Malang, Tugumalang.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang merilis data statistik terkait produktivitas lahan sawah di Kota Malang. Sepanjang tahun 2025, sawah di Kota Malang tercatat hanya menghasilkan 8,2 ribu ton gabah kering atau setara 4,7 ton beras.
Berdasarkan data BPS Kota Malang yang diperbarui pada 9 Maret 2026, luas panen padi di Kota Malang sepanjang 2025 mencapai 1.301 hektar. Angka ini turun 309 hektar atau 19 persen jika dibandingkan tahun 2024 yang seluas 1.610 hektar.
Sementara soal hasil produksi padi di Kota Malang, BPS juga mencatat ada penurunan sebesar 21 persen sepanjang 2025. Di tahun 2024, produksi padi Kota Malang mencapai 10.496 ton gabah kering. Sedangkan 2025 turun menjadi 8.242 ton gabah kering atau setara 4,759 ton beras.
Baca juga: Lahan Sawah Kota Malang Menyusut, Produksi Gabah Tetap 15 Ribu Ton per Tahun
Angka tersebut cukup kontras dengan predikat Kota Malang sebagai kota besar. Jika dilihat lebih dalam, angka ini menegaskan bahwa sektor pertanian di Kota Malang semakin terdesak oleh laju perkembangan kota. Sebagai kota dengan kepadatan penduduk tinggi, ruang untuk lahan pertanian kian menyempit dari tahun ke tahun.
Secara matematis, produktivitas lahan memang masih tergolong cukup stabil. Namun, persoalan utamanya bukan terletak pada hasil per hektare. Tetapi pada luas lahan yang terus berkurang. Hal ini berdampak langsung pada total produksi beras yang dihasilkan.
Baca juga: Lahan Sawah Aktif di Kota Malang Tersisa 788 Hektar
Dengan produksi beras hanya sekitar 4,7 ribu ton per tahun, Kota Malang praktis belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi pangan warganya secara mandiri. Artinya, ketergantungan terhadap pasokan beras dari daerah lain masih sangat tinggi.
Sementara Dispangtan Kota Malang menyatakan kebutuhan konsumsi beras di Kota Malang setiap bulannya rata rata sebesar 5 ribu ton.
Perum Bulog Malang mencatat stok beras di tahun 2026 ini masih mencapai 70 ton. Angka ini disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan 10 bulan kedepan. Namun yang perlu menjadi catatan penting, serapan beras itu mayoritas berasal dari luar Kota Malang.
Fenomena ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk lebih serius menjaga keberadaan lahan pertanian yang tersisa. Tanpa kebijakan perlindungan lahan yang kuat, bukan tidak mungkin produksi pangan lokal akan semakin tergerus.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan dilema klasik kota berkembang antara kebutuhan pembangunan dan keberlanjutan sektor pangan. Kota Malang, seperti layaknya kota lain di Indonesia, kini berada di persimpangan dilema itu.
Strategi inovasi yang konkret melalui kebijakan Pemerintah Kota Malang perlu dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan lokal seiring situasi global yang terus memanas dan kian tak pasti.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























