SAYA termasuk salah satu penulis dalam buku Mata Air Keteladanan. Karena itu, sebenarnya agak aneh kalau saya harus meresensi buku yang di dalamnya terdapat tulisan saya sendiri.
Tetapi buku ini ditulis oleh banyak orang. Tulisan saya hanya satu dari sekian banyak tulisan di dalamnya. Dan setelah membaca tulisan-tulisan yang lain, saya justru menemukan banyak cerita tentang Nyai Sepuh yang sebelumnya tidak saya ketahui.
Mata Air Keteladanan merupakan kumpulan tulisan tentang Nyai Hj. Mamnunah Yahya. Para penulisnya datang dari latar kedekatan yang berbeda. Ada keluarga, santri, alumni, dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Karena itu, sosok Nyai Sepuh yang muncul dalam buku ini juga tidak hanya dari satu sudut pandang.
Ada yang mengenang beliau sebagai seorang ibu. Ada yang mengenangnya sebagai guru. Ada yang menulis tentang kesederhanaannya, kecintaannya terhadap ilmu, kedekatannya dengan Al-Qur’an, hingga kebiasaannya melayani santri dan tamu.
Panjang Umur dan Dicintai Santrinya
Salah satu tulisan yang menarik adalah tulisan KH. Ma’ruf Khozin berjudul Panjang Umur dan Dicintai Santrinya.
Kiai Ma’ruf melihat umur panjang Nyai Sepuh bukan sekadar dari jumlah usia. Beliau menghubungkannya dengan perjalanan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang telah melewati tiga generasi kepengasuhan: KH. Yahya Syabrowi, KH. Khozin Yahya, dan KH. Mukhlis Yahya.
Santri yang mondok pada generasi tertentu mungkin tidak pernah bertemu dengan pengasuh generasi sebelumnya. Tetapi Nyai Sepuh, karena umur panjangnya, menjadi sosok yang dijumpai oleh santri dari berbagai generasi.
Hal itu pula yang menurut Kiai Ma’ruf terlihat ketika Nyai Sepuh wafat. Alumni dari sekitar Malang, Madura, hingga Pontianak datang bertakziah dan berziarah. Pada akhir tulisannya, Kiai Ma’ruf mengaitkan umur panjang Nyai Sepuh dengan hadis tentang orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.
Dari tulisan ini, saya baru melihat umur panjang Nyai Sepuh dengan cara yang berbeda. Selama lebih dari satu abad kehidupannya, bukan hanya umur beliau yang bertambah. Generasi santri juga terus berganti, dan banyak dari mereka mempunyai kenangan masing-masing bersama beliau.
Cerita-Cerita yang Sederhana
Tulisan lain membawa pembaca kepada cerita yang berbeda.
Hj. Muflihah Mukhlis, misalnya, menulis tentang keseharian Nyai Sepuh. Beliau dikenal sederhana. Pakaian yang robek dijahit kembali. Pakaian yang sudah usang tetap dirawat. Beliau juga tidak suka menumpuk pakaian maupun memiliki perabot rumah secara berlebihan.
Cerita seperti ini banyak ditemukan dalam buku.
Tidak semuanya berupa peristiwa besar. Sebagian bahkan berupa kebiasaan sehari-hari yang mungkin pada saat itu dianggap biasa oleh orang-orang di sekitarnya.
Ada pula cerita tentang dapur.
Dalam kesaksian seorang menantu, Nyai Sepuh dikenal sangat cekatan. Selepas wirid pagi, beliau langsung menuju dapur. Beliau hadir bersama para santri yang sedang bertugas dan ikut memperhatikan berbagai kebutuhan di sana.
Cerita tentang dapur ini muncul dalam beberapa tulisan. Bagi saya, ini menarik. Sebab ketika berbicara tentang pesantren, orang biasanya lebih mudah mengingat masjid, pengajian, madrasah, atau sosok kiai yang mengajar. Padahal kehidupan pesantren juga ditopang oleh pekerjaan-pekerjaan lain yang jarang dibicarakan.
Dan Nyai Sepuh berada di bagian itu.
Emas dan Uang Sejuta
Ada pula tulisan Abdul Mannan Qoffal berjudul Emas Perhiasan dan Uang Sejuta: Pondasi Ketulusan Pendidikan.
Ceritanya cukup sederhana.
Ketika yayasan mengalami kesulitan keuangan dan tidak mempunyai cukup uang untuk membayar para guru, Nyai Sepuh juga tidak sedang mempunyai uang tunai. Yang beliau miliki adalah perhiasan.
Perhiasan itu kemudian diserahkan untuk dijual agar hak para guru dapat dibayarkan.
Pada kesempatan lain, ketika sekolah yang kelak menjadi SMK Al-Khozini hendak dirintis tetapi belum mempunyai modal, Nyai Sepuh memberikan uang satu juta rupiah. Penulis menyebut uang itu sebagai benih awal berdirinya sekolah tersebut.
Saya kira cerita ini menjadi salah satu bagian yang menarik dalam buku. Bukan karena jumlah uang atau nilai emasnya, tetapi karena dari satu kejadian sederhana kita bisa melihat bagaimana perhatian Nyai Sepuh terhadap pendidikan.
Banyak Penulis, Banyak Cara Bercerita
Karena ditulis oleh banyak orang, Mata Air Keteladanan tentu mempunyai gaya tulisan yang beragam.
Ada yang menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ada yang lebih banyak bercerita tentang kehidupan Nyai Sepuh. Ada pula yang memberikan refleksi dari pengalaman yang pernah dialaminya bersama beliau.
Konsekuensinya, beberapa tema memang muncul berulang kali.
Kesederhanaan, istiqamah dalam beribadah, kecintaan kepada ilmu, perhatian kepada santri, kedermawanan, serta pengabdian menjadi tema yang beberapa kali ditemukan dalam buku ini.
Bagi saya, ini bisa dilihat dari dua sisi.
Sebagai sebuah buku, pengulangan pada beberapa bagian memang terasa. Apalagi setiap penulis berdiri dengan tulisannya sendiri sehingga antara satu tulisan dengan tulisan lainnya tidak selalu mempunyai alur yang saling menyambung.
Tetapi justru dari pengulangan itu saya menemukan sesuatu.
Orang yang berbeda, pada waktu yang berbeda, ternyata membawa kesan yang hampir sama tentang Nyai Sepuh.
Mereka mungkin mengalami kejadian yang berbeda. Tetapi sifat yang mereka ceritakan sering bertemu pada titik yang sama.
Mungkin memang seperti itulah sebuah kesaksian bekerja.
Menyimpan Cerita
Tulisan saya sendiri ditempatkan pada bagian terakhir buku dengan judul Mbah, Pengurus Tidak Membolehkan Saya Pulang.
Saya tidak mempunyai cerita besar bersama Nyai Sepuh. Dalam tulisan itu bahkan saya mengakui bahwa semasa menjadi santri, saya lebih sering melihat beliau dari jauh. Saya tidak pernah mendapat dawuh khusus atau pengalaman luar biasa bersama beliau.
Kenangan saya hanya dua.
Salah satunya tentang seorang teman yang ingin pulang tetapi tidak mendapat izin pengurus. Ia kemudian mengajak saya menghadap Nyai Sepuh. Kenangan lainnya terjadi saat Ramadan, ketika saya termasuk santri yang tetap tinggal di pondok dan menunggu kolak dari Nyai Sepuh untuk berbuka.
Kalau dibandingkan dengan cerita tentang emas untuk membayar guru atau perjalanan panjang Nyai Sepuh membersamai beberapa generasi santri, cerita saya tentu tidak ada apa-apanya.
Tetapi setelah membaca buku ini, saya justru merasa cerita-cerita kecil semacam itu perlu ditulis.
Sebab setiap orang mempunyai cara sendiri dalam mengingat seseorang.
Ada yang mengingat nasihatnya. Ada yang mengingat pertolongannya. Ada yang mengingat cara beliau mengajar. Ada yang mengingat makanan yang pernah diberikan.
Kalau cerita-cerita itu hanya disimpan dalam ingatan, suatu saat bisa hilang.
Di situlah menurut saya letak penting Mata Air Keteladanan. Buku ini bukan biografi lengkap tentang Nyai Hj. Mamnunah Yahya. Buku ini juga tidak berusaha menjadi catatan sejarah yang mencatat seluruh perjalanan hidup beliau secara runtut.
Buku ini adalah kumpulan ingatan.
Ingatan keluarga, santri, alumni, dan orang-orang yang pernah berada di sekitar beliau.
Tentu tidak semua cerita tentang Nyai Sepuh berhasil masuk ke dalam buku ini. Barangkali masih banyak cerita lain yang tersimpan di keluarga maupun para santri dan alumni.
Namun setidaknya, sebagian telah dituliskan.
Dan mungkin memang itu tujuan paling sederhana dari buku ini: agar cerita tentang Nyai Sepuh tidak berhenti pada orang-orang yang pernah mengenalnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Diresensi Rohim Warisi,
Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1
Ganjaran, Gondanglegi, Malang
editor: jatmiko

















