Malang, Tugumalang.id-Perjalanan panjang menggunakan KA Jayabaya jurusan Malang–Jakarta menghadirkan banyak kisah menarik. Saya, Dwi Lindawati, jurnalis difabel Tugu Jatim ID, berangkat dari Stasiun Malang Kota Baru pada Kamis (28/8/2025) pukul 13.45 WIB. Setelah menempuh jarak sekitar 840 kilometer, kereta dijadwalkan tiba di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat (29/8/2025) dini hari pukul 01.46 WIB.
Perjalanan ini merupakan bagian dari undangan mengikuti kick-off Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch II 2025 di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Karawaci, Tangerang, Banten. Saya termasuk salah satu dari 13 jurnalis terpilih se-Indonesia yang lolos seleksi.
Pertemuan dengan Penumpang Baik
Di gerbong eksekutif 4/1B, saya pertama kali ditemani seorang penumpang laki-laki yang dengan ramah menukar kursi agar saya bisa duduk di dekat jendela. Kebaikan sederhana ini membuat perjalanan terasa lebih nyaman.
Baca juga: Fasilitas Mewah KA Jayabaya Bikin Nyaman Perjalanan Malang–Jakarta
Saat sampai di Stasiun Gubeng Surabaya, saya bertemu penumpang baru bernama Arini (36), warga Jakarta. Sama seperti penumpang sebelumnya, ia pun mempersilakan saya duduk di kursi dekat jendela. Dari obrolan ringan, saya mengenal lebih dalam tentang budaya masyarakat Madura yang begitu kuat dijaga Arini dan keluarganya.
Tradisi dan Kebiasaan Warga Madura
Arini bercerita bahwa ia membawa banyak oleh-oleh dari Pamekasan, Madura, untuk keluarganya di Jakarta. Tradisi ini memang sudah turun-temurun di Madura.
Jika ada kerabat atau tetangga yang bepergian, warga akan berbondong-bondong memberikan bekal makanan atau oleh-oleh sebagai bentuk silaturahmi. Bahkan, setiap perjalanan sering disebut “pelayaran”, meski hanya naik bus atau kereta, karena identik dengan tradisi menyeberang laut menggunakan perahu.
Herlianto A., warga Masalembu Madura, menambahkan bahwa kebiasaan ini menjadi cara mempererat hubungan sosial. Bahkan, ada tradisi unik pamitan dengan orang tua, yakni anak merangkak di bawah kaki ibunya (disebut mbrowot dalam bahasa Jawa) sebelum merantau jauh.
Baca juga: Pengalaman Naik KA Jayabaya dari Stasiun Malang Kota Baru: Pilih Pintu Timur atau Barat?
Rezeki Tak Selalu Berupa Uang
Dalam perbincangan panjang, Arini juga membagikan kisah pribadinya. Ia pernah menikah secara diam-diam tanpa restu sang ibu, hingga baru diketahui setelah ia melahirkan anak pertama. Meski penuh ujian, akhirnya ibunya luluh dan menerima pernikahan itu.
“Rezeki itu tidak selalu berupa uang. Bertemu orang baik dalam perjalanan juga sebuah rezeki tak ternilai,” ucapnya dengan tegar.
Isu Viral di Tengah Perjalanan KA Jayabaya
Menjelang tiba di Jakarta, kami dikejutkan kabar viral di media sosial. Seorang pengemudi ojek online (ojol) diduga dilindas kendaraan taktis (rantis) saat aksi demo di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta. Lokasi kejadian disebut dekat Stasiun Pasar Senen.
Karena khawatir, Arini memutuskan mengubah tujuan pemberhentiannya dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Jatinegara. Ia bahkan menghubungi kondektur untuk memastikan keselamatannya. Keputusan itu menyelamatkan kami, sehingga bisa turun bersama di Jatinegara dengan aman.
Tentang Program JFC 2025 Batch II
Perjalanan ini merupakan bagian dari Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025 Batch II, kerja sama Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Program berlangsung sebulan penuh, mulai 1 September–8 Oktober 2025, di Rumah Belajar TBIG, Tangerang. Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari menyebut, kolaborasi ini bertujuan menyebarkan gerakan kebaikan melalui jurnalisme.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Dwi Lindawati (tugujatim.id)
redaktur: jatmiko





























