‘Si Budi Kecil’ Berburu Rezeki di Makam Kutobedah

  • Whatsapp
Dian Kurniawan (8), bocah pemburu rejeki di kuburan TPU Kutobedah, Kota Malang. Foto/Azmy

MALANG – Tradisi nyekar atau ziarah tabur bunga di makam leluhur menjadi tradisi Orang Jawa yang terus berlangsung hingga hari ini. Tradisi itu selain dianggap membawa berkah, juga membawa rezeki bagi sebagian orang. Seperti halnya dialami para Juru Bersih Makam.

Juru Bersih Makam di Kota Malang, khususnya di TPU Kutobedah sudah jadi pemandangan biasa. Terlebih, di musim-musim tradisi nyekar seperti di jelang Bulan Suci Ramadan. Juru Bersih Makam kebanyakan adalah warga sekitar pekuburan yang menggantungkan rezeki dadakan dari keluarga para peziarah.

Bacaan Lainnya

Bank BNI

Tak hanya pria dewasa, kadang di momen-momen tertentu, juru makam bersih dadakan di TPU yang terletak di Kecamatan Kedungkandang ini juga dilakoni anak-anak kecil. Mayoritas dari bocah-bocah ini biasanya datang dari latar belakang keluarga menengah ke bawah. Mereka berbekal alat yang berbeda beda. Ada yang berbekal cangkul kecil. Ada pula arit (celurit untuk memotong rumput). Lalu sebagian lagi ada yang membawa sapu lidi.

Bersihkan rumput di sekitar makam. Foto: Azmy

Seperti diakui bocah asal Malang ini. Namanya Dian Kurniawan. Usianya masih 8 tahun dan masih duduk di bangku kelas 5 SD. Tapi semangatnya mencari nafkah sudah terdidik sejak dini. ”Ya cari uang, buat jajan,” ujarnya polos sambil terkekeh.

Bocah cilik ini mengaku sudah melihat peluang rezeki ini sedari duduk di bangku kelas 2 SD. Asalnya juga dari kampung sekitar. Di tengah era teknologi dan peradaban canggih saat ini, Dian terbilang anak kecil yang gigih dan pekerja keras jika dibandingkan dengan generasi muda beruntung sebayanya.

”Sudah sering sejak kelas 2 SD. Sore-sore gini pasti lari kesini (kuburan) iseng nyari rezeki. Apalagi pas mau bulan puasa ini ramai-ramainya,” kata dia.

Baca Juga  Narik Delman Sejak 1982, Suprapto Terjang Pandemi Meski Tanpa Penumpang

Bermodal arit, sapu lidi dan semangat, dalam sehari bocah ini mengaku bisa mendapat rezeki antara Rp 50 hingga Rp 100 ribu. Apalagi di saat momen-momen tradisi nyekar dilakukan seperti di jelang datangnya bulan puasa atau malam Jumat Legi, misalnya.

”Ini tadi sehari sudah dapat Rp 80 ribu, bersihin 5 makam. Kalau upahnya ya seikhlas orangnya, kadang dapat Rp 10 ribu, pernah juga dikasih Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Selain dia, ada juga puluhan juru bersih makam cilik dadakan lainnya. Diantara mereka, juga ada yang berusia tua maupun masih remaja. Di balik berkahnya sebuah tradisi dan sucinya bulan ramadan ini, ternyata berbuah manis juga bagi umat warga sekitar makam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *