Monday, July 6, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Paradigma Baru: Mengakhiri “Perang Dingin” antara Sains dan Agama

Redaksi by Redaksi
May 10, 2026 12:41 pm
in Catatan
Sains dan Agama

Sunardji Dahri Tiam & Aries Musnandar

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Sunardji Dahri Tiam & Aries Musnandar*

SELAMA berabad-abad, dunia pendidikan seolah dipisahkan oleh tembok besar. Di satu sisi terdapat perguruan tinggi yang dipandang sebagai simbol kemodernan, rasionalitas, dan keterbukaan. Di sisi lain, pesantren identik dengan tradisi, kehidupan pedesaan, serta keteguhan dalam menjaga moralitas.

READ ALSO

Kresek Kecil yang Dibawa Bapak

Malang dan Ilusi Pembangunan: Ketika Ruang Terbuka Hijau Dikorbankan, Siapa yang Dilayani?

Pemisahan tersebut bukan sekadar persoalan lokasi pendidikan, melainkan menyangkut cara pandang atau dikotomi keilmuan. Dampaknya, lahir sosok-sosok dengan pribadi yang timpang. Ada yang sangat cerdas secara intelektual dan menguasai teknologi, tetapi kering secara etika. Sebaliknya, ada pula yang kuat secara moral, namun kesulitan menghadapi realitas perkembangan zaman.

Pesantren: Tradisi Besar yang Dihadapkan pada Perubahan Zaman

Secara historis, pesantren merupakan akar pendidikan asli Indonesia. Tokoh intelektual Muslim, Nurcholish Madjid atau Cak Nur, bahkan pernah berandai-andai bahwa jika Indonesia tidak mengalami penjajahan, universitas ternama saat ini mungkin bukan UI atau UGM, melainkan Universitas Tremas atau Tebuireng.

Pesantren memiliki kekuatan besar dalam pembentukan karakter dan internalisasi nilai. Salah satu contohnya adalah Pesantren An-Nuqayah di Madura yang pernah meraih penghargaan Kalpataru berkat kepeduliannya terhadap lingkungan.

Namun demikian, tantangan besar tetap ada. Pola manajemen yang terlalu sentralistik pada figur kiai, serta metode pembelajaran yang cenderung mengulang khazanah klasik tanpa banyak improvisasi, membuat sebagian pesantren masih tertatih dalam merespons perubahan global yang berlangsung sangat cepat.

Baca juga: Kultur Pesantren dan Peradaban Internet of Things

Fenomena “Saling Mendekat” antara Kampus dan Pesantren

Dalam beberapa tahun terakhir, dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum mulai menunjukkan tanda-tanda mencair. Fenomena ini terlihat dari banyaknya pesantren yang mendirikan universitas, seperti di Paiton, Genggong, hingga Jombang.

Di sisi lain, sejumlah perguruan tinggi negeri juga mulai menghadirkan sistem pesantren di lingkungan kampus, sebagaimana dilakukan UIN Malang dan UIN Jakarta.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa manusia tidak dapat hidup hanya dengan satu dimensi keilmuan. Dunia pendidikan mulai bergerak menuju konsep unitas atau kesatuan ilmu.

Pola pendidikan lama yang memisahkan “ilmu umum” dan “ilmu agama” perlahan mulai dipertanyakan. Alam semesta hanya akan memberi manfaat optimal bagi manusia yang mampu menyeimbangkan zikir dan fikir, sebagaimana konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an.

Integrasi Keilmuan Tidak Cukup Sekadar Label

Meski demikian, penyatuan agama dan sains tidak cukup dilakukan secara simbolik atau administratif semata. Banyak lembaga pendidikan yang hanya menyandingkan dua kurikulum dalam satu atap, seperti sekolah umum di siang hari dan pengajian kitab pada malam hari.

Sebagian lainnya hanya menambahkan label “Islam” pada cabang ilmu tertentu, seperti Ekonomi Islam atau Hukum Islam. Pendekatan seperti ini dinilai belum mencerminkan integrasi yang substansial.

Integrasi sejati harus menyentuh akar filosofis pendidikan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah membongkar miskonsepsi warisan kolonial yang memisahkan ilmu umum dari nilai-nilai ketuhanan.

Pandangan bahwa ayat Tuhan hanya terdapat dalam kitab suci dianggap terlalu sempit. Hukum-hukum alam yang dipelajari dalam fisika, biologi, sosiologi, hingga teknologi kedokteran sejatinya juga merupakan bagian dari Sunnatullah atau ayat kauniyah.

Baca juga: Menguatkan Partisipasi Semesta: Pendidikan sebagai Jalan Damai dan Peradaban

Teknologi ponsel, eksplorasi ruang angkasa, hingga kemajuan medis bukanlah ilmu yang terpisah dari agama. Seluruhnya bersumber dari hukum Allah yang bekerja di alam semesta.

“Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar bagian dari ilmu, melainkan harus menjadi fondasi bagi seluruh ilmu pengetahuan.”

Jika umat Islam ingin mengejar ketertinggalan dari dunia Barat, paradigma lama yang memojokkan ilmu umum sebagai sesuatu yang asing harus segera ditinggalkan. Paradigma baru pendidikan Islam menuntut setiap peneliti, baik sosiolog, dokter, maupun insinyur, untuk berpijak pada nilai-nilai ketuhanan.

Sebaliknya, para ahli agama juga dituntut membuka diri terhadap validitas hukum alam dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Hanya dengan menyatukan moralitas dan rasionalitas, antara IPTEK dan IMTAQ, akan lahir Insan Kamil atau manusia paripurna yang mampu membawa rahmat bagi semesta alam atau rahmatan lil-‘alamin.

Sudah saatnya dunia pendidikan berhenti memisahkan sesuatu yang sejatinya telah disatukan oleh Sang Pencipta.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis :
Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd.
Guru Besar Emeritus dan Direktur Pascasarjana UNIRA Malang. Pakar filsafat ilmu dan pendidikan Islam.

Dr. Aries Musnandar
Wakil Direktur Pascasarjana UNIRA Malang. Doktor pendidikan dengan pengalaman 40 tahun sebagai praktisi manajerial korporasi dan akademisi, serta kolumnis aktif di media nasional dan internasional.

redaktur: jatmiko

Tags: Filsafat Ilmu Islamintegrasi sains dan agamaIPTEK dan IMTAQparadigma pendidikanpendidikan Islampendidikan pesantrenPesantren ModernUlul Albab

Related Posts

Kresek Kecil
Catatan

Kresek Kecil yang Dibawa Bapak

Sunday, 5 Jul 2026
Ruang hijau
Catatan

Malang dan Ilusi Pembangunan: Ketika Ruang Terbuka Hijau Dikorbankan, Siapa yang Dilayani?

Monday, 29 Jun 2026
Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi

Monday, 29 Jun 2026
Gen-z
Catatan

Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi

Sunday, 28 Jun 2026
Pendidikan Akhlak
Catatan

Guru dan Orang Tua: Dua Sisi Mata Uang Pendidikan Akhlak

Sunday, 28 Jun 2026
Rama dan Sinta
Catatan

Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)

Saturday, 27 Jun 2026
Next Post
Chatour Travel

Ketua PW Ansor Jatim Apresiasi Transparansi Chatour Travel Terkait Kenaikan Biaya Umroh

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.