul Adha. Beliau Nabi Ibrahim yang pada akhirnya memutuskan untuk melakukan hijrah pertamanya dari Palestina ke Makkah bersama istri dan anaknya Ismail yang masih bayi, di waktu kemudian ternyata menjadi titik ketauhidan bagi 1,9 milyar kaum muslimin yang hari tersebar di seluruh penjuru bumi.
Dari mulai peristiwa dibakarnya Nabi Ibrahim oleh Raja Namrudz, terusirnya beliau dari negaranya, hijrahnya beliau ke Makkah yakni suatu tempat yang tidak kehidupan di sana, berjuangnya Siti Hajar (Istri Nabi Ibrahim) bersama bayinya Ismail setelah di tinggal sendirian oleh Nabi Ibrahim dan Siti Hajar harus berjuang mencari kehidupan dengan berlari antara bukit Shofa dan Marwa, sampai peristiwa yang sangat populer, di mana Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Islamil anaknya.
Seluruh rangkaian peristiwa tersebut merupakan serentetan uji pengorbanan yang dialami oleh Nabi Ibrahim sebagai utusan Ilahi, yang di kemudian hari menjadi panutan bagi seluruh kaum muslimin yang ada. Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi telah memberikan teladan mulia meneruskan apa yang telah diawali oleh Nabi Ibrahim dan generasi Nabi terdahulu.

Pengorbanan bagi kaum muslimin, sebagaimana yang dicontohkan oleh para Nabi terdahulu, merupakan “fundamental attitude”, yakni etika mendasar yang telah dicontohkan secara abadi sejak zaman dahulu, dari generasi ke generasi, sejak zaman Nabi, sahabat, dan orang-orang Sholeh hingga saat ini.
Fundamental attitude yang telah diajarkan sebagai bagian dari doktrin ini menjadi sikap perilaku yang turun temurun melekat, menjadi bagian dari sikap ethos keseharian. Bahwa pengorbanan yang dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Ibrahim beserta istri dan putra beliau Ismail telah menjadi bagian dari peristiwa sejarah yang menginspirasi kaum muslimin dan sebagian besar manusia di zaman selanjutnya hingga saat ini.
Pengorbanan adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh semua orang untuk sampai pada level kemuliaan dan kemakmurannya, peristiwa Siti Hajar yang harus berjalan dan berlari dari bukit Shofa dan Marwa untuk mencari sumber kehidupan berupa mata air adalah simbol pengorbanan totalitas yang beliau ajarkan. Berjalan dan berlari dari Shofa dan Marwa di tengah terik matahari dan ketidakpastian merupakan wujud ethos perilaku, keteguhan dan semangat yang telah dicontohkan.
Oleh karenanya Islam pada masa awal hingga abad pertengahan sampai pada puncak kejayaannya, banyak ulama pemikir dan ilmuwan terlahir, ketinggian budaya dan ilmu pengetahuan menjadi mahakarya terbesar yang pernah ada pada saat itu. Kesemua ini tidak lain adalah buah dari ethos pengorbanan dalam menuntut ilmu, dalam berguru, dalam berfikir dan menemukan sesuatu, menjelajah ruang fikiran dan waktu.
Hari ini, negara-negara yang sampai pada level kemajuannya, adalah mereka yang telah berhasil menginstall fundamental attitudekepada masyarakatnya. Pengorbanan bagi masyarakat negara-negara maju merupakan suatu rangkaian aktivitas keseharian yang memicu terjadinya banyak perubahan. Siapa yang menyangka bahwa Jepang dengan cepat akan berubah menjadi negara yang maju dan berkembang, padahal 77 tahun yang lalu pasca di bom atom oleh pasukan sekutu, seolah tidak ada harapan bagi mereka, banyak peneliti mengatakan bahwa tidak aka nada kehidupan di bekas bom atom tersebut, di kota Hiroshima dan Nagasaki selama kurang lebih 70 tahun.
Namun apa yang terjadi, secara cepat Jepang berbenah, seluruh masyarakatnya di segala level memberikan pengorbanan terbaiknya untuk kemajuan bangsa. Anak-anak sejak sekolah dini hingga pendidikan tinggi, seluruh kelas masyarakat dan profesi bahu membahu memberikan pengorbanan terbaiknya untuk kemajuan bangsa.
Pengorbanan adalah bagian dari fundamental attitude yang selayaknya menjadi sifat mendasar bagi semua anak cucu bangsa saat ini. Kunci kemajuan dan perkembangan bangsa terletak dari seberapa besar kemauan masyarakatnya untuk memberikan pengorbanan terbaiknya demi bangsa. Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi Islam terbesar di dunia selayaknya mewarisi ethos pengorbanan dalam kehidupan keseharian.
Bukan suatu hal yang mustahil, bangsa ini akan menyalip bangsa-bangsa maju lainnya, asalkan pengorbanan terbaik yang diberikan oleh seluruh elemen masyarakat dengan semangat belajar tinggi sehingga indeks prestasi dan inovasi kita naik, cinta tanah air sehingga banyak prestasi di kancah kompetesi internasional yang bisa kita raih, banyaknya terlahir para penggerak roda ekonomi dengan memperluas ruang entrepreneurship sehingga pendapatan per kapita dan PDB kita naik.
Bulan Dzulhijah merupakan simbol pengorbanan, pengorbanan yang didasari atas cinta mendalam terhadap marwah diri, agama, bangsa, dan negara. Pengorbanan yang akan melahirkan kegemilangan kehidupan, pengorbanan yang akan mewujudkan cita-cita mulia, dan pengorbanan yang akan melahirkan banyak kebaikan bagi kemuliaan dan kehormatan hidup.
*Penulis merupakan Founder dan Owner RSU Wajak Husada
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID ,
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id





























