Oleh: Ita Hidayatus Sholihah, S.Ag., M.M.*
Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama
Enam puluh lima tahun bukan usia muda bagi sebuah perguruan tinggi. Ada sejarah panjang, perjuangan, prestasi, dan mimpi besar yang telah mengantarkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sampai pada titik hari ini.
Namun, di tengah kebanggaan itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah semakin besarnya universitas juga membuat semakin besar manfaat yang dirasakan oleh mereka yang dilayani?
Pertanyaan ini penting. Sebab, keunggulan universitas tidak cukup dibuktikan dengan akreditasi, pemeringkatan, kemegahan infrastruktur, atau luasnya jejaring internasional. Keunggulan juga harus hadir dalam pengalaman sehari-hari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
Di sinilah Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) mengambil peran strategis.
Administrasi akademik tidak boleh menjadi labirin birokrasi. Mahasiswa datang ke kampus untuk membangun masa depan, bukan menghabiskan energi untuk mencari kepastian prosedur. Karena itu, pelayanan harus semakin sederhana, cepat, transparan, dan memberikan solusi.
Baca juga: 4.000 Mahasantri Bersholawat di UIN Malang, Lora Ismail: Santri Harus Tangguh, Jangan Mudah Menyerah
Kemahasiswaan tidak cukup hanya mengelola kegiatan dan mencatat prestasi. Kita harus mampu membuka ruang tumbuh, memastikan akses terhadap kesempatan, dan menghadirkan ekosistem yang memungkinkan setiap mahasiswa berkembang sesuai potensinya.
Kerja sama juga tidak boleh berhenti pada seremoni dan penandatanganan dokumen. Ukuran keberhasilannya bukan seberapa banyak nota kesepahaman tersimpan, melainkan seberapa besar kolaborasi tersebut membuka peluang, memperluas pengalaman, dan menghasilkan manfaat nyata.
Memasuki usia ke-65, tantangan kita bukan semata-mata menghadirkan inovasi teknologi, melainkan membangun budaya kerja yang lebih manusiawi, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.
Kita membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak lagi relevan. Sebab, tidak semua yang telah berlangsung puluhan tahun harus dipertahankan, terutama jika ada cara yang lebih baik untuk melayani.
Bagi saya, reputasi internasional harus dimulai dari kualitas pelayanan internal. Sulit membayangkan sebuah universitas menjadi rujukan dunia apabila urusan sederhana di dalam kampusnya sendiri masih terasa rumit.
Karena itu, Dies Maulidiyah ke-65 seharusnya bukan hanya menjadi perayaan atas apa yang telah dicapai, melainkan juga momentum untuk menguji kembali apa yang masih perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, kampus yang hebat bukan hanya kampus yang namanya dikenal dunia, tetapi juga kampus yang kehadirannya benar-benar dirasakan oleh setiap orang yang dilayaninya.
Sejarah telah membawa UIN Malang menjadi besar. Kini, kualitas pelayanan, keberanian bertransformasi, dan kekuatan kolaborasilah yang akan menentukan masa depannya.
Selamat Dies Maulidiyah ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Bertumbuh dalam Prestasi, Berdampak melalui Pelayanan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com






































