Oleh M. Zainuddin*
DALAM tri pusat pendidikan ala Ki Hajar Dewantoro, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama: keluarga, masyarakat dan sekolah. Keluarga, atau orang tua memiliki tanggung jawab bagaimana mendidik anak supaya mereka mengerti hak dan kewajibannya sebagai anak; di lingkungan lebih luas, masyarakat memiliki tanggung jawab bagaimana menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif, tenteram dan aman; dan di lembaga pendidikan, pemerintah memiliki tanggung jawab bagaimana memajukan lembaga pendidikan (sekolah, madrasah, pesantren hingga PT) didorong dan diberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga tersebut sehingga menjadi lembaga Pendidikan yang maju dan mampu berkompetisi di dunia global.
Bahkan jika melihat perkembangan era digital ini, masih ada dua pusat lagi, yaitu: rumah ibadah dan media sosial. Bagaimana rumah ibadah menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak dan juga orang tua. Seperti kumpulnya para jamaah untuk menunaikan shalat berjamaah dan mengikuti kegiatan majlis-majlis ta’lim. Bahkan bagi anak-anak zaman dulu, rumah ibadah merupakan destinasi pembangunan karakter (religious culture) yang sangat positif dan efektif. Mereka selain turut sahalat berjamaah, mengaji agama, bermain, makan, bahkan tidur pun juga di rumah ibadah tersebut (mushalla dan masjid).
Di rumah ibadah ini pula hampir tidak ada pengaruh negatif bagi mereka. Tentu ini berbeda dengan anak-anak generasi zaman sekarang (Gen-Z) yang hidup di tengah-tengah perkembangan era modern (digital) yang begitu pesat, di mana banyak café-café dan rental-rental play station dan sebagainya yang menjamur di mana-mana. Tentu banyak pengaruh negatifnya.
Sementara di pusat pendidikan yang bernama media sosial melalui platform-nya yang beragam: whatsApp, youtube, instagram, facebook, dan seterusnya merupakan media yang sangat efektif untuk membentuk prilaku manusia, terutama anak-anak. Dulu sebelum ada media digital, yang masih berupa media cetak: surat kabar dan majalah belum seberapa pengaruhnya karena pembacanya masih terbatas, terutama bagi anak-anak, paling-paling hanya telivisi yang setiap saat tidak bisa disaksikan.
Namun saat ini, dengan media gadget atau hand phone siapa pun dapat dengan mudah menggunakannya, tidak pandang usia dan status sosialnya. Dan dalam hand phone tersebut semua konten dapat diakses dengan mudah, bahkan konten dewasa pun juga tersedia. Tentu jika tidak dikontrol oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah, maka akan berakibat buruk terhadap anak-anak. Bahkan kurikulum sekolah pun dapat dikalahkan dengan konten-konten tersebut (hidden curriculum). Inilah tantangan pendidikan di era digital dalam panca pusat pendidikan.
Panca Pusat Pendidikan

MEA dan Revolusi Industri 4.0
ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi Asia) meniscayakan pasar bebas, baik pasar pendidikan maupun pasar ekonomi. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika Indonesia sudah dimasuki oleh lalu lalang perdagangan bebas Asean (Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Myanmar, Cambodia, Brunei, Vietnam). Pasti terjadi persaingan yang ketat, tidak saja pendidikan dan ekonomi, tetapi juga budaya dan nilai hidup.
Baca juga: Kolaborasi UIN Maliki dan LP Ma’arif Kota Malang Selenggarakan Program Pelatihan Bahan Ajar Digital Berbasis Moderasi Agama
Memasuki masyarakat ekonomi Asia, masalah sumber daya manusia (SDM) semakin memperoleh perhatian yang amat serius dari hampir seluruh masyarakat Asia. Era ini juga disebut sebagai millenium ke-3, yang dianggap sebagai puncak badai globalisasi yang menerpa kawasan Asia Tenggara. Kondisi seperti ini tentu akan berpengaruh terhadap akselerasi perubahan di seluruh lini kehidupan manusia: sosial, politik, ekonomi dan budaya. Oleh sebab itu Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan empat issu besar yakni kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Dalam konteks Bonus Demografi, sebagaimana yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Kelak pada 2045, mereka yang usia 0-10 tahun akan berusia 35-45 tahun, sedangkan yang usia 10-20 tahun berusia 45-54. Pada usia-usia ini mereka akan memegang peran penting di kancah Indonesia. Mereka diharapkan akan menjadi generasi yang cerdas, produktif, inovatif, dan berperadaban unggul. Mereka akan menjadi generasi emas yang sekaligus juga menjadi pemimpin bangsa.
Baca juga: Akreditasi Unggul Dongkrak Peminat, Prodi Kimia UIN Malang Sambut 110 Mahasiswa Baru
Potensi kuantitas manusia Indonesia berada pada posisi ke-4 dalam daftar negara berpopulasi tertinggi, demikian pula potensi kekayaan alamnya. Lembaga Survey International Goldman Sach memprediksi, Indonesia akan berada dalam 10 besar negara dengan ekonomi termaju di tahun 2050 bersama China, India (dan masih di atas Jepang maupun Korea Selatan). Sementara itu laporan Mc-Kinsey Global Institute 2012 melaporkan, bahwa tahun 2030 Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar di dunia nomor tujuh. Suatu posisi yang optimistik, yang tentu saja mungkin tercapai bila Indonesia memiliki pemimpin berkualitas dan sumber daya manusia yang berkualitas.
Perlunya Soft Skill dan Karakter
EQ Inventory Reuven Bar On melaporkan, bahwa IQ manusia rata-rata hanya berpengaruh 6-20% dalam menentukan keberhasilan, sementara 80-90% lebih ditentukan oleh atittude (karakter). Demikian juga, Institut Teknologi Carnegie melaporkan, bahwa dari 10.000 orang yang sukses 15%-nya karena kemampuan teknis, dan 85%-nya karena faktor kepribadian (karakter). Dr. Albert Edward Wiggam melaporkan, bahwa dari 4000 orang yang kehilangan pekerjaan 400 orang (=10%-nya) karena kemampuan teknis dan 3600 orang (90%-nya) karena faktor kepribadian (karakter).
Di dunia Barat sendiri saat ini juga disadari betapa pentingnya pendidikan karakter, misalnya di Amerika para pendidik, politisi dan orang tua sekarang mulai sadar bahwa pendidikan karakter sangat urgen dan dibutuhkan sebagai komponen kunci dalam kurikulum sekolah, karena tanpa itu masyarakat tidak mempunyai jaminan untuk merasakan keamanan dan kedamaian seiring dengan banyaknya kemajuan teknologi yang ciptakan dan dimiliki.
Baca juga: Kolaborasi Jaring eSports, Ponpes Bahrul Maghfiroh, dan UIN Malang Hadirkan Laboratorium AI di Pesantren
Hal yang serupa juga dialami oleh masyarakat di era digital ini. Pertanyaan seruapa yang selalu muncul adalah apa peran pendidikan bagi peradaban bangsa? Apakah tujuan pendidikan hanya sekadar transformasi? Para perancang pendidikan harus bisa menjawab pertanyaan fundamental tersebut. Melihat pengalaman dunia pendidikan selama bertahun-tahun yang lalu, bahwa pendidikan tanpa karakter (hati) akan mencetak orang-orang yang melakukan eksploitasi, baik pada manusia maupun lingkungannya (ekologis).
Empat belas abad yang lalu, Nabi besar Muhaammad SAW. mengingatkan kita akan hal ini: “Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baik pula tubuh itu, tetapi jika ia rusak, maka rusak pulalah tubuh itu, segumpal darah itu adalah hati.” Oleh karena itu, krisis yang dialami masyarakat saat ini adalah hasil dari gagalnya mendidik hati/nurani sehingga implikasi pendidikan yang ada kurang berhasil secara optimal. [*]
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Guru Besar Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
redaktur: jatmiko





























