Malang, Tugumalang.id – Ramadan 2026 akan segera tiba. Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang menggelar tradisi megengan untuk menyambut bulan suci Ramadan bersama masyarakat, tokoh budaya hingga mahasiswa di Kota Malang.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Malang, Isa Wahyudi mengatakan bahwa megengan tersebut diwarnai dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur.
“Megengan tahun ini bukan sekadar seremoni untuk menyambut bulan Ramadan. Namun juga menjadi ruang pertemuan nilai spiritual, budaya dan gerakan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur,” kata Isa, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Mahasiswa Seni Rupa UB Belajar Topeng Malang di Kampung Budaya Polowijen
Isa yang juga merupakan penggagas Kampung Budaya Polowijen itu menyampaikan bahwa megengan di Kampung Budaya Polowijen ini menghadirkan pemaknaan mendalam. Baginya, tradisi bukan hanya untuk dikenang. Tetapi untuk dihidupkan bersama.
“Kami yakin di tangan generasi muda yang kreatif, warisan budaya tidak sekadar sebagai nostalgia. Tetapi akan menjadi energi sosial yang memperkuat identitas, solidaritas dan keberlanjutan budaya di tengah arus zaman,” tuturnya.
Tak hanya pelestarian tradisi, acara megengan tersebut juga diwarnai dengan Tari Beskalan sebagai simbol penyambutan dan penghormatan kepada para tamu. Bahkan juga lantunan mocopat hingga tembang tembang Jawa.
“Prosesi itu menegaskan bahwa setiap prosesi adat selalu diawali dengan rasa hormat dan tata krama budaya,” kata Isa.
Baca juga: Warna-Warni Tradisi Sambut Ramadan di Malang: Megengan hingga Prepekan Pasar Menambah Kemeriahan Bulan Suci
Menariknya, acara megengan itu juga dirangkaikan dengan peluncuran KBP Digital yang isinya E-Book yang memuat sejarah, potensi dan aktivitas budaya Kampung Polowijen sebagai bentuk dokumentasi digital.
E-Book tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa dan akademisi kampus UMM. Ia berharap kebersamaan dan gotong royong dalam megengan itu dapat mempererat keakraban lintas generasi dan komunitas di Kota Malang.
“Langkah ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan penguatan literasi dan digitalisasi budaya,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























