Oleh: Dr. Aries Musnandar, M.Pd
Saat dunia masih mempertontonkan perang, kekerasan, diskriminasi, dan berbagai konflik kemanusiaan. Pertanyaan penting ditujukan bagi umat Islam, bagaimana bukan hanya menghentikan peperangan, tetapi juga bagaimana membangun manusia yang tidak mudah memilih kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah.
Melihat masalah tersebut dalam perspektif Islam, agama ini memiliki akar makna yang kuat dengan keselamatan dan perdamaian.
Kalimat Salam, ini bukanlah sekadar ucapan yang disampaikan ketika bertemu, melainkan nilai yang seharusnya hadir dalam perilaku sosial. Karena itu, perdamaian dalam perspektif Islam tidak cukup diwacanakan di mimbar atau ditulis dalam buku. Ia harus menjadi karakter yang hidup dalam diri manusia.
Posisi Strategis Pendidikan Islam
Pendidikan Islam semestinya tidak berhenti pada kemampuan peserta didik menghafal ayat, hadist, atau konsep keagamaan. Pengetahuan agama harus melahirkan sikap yang membuat seseorang mampu menghargai manusia lain, mengendalikan diri, menyelesaikan perbedaan secara bijaksana, dan menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Dengan kata lain, Pendidikan Islam harus mengubah knowledge (pengetahuan) menjadi wisdom (kebijaksanaan) dan merubah wisdom menjadi tindakan.
Persoalannya, pendidikan agama sering kali masih lebih kuat pada aspek kognitif daripada pembentukan karakter. Seseorang dapat memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran agama, tetapi belum tentu mampu menunjukkan empati ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan.
Ia mungkin fasih berbicara tentang ukhuwah, tetapi mudah merendahkan orang lain di ruang publik dan media sosial. Kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku inilah yang perlu mendapat perhatian serius.
Perdamaian Dimulai dari Manusia
Perdamaian dunia memang berkaitan dengan politik, ekonomi, diplomasi, hukum internasional, dan hubungan antarnegara. Namun, di balik setiap konflik selalu ada manusia dengan cara berpikir, nilai, emosi, dan keputusan tertentu.
Karena itu, membangun perdamaian juga merupakan pekerjaan pendidikan.Guru agama memiliki posisi yang sangat strategis. Setiap hari mereka berhadapan dengan generasi yang kelak akan menjadi pemimpin, birokrat, pengusaha, akademisi, orang tua, dan anggota masyarakat.
Cara seorang guru agama menjelaskan perbedaan, menyikapi konflik, dan memperlakukan peserta didik dapat meninggalkan jejak panjang dalam pembentukan karakter mereka.
Guru agama yang mengajarkan Islam sebagai rahmat akan berusaha menghadirkan suasana belajar yang aman dan manusiawi. Sebaliknya, pembelajaran yang hanya menekankan benar-salah secara kaku tanpa ruang dialog dapat membuat peserta didik kurang terbiasa menghadapi keragaman secara dewasa.
Karena itu, guru agama membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi keislaman. Mereka membutuhkan kemampuan pedagogis, komunikasi, keteladanan, literasi digital, kecerdasan sosial, serta kemampuan mengelola perbedaan.
Peran Dosen MPAI
Tanggung jawab tersebut tidak dimulai ketika seseorang sudah berdiri di depan kelas sebagai guru. Dimulai jauh sebelumnya, termasuk di bangku perguruan tinggi.
Magister PAI atau MPAI memiliki tanggung jawab penting dalam menyiapkan calon guru agama dan para profesional yang bekerja di lingkungan Kementerian Agama. Dosen MPAI bukan sekadar menyampaikan teori pendidikan Islam, tetapi ikut membentuk cara berpikir dan karakter calon praktisi pendidikan dan pelayanan keagamaan.
Mahasiswa MPAI perlu dibimbing agar mampu menghubungkan teks keagamaan dengan realitas kehidupan. Mereka harus belajar bahwa perbedaan bukan selalu ancaman, konflik tidak selalu diselesaikan dengan kemenangan salah satu pihak, dan keberagamaan tidak kehilangan martabat ketika disampaikan dengan bahasa yang santun.
Dalam konteks ini, dosen menjadi role model. Mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan dosen, tetapi juga dari bagaimana dosen memperlakukan mahasiswa, menghadapi perbedaan pendapat, memberikan kritik, dan menyelesaikan persoalan.
Pembelajaran tentang perdamaian dengan demikian tidak cukup menjadi satu mata kuliah. Ia harus menjiwai proses pendidikan.
Baca juga: Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial
Calon guru agama perlu dipersiapkan menjadi pendidik yang mampu menanamkan nilai Islam sekaligus membangun ruang dialog. Sementara calon pegawai dan profesional Kementerian Agama perlu memiliki kemampuan menjalankan tugas secara profesional, objektif, melayani masyarakat, serta mampu bekerja di tengah keragaman sosial dan keagamaan.
Profesionalisme dan keberagamaan tidak semestinya dipertentangkan. Justru keduanya perlu berjalan bersama.
Dari Kampus untuk Dunia
Kampus Islam memiliki peluang besar menjadi laboratorium perdamaian. Mahasiswa datang dari latar belakang yang beragam. Mereka belajar berdiskusi, melakukan penelitian, bekerja dalam kelompok, dan berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat.
Jika proses tersebut dikelola dengan baik, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi manusia yang mampu hidup bersama secara dewasa.
Dosen MPAI karena itu memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mengejar capaian pembelajaran. Ia ikut menyiapkan manusia yang kelak berdiri di ruang kelas sebagai guru agama atau bekerja sebagai aparatur dan profesional pelayanan keagamaan.
Apa yang terjadi di ruang kuliah hari ini dapat memiliki konsekuensi sosial yang panjang. Seorang mahasiswa yang dibimbing untuk menghargai perbedaan dapat membawa nilai tersebut ke sekolah tempat ia mengajar.
Seorang lulusan yang dibentuk dengan integritas dapat membawanya ke institusi tempat ia bekerja. Dari sanalah nilai perdamaian bergerak: dari pribadi, ke keluarga, sekolah, institusi, masyarakat, lalu ke ruang publik yang lebih luas.
Mungkin kita tidak dapat menghentikan seluruh konflik dunia dari sebuah ruang kelas. Namun, kita dapat membantu melahirkan manusia yang tidak menjadi bagian dari rantai kekerasan.
Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan di muka bumi. Maka pendidikan Islam seharusnya tidak hanya bertanya, Seberapa banyak yang diketahui mahasiswa tentang Islam? tetapi juga, Manusia seperti apa yang lahir dari pengetahuan Islam tersebut?. Pertanyaan kedua inilah yang menjadi pekerjaan besar pendidikan Islam.
Perdamaian dunia pada akhirnya bukan hanya agenda para pemimpin negara dan diplomat. Ia juga merupakan agenda guru, dosen, mahasiswa, dan setiap orang yang sedang mendidik manusia. Dan mungkin, jalan panjang menuju perdamaian dunia itu memang harus dimulai dari tempat yang paling dekat, yakni ruang kelas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keislaman (FIK) dan Magister PAI Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.































