Oleh: Dr. Muh. Anwar Fu’ady, M.A*
OKTOBER selalu menjadi bulan yang mengingatkan kita pada pentingnya kesehatan mental. Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day.
Sepanjang Oktober ini, saya mengajak mahasiswa dalam mata kuliah Psikoterapi untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan tugas untuk melakukan promosi kesehatan mental kepada masyarakat.
Harapannya adalah mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kesehatan mental di ruang kelas, tetapi juga terlibat dalam upaya menyampaikan pengetahuan psikologi melalui berbagai kegiatan edukasi yang mereka susun.
Ada hal menarik yang patut saya refleksikan dari pengalaman pembelajaran tersebut. Kegiatan ini tentu bukan sekadar tugas perkuliahan untuk memenuhi tuntutan akademik. Ada proses pembelajaran yang lebih luas di dalamnya.
Mahasiswa belajar memahami masyarakat, mengembangkan keterampilan interpersonal, bekerja sama, sekaligus mengenali bagaimana ilmu psikologi dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar Psikologi Tidak Cukup dari Buku
Psikologi adalah ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Persoalan emosi, stres, relasi sosial, keluarga, hingga kesehatan mental dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mahasiswa psikologi perlu memahami bagaimana pengetahuan yang mereka pelajari dapat digunakan untuk membantu masyarakat.
Ketika mahasiswa melaksanakan promosi kesehatan mental, mereka berhadapan dengan situasi yang berbeda dari suasana kelas. Mereka harus memahami siapa sasaran kegiatan, mengenali kebutuhan masyarakat, menentukan pesan yang tepat, serta menyampaikan informasi tanpa menggunakan istilah psikologi yang sulit dipahami.
Baca juga: Sambut Wali Mahasiswa Baru, Rektor UIN Malang Bicara Tentang Keunggulan Kampus Ulul Albab
Di sini mahasiswa belajar bahwa menguasai teori saja belum cukup. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, memahami perspektif orang lain, dan menunjukkan empati.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting. Pengetahuan psikologi akan lebih bermakna ketika mahasiswa mampu menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Mahasiswa juga perlu memahami batas kompetensinya.
Lulusan S1 Psikologi memiliki bekal pengetahuan dan kompetensi sesuai jenjang pendidikannya, tetapi tidak otomatis memiliki kewenangan yang sama dengan psikolog yang telah memenuhi persyaratan pendidikan profesi dan ketentuan yang berlaku.
Memahami batas kewenangan bukan berarti membatasi kontribusi. Justru, hal tersebut menunjukkan sikap profesional. Mahasiswa perlu mengetahui kapan mereka dapat memberikan edukasi psikologis dan kapan harus mengarahkan seseorang kepada tenaga profesional yang berwenang.
Mengembangkan Keterampilan yang Dibutuhkan Dunia Kerja
Tidak semua mahasiswa setelah lulus akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sebagian akan langsung memasuki dunia kerja dengan berbagai bidang dan tantangan. Karena itu, pendidikan sarjana perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dapat digunakan dalam beragam situasi profesional.
Salah satu kemampuan penting adalah soft skills. Kemampuan ini mencakup komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, pengelolaan waktu, adaptasi, dan penyelesaian masalah.
Dalam kegiatan promosi kesehatan mental, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut. Mereka harus membagi peran, menyusun kegiatan, menyelesaikan perbedaan pendapat, mengelola waktu, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Pengalaman ini juga berkaitan dengan Learning and Innovation Skills atau keterampilan belajar dan berinovasi yang dikenal melalui konsep 4C abad ke-21. Pertama, critical thinking, yaitu kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa perlu menganalisis kebutuhan masyarakat dan memilih informasi psikologi yang tepat serta dapat dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Hebat! UIN Malang Berhasil Tempati Posisi Ketiga PTKIN Terbaik Versi SCImagoIR 2026
Kedua, creativity, yaitu kreativitas. Mahasiswa dituntut merancang kegiatan dan media edukasi yang menarik serta mudah dipahami. Ketiga, communication, yaitu kemampuan berkomunikasi. Pengetahuan psikologi harus disampaikan secara jelas, empatik, dan sesuai dengan karakteristik sasaran. Keempat, collaboration, yaitu kemampuan berkolaborasi. Mahasiswa belajar bekerja dalam tim, berbagi tanggung jawab, dan menghargai perbedaan.
Keempat keterampilan tersebut tidak tumbuh hanya melalui penjelasan teoritis. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman yang memungkinkan mereka mempraktikkannya. Kegiatan di masyarakat menjadi salah satu ruang belajar untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Tugas Kuliah yang Membekas Setelah Perkuliahan
Sebagai seorang akademisi, penulis percaya bahwa keberhasilan pembelajaran tidak semata-mata terlihat dari nilai akhir mahasiswa. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kemampuan dan pengalaman yang mereka bawa setelah meninggalkan ruang kuliah.
Mahasiswa mungkin akan melupakan sebagian materi yang pernah dipelajari. Namun, pengalaman menghadapi masyarakat, bekerja dalam tim, mengelola kegiatan, dan menyampaikan gagasan dapat menjadi bekal yang berguna dalam perjalanan mereka.
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia pada bulan Oktober memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman menerapkan ilmu.
Bagi masyarakat, kegiatan ini dapat menjadi salah satu sumber informasi dan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.
Karena itu, penulis memandang tugas akademik bukan sekadar sarana memperoleh nilai. Tugas seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kompetensi, mengembangkan soft skills, dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah kampus.
Perguruan tinggi tentu tetap memiliki tanggung jawab untuk membangun penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, pendidikan juga perlu memastikan bahwa pengetahuan tersebut dapat digunakan secara tepat, etis, dan bermanfaat.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menjawab soal ujian. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami persoalan, berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama, mengambil keputusan, dan terus belajar menghadapi perubahan.
Kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan nilai dan menyelesaikan tugas. Kuliah adalah proses mempersiapkan manusia agar mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang)
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com






































