Sabtu, Oktober 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Redaksi by Redaksi
November 7, 2025 7:31 pm
in Ruang Cendekia
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Zainuddin
Guru Besar Maliki Islamic University, Chairman of YASMINE Institute

PERSOALAN gelar pahlawan akhir-akhir ini menjadi isu yang marak dan menarik. Banyak gagasan yang muncul terkait dengan gelar pahlawan ini. Demikian pula sebagian kelompok mengusulkan kepada salah seorang tokoh nasional untuk diberi gelar “pahlawan”, sementara kelompok lain menolaknya karena dianggap belum memenuhi kriteria sebagai sosok pahlawan. Kompasiana pun mengangkat isu mengenai gelar Pahlawan Nasional ini, di tengah maraknya peringatan HUT RI ke-80 di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

READ ALSO

Pentingnya Pemberitaan yang Objektif dan Empatik bagi Kesehatan Mental

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Perdebatan tentang siapa yang layak menyandang gelar tersebut menunjukkan betapa eratnya kaitan antara sejarah, politik, dan moralitas. Penulis tertarik mengulasnya karena relevan untuk merawat makna kepahlawanan yang otentik di tengah perubahan zaman. Di negeri kita ini sudah banyak pahlawan yang berjuang untuk menegakkan kemerdekaan bangsa dan negara. Mereka memiliki jasa besar terhadap generasi penerus bangsa. Tanpa perjuangan mereka, maka negeri ini tidak ada. Jasa besar inilah yang mesti dihargai dan dihormati, termasuk para keluarga mereka.

Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita merujuk kata pahlawan dalam KBBI, maka menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi seseorang, bahkan siapa pun yang berjuang dalam membela kebenaran bisa menempati posisi sebagai seorang pahlawan.

Maka pahlawan adalah gelar untuk orang yang dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan (nasional) karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya (Hubb al-wathan min al-iman).

Pahlawan dalam Islam

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah: limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah swt.

Di sini maknanya, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu).

Baca juga: Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI

Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan.

Orang yang disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi: Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah: Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin. Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam al-Quran, di antaranya adalah:

“Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah (QS, 2:193) seluruhnya dan dimana saja (QS, 8:39). Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS, 4:75).

Baca juga: Kultur Pesantren dan Peradaban Internet of Things

Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat.

Meskipun secara lahiriyah sudah mati, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan”. (QS al-Baqarah: 154).

Pahlawan dalam Islam adalah orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati. Oang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah Swt.

Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad memerangi orang kafir (jihad al-kuffar), jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq). Dan menurut Rasulullah, justru jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu.

Baca juga: Tantangan Pendidikan di Era Digital

Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi.” Kata sebagian sahabat: “Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat”? Jawab Nabi: “Perang melawan hawa nafsu”.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan yang tanpa tanda jasa pun juga banyak, misalnya para guru dan para generasi tua yang berjasa kepada generasi penerusnya. Ada sebuah cerita menarik terkait dengan kisah kepahlawanan ini. Alkisah, seorang raja Persia yang bernama Kisrâ Anû Syirwân melakukan turba ke rumah-rumah para penduduk. Ketika ia tiba di satu rumah, di sana ia menjumpai seorang kakek yang menanam pohon di halaman rumahnya.

Sang raja tertawa dan bertanya, “Wahai kakek, kenapa engkau menanam pohon yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan, sedangkan engkau mungkin tahun depan sudah mati dan tentu engkau tidak dapat menikmati buahnya yang telah engkau tanam itu”.

Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, “Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba‘da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita” (Didaat: 2008).

Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa-masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan Sirah Nabawiyah-nya, misalnya saja Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa.

Guna membangkitkan kembali ruh jihad di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw., maka Shalahuddin inilah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad Saw. (maulid al-Rasul). Melalui media peringatan itu diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad Saw.

Rasa tanggung jawab terhadap kedaulatan negara dan agama ia baktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris.

Inilah salah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan-pahlawan Islam yang lain. Di setiap penghujung abad selalu muncul pahlawan-pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi ini. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam, tak terkecuali di Indonesia.

Hanya yang perlu dipahami, bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang-orang yang tidak bersalah, maka yang demikian itu tidak dibenarkan adanya.

Perjuangan Islam mesti tidak akan merugikan siapa pun. Ketika Nabi Muhammad Saw. berjuang menegakkan Islam, yang ditegakkan Nabi adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, kesamaan, toleransi dan hak-hak orang lain tetap diperhitungkan.

Sikap Nabi yang toleran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah yang kemudian memposisikan Islam sebagai agama rahmat. Nabi sendiri menegaskan: Ahabb al-adyan ila Allah al-hanifiyyat al-samhah. ***

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

 

redaktur: jatmiko

 

Tags: arti jihadcinta tanah airhut ri ke-80kepahlawanan dalam Islammakna pahlawannilai perjuangan bangsaPahlawan Nasionalpahlawan tanpa tanda jasasejarah IslamShalahuddin Al-Ayyubi

Related Posts

Dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog. /Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Pentingnya Pemberitaan yang Objektif dan Empatik bagi Kesehatan Mental

Jumat, 16 Okt 2026
Achmad Sufyan Wahyudi, M.Pd/ Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kamis, 15 Okt 2026
Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Next Post
Pelaku UMKM

Puluhan Pelaku UMKM di Jatim Ikuti Kompetisi Bisnis Mekaarpreneur 2025

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.