Malang – Di tengah riuhnya aktivitas pusat Kota Malang, terselip sebuah kampung yang menyimpan jejak panjang sejarah masa lalu. Kampung Gandean, yang berada di kawasan sekitar Kauman, bukan sekadar penanda geografis, melainkan juga cerminan dinamika sosial masyarakat pada awal terbentuknya kota ini.
Pemerhati sejarah dan budaya Kota Malang, Agung Buana, menjelaskan bahwa istilah “Gande” dalam tradisi Jawa merujuk pada sebutan bagi abdi dalem atau pegawai yang bekerja di lingkungan pemerintahan.
“Kalau di tradisi Jawa seperti di Solo atau Jogja, Gande itu artinya abdi dalem, pegawai yang bekerja di lingkungan keraton,” ucapnya.
Kampung Gandean dan Asal-usul Istilah Gande

Meski Kota Malang tidak memiliki keraton seperti Solo atau Yogyakarta, istilah tersebut tetap digunakan. Hal ini tidak lepas dari keberadaan para pekerja yang bertugas di pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada masa lampau, terutama di kawasan Pendopo Kabupaten Malang.
Kelompok pekerja inilah yang kemudian dikenal sebagai Gande, merujuk pada peran mereka sebagai abdi pemerintahan di masa itu.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Kampung Budaya Polowijen Kota Malang Gelar Tradisi Megengan
Permukiman Pegawai Pemerintahan di Sekitar Kauman
Permukiman para Gande berada di sebelah barat SD Kauman 1, Kota Malang. Selain bekerja di pendopo, sebagian dari mereka juga menjalankan tugas di kompleks Loji Belanda, bangunan pemerintahan kolonial yang kini berada di kawasan Kantor Pos Malang dan KPPN Malang.
“Orang orang yang tinggal di situ dulu adalah pegawai yang bekerja di Pendopo Kabupaten Malang dan juga di Loji Belanda,” jelasnya.
Makna Penamaan Kampung Gandean dalam Tradisi Jawa
Secara linguistik, penambahan akhiran “-an” dalam kata Gandean mengikuti pola penamaan dalam bahasa Jawa yang menunjukkan suatu tempat atau lokasi. Dengan demikian, “Gande” merujuk pada orangnya, sedangkan “Gandean” berarti kawasan tempat tinggal para Gande.
“Gande itu orangnya, kalau ditambah ‘-an’ berarti tempatnya. Jadi Gandean itu kawasan tempat para Gande tinggal,” kata Agung.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Kampung Budaya Polowijen Kota Malang Gelar Tradisi Megengan
Penyebutan Kampung Gandean diperkirakan telah ada sejak abad ke-19, seiring berdirinya pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Nama tersebut muncul dari kebiasaan masyarakat setempat yang menamai wilayah berdasarkan profesi mayoritas penghuninya, bukan dari istilah kolonial.
Di tengah modernisasi Kota Malang, Kampung Gandean tetap menjadi pengingat bahwa setiap sudut kota menyimpan kisah tentang abdi pemerintahan, tatanan sosial, serta jejak sejarah yang masih terpatri dalam nama sebuah wilayah.
Kini, kawasan tersebut berada di sekitar Jalan KH Wachid Hasyim, Kota Malang, nama jalan yang mulai digunakan sejak era 1970-an saat pemerintah mengganti nama-nama jalan lama dengan nama pahlawan nasional. Meski wajah kota terus berubah, nama Gandean tetap bertahan sebagai penanda kuat jejak sejarah di Malang.
“Nama Gandean bukan berasal dari Belanda, tetapi dari masyarakat Jawa sendiri yang menamai kawasan itu berdasarkan profesi penduduknya,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























