Tugumalang.id – Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen Kabupaten Malang menggelar dua bedah buku yaitu Belajar Ilmu Mantik karya Syekh Yasin Al Fadani dan Agama, Sains dan Ateisme karya Sayyid Munir Al Khabbaz pada Selasa (9/12/2025) di musala pesantren.
Buku pertama diterjemahkan oleh M. Iqbalul Muid sementara buku kedua diterjemahkan oleh Ach Khoiron Nafis. Keduanya sekaligus sebagai pembicara dalam acara tersebut. Adapun pembandingnya yaitu Herlianto. A, salah satu pengajar di STF Al Farabi Malang.
Baca Juga: Bedah Kitab Idhotun Nasyiin, Santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah Hadirkan Nasihat untuk Para Pemuda
Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan ulang tahun Pesantren Luhur Baitul Hikmah yang ke-14. Pada puncak acaranya nanti tanggal 14 Desember 2025 dengan menghadirkan Fahruddin Faiz sebagai pembicara.
M. Iqbalul Muid menjelaskan buku Belajar Ilmu Mantik diterjemahan dari Risalah Fi Al-Manthiq. Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, itu memaparkan pentingnya ilmu mantik dalam proses belajar santri. “Buku ini hadir untuk mengantarkan para santri mendalami keilmuan, khususnya Ilmu mantik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa buku ini disusun untuk menjawab kebutuhan santri pemula dalam belajar logika. Buku ini dikemas dalam format tanya jawab, supaya pembacanya cepat memahami isinya.
Sementara itu, Ach. Khoiron Nafis mengatakan buku Agama, Sains dan Ateisme, diterjemahkan dari Ad-din Baina Ma‘thiyat Al-‘Ilm Wa Itsarat Al-Ilhad.
Baca Juga: Sambut Tahun Baru Islam, Pesantren Luhur Baitul Hikmah Gelar Khitanan Massal
Sosok penerjemah literatur teologi dan filsafat itu mengemukakan alasan pemilihan tersebut. “Buku ini dipilih karena menyesuaikan tema ulang tahun Pesantren Luhur Baitul Hikmah, yakni Syiar, Syair dan Sains,” jelasnya.
Ia juga memaparkan salah satu bahasan penting dalam buku tersebut mengenai pertanyaan apakah Tuhan sama dengan mitologi.
“Berpikir dari akibat menuju sebab adalah cara berpikir intuitif manusia. Ketika kita melihat alam dan bertanya apakah ada yang menciptakan, itu bagian dari fitrah. Maka Tuhan tidak sama dengan mitologi, karena mitologi tidak memberi dampak signifikan dalam hidup,” tuturnya.
Ia menambahkan, konsep kausalitas merupakan fitrah manusia. Bahkan orang yang menolak kausalitas tetap menggunakan kausalitas.
Sebagai pembanding, Herlianto A menyoroti perkembangan argumen ateisme dari klasik hingga modern. “Dulu ateisme bertumpu pada argumen etika, sedangkan era modern memakai argumen saintifik untuk menolak keberadaan Tuhan,” paparnya.
Ia kemudian memberikan ilustrasi konsep kausalitas melalui eksperimen sederhana menggunakan rokok.
“Menurut teolog, rokok bisa saja tidak terbakar meskipun dibakar. Menurut filsuf, pasti terbakar. Menurut teolog yang mempelajari filsafat atau sains, api belum tentu membakar jika syaratnya tidak terpenuhi, misalnya rokok basah,” jelasnya.
Ia juga menyentil humor khas pesantren yang membuat peserta tertawa. “Jawaban santri berbeda lagi. Mereka bilang, masalahnya bukan itu, masalahnya adalah rokok yang mau dibakar itu tidak ada,” kata dia.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab sekaligus penegasan komitmen Pesantren Luhur Baitul Hikmah dalam memperkuat tradisi ilmiah dan memperluas wawasan keislaman di kalangan santri.
Kegiatan ini menjadi bagian dari refleksi perjalanan pesantren selama 14 tahun dalam mengembangkan kajian pemikiran Islam yang komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (magang)
Editor: Jatmiko





























