Minggu, Oktober 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Redaksi by Redaksi
Agustus 19, 2026 3:56 pm
in Ruang Cendekia
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: M Abdul Ghofur, S.Ikom., M.Ikom*

Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu persoalan yang semakin dirasakan pelaku UMKM kuliner. Biaya produksi meningkat, sementara menaikkan harga jual bukan keputusan yang mudah. Ketika harga dinaikkan terlalu tinggi, konsumen berpotensi mengurangi pembelian.

READ ALSO

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Persoalan tersebut saya temui ketika mendampingi pelaku UMKM kuliner di Kota Malang dalam membangun branding melalui fotografi produk dan media sosial. Salah satunya adalah Alfa, pemilik usaha nasi kebuli di Kota Malang. Ia mengaku resah dengan kenaikan harga sejumlah bahan baku, terutama beras basmati yang menjadi bagian penting dalam produk nasi kebuli yang dijualnya.

“Kalau harga bahan baku naik, kita sebenarnya ingin menaikkan harga. Tapi kalau harga jual dinaikkan, pelanggan cenderung turun,” ujar Alfa.

Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pelaku UMKM berada dalam posisi yang serba sulit. Menahan harga berarti keuntungan semakin tipis, sementara menaikkan harga dapat memengaruhi keputusan konsumen. Ungkapan “in this economy” seolah menjadi gambaran sederhana mengenai kondisi tersebut. Konsumen semakin berhati-hati mengeluarkan uang, sementara pelaku usaha juga harus semakin cermat mempertahankan bisnisnya.

Baca juga: Ketua DPP HIPPI Soroti Tekanan Ekonomi terhadap UMKM di Jatim

Sebagai orang yang membantu UMKM dalam produksi konten, saya melihat persoalan tersebut tidak selalu harus dijawab dengan perang harga. Salah satu hal yang sering kali luput dari perhatian pelaku UMKM adalah bagaimana produk mereka dipersepsikan oleh konsumen.

Makanan yang enak belum tentu terlihat menarik di media sosial. Produk dengan kualitas baik belum tentu mampu menyampaikan kualitas tersebut hanya melalui sebuah foto seadanya. Di sinilah fotografi produk memiliki peran. Foto makanan bukan sekadar dokumentasi. Dalam ekosistem digital, foto merupakan bagian dari komunikasi visual sebuah merek.

Cahaya, komposisi, warna, tekstur, properti, hingga cara makanan ditampilkan dapat membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah produk. Ketika sebuah produk terlihat lebih profesional, konsisten, dan memiliki identitas visual yang kuat, konsumen dapat melihat alasan mengapa produk tersebut memiliki nilai tertentu. Dengan kata lain, branding tidak serta-merta membuat harga menjadi murah, tetapi dapat membantu menjelaskan mengapa sebuah produk layak dihargai.

Dalam kasus nasi kebuli milik Alfa, beras basmati menjadi salah satu persoalan tersendiri. Bahan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bahan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari karakter produk nasi kebuli. Ketika harga bahan baku yang berkaitan dengan impor mengalami perubahan, pelaku usaha harus menghadapi konsekuensi pada biaya produksi. Namun, konsumen tidak selalu mengetahui apa yang terjadi di balik sebuah porsi makanan. Konsumen melihat nasi kebuli yang tersaji di meja atau muncul di layar smartphone.

Mereka mungkin tidak mengetahui berapa biaya bahan baku, proses produksi, tenaga, kemasan, hingga biaya operasional yang harus dikeluarkan pemilik usaha. Karena itu, komunikasi menjadi penting. Melalui foto produk dan konten media sosial, UMKM dapat menunjukkan kualitas dan cerita di balik produknya. Mulai dari tekstur nasi, potongan daging, penggunaan rempah, proses memasak, hingga cara penyajian dapat dikemas menjadi sebuah cerita visual.

Baca juga: Gus Kikin Minta UMKM Mikro dan Kecil Dibebaskan dari Pajak

Dalam pengalaman saya membantu UMKM, masih ada anggapan bahwa fotografi produk hanya bertujuan membuat makanan terlihat lebih enak. Padahal, fungsinya jauh lebih luas. Foto produk merupakan salah satu titik pertama interaksi konsumen dengan sebuah brand di media sosial. Sebelum membaca caption, melihat harga, atau bertanya melalui pesan langsung, konsumen sering kali terlebih dahulu melihat visual. Karena itu, foto yang baik harus mampu menjawab pertanyaan sederhana.

Untuk UMKM, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika mereka tidak bisa terus-menerus bersaing melalui harga. Jika biaya produksi naik, strategi bisnis tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada konsumen bahwa harga bahan baku sedang naik.

UMKM juga perlu memperkuat value proposition atau nilai yang ditawarkan. Kualitas bahan, porsi, rasa, keunikan resep, pelayanan, kemasan, cerita usaha, dan pengalaman pelanggan harus dikomunikasikan dengan baik. Dan media sosial menjadi salah satu tempat paling efektif untuk melakukan komunikasi tersebut.

Saya melihat fotografi produk sebagai bagian dari proses membangun branding UMKM. Sebuah foto yang dirancang dengan baik dapat membantu membentuk identitas visual. Jika dilakukan secara konsisten, konsumen mulai mengenali karakter sebuah produk bahkan sebelum membaca nama mereknya. Misalnya, penggunaan warna tertentu, gaya pencahayaan, komposisi, properti, hingga cara penyajian dapat dibuat konsisten dalam berbagai konten.

Kemudian foto tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai format konten foto katalog produk. Konten Instagram dan Facebook, Reels dan video pendek, Story promosi, materi marketplace, poster digital, konten edukasi tentang bahan dan proses produksi, storytelling mengenai perjalanan UMKM.

Dengan demikian, satu sesi produksi foto tidak berhenti pada satu gambar. Ia dapat menjadi aset komunikasi digital yang digunakan berkali-kali. Menurut saya, salah satu tantangan terbesar UMKM saat ini adalah bagaimana keluar dari persaingan yang hanya mengandalkan harga. Ketika semua orang berlomba menawarkan harga murah, ruang keuntungan semakin kecil. Apalagi ketika bahan baku justru mengalami kenaikan. UMKM perlu membangun alasan lain agar konsumen tetap memilih produknya.

Di sinilah branding, fotografi, dan konten media sosial dapat mengambil peran. Foto produk yang kuat memang tidak akan menurunkan harga beras basmati. Foto juga tidak dapat menghentikan kenaikan biaya produksi.

Tetapi visual yang baik dapat membantu UMKM mengomunikasikan kualitas, membangun kepercayaan, meningkatkan daya tarik produk, dan memperkuat persepsi nilai di mata konsumen. Pada akhirnya, persoalan Alfa dan banyak pelaku UMKM kuliner lainnya bukan sekadar tentang naiknya harga bahan baku.

Ini adalah tentang bagaimana usaha kecil tetap mampu bertahan ketika biaya meningkat dan konsumen semakin selektif. Dan dalam kondisi “in this economy”, membangun nilai sebuah produk mungkin menjadi salah satu cara agar UMKM tidak hanya bertahan melalui harga murah, tetapi melalui kualitas, cerita, dan brand yang memiliki nilai.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi.

editor: jatmiko

Tags: Bisnis KulinerBrandingFotografi produkMedia SosialUMKM

Related Posts

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Saat dalam Kondisi Terpuruk, Benarkah Kita Tidak Sendirian?
Ruang Cendekia

Saat dalam Kondisi Terpuruk, Benarkah Kita Tidak Sendirian?

Minggu, 27 Sep 2026
Next Post
Diduga Cemburu, Mahasiswa di Malang Tusuk Teman hingga Tewas

Diduga Cemburu, Mahasiswa di Malang Tusuk Teman hingga Tewas

BERITA POPULER

  • 3 Kecamatan Kabupaten Malang Jadi Kota Sekunder pada 2027

    3 Kecamatan Kabupaten Malang Jadi Kota Sekunder pada 2027

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.