Minggu, Agustus 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Kultur Pesantren dan Peradaban Internet of Things

Redaksi by Redaksi
Oktober 20, 2025 9:20 am
in Catatan
Prof. Dr. HM. Zainuddin, MA. Foto/dok TM

Prof. Dr. HM. Zainuddin, MA. Foto/dok TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Prof. Dr. HM. Zainuddin, MA*

Tugumalang.id – 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden RI, Joko Widodo yang dituangkan melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015. Ketetapan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa para santri memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa, termasuk usaha memerdekakan Republik ini.

READ ALSO

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Ketetapan tersebut bertepatan dengan deklarasi Resolusi Jihad yang dimotori pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dan puluhan kiai se-Jawa Madura di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945 saat itu.

Peraturan Presiden No.82/2021 juga menetapkan Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, setelah sebelumnya ditetapan Hari Santri Nasional tersebut. Demikian juga Undang-Undang No.18/2019 tentang Pesantren, dan Perpres yang mengatur dana abadi pesantren.

Baca Juga: Santri Malang Demo Trans7, Alumni Lirboyo Tegaskan: Kami Tak Menghamba Kiai

Ini tentu menjadi energi bagi pesantren sebagai lembaga pendidikan tentang pembangunan akhlak (revolusi mental) dan moderasi beragama yang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Ulama, Kiai dan Pesantren

Sofistikasi sains dan teknologi di era Internet of Things (IoT), serta budaya modern telah membuat banyak kalangan dan pemerintah khawatir akan berpengaruh fatal terhadap kehidupan manusia dan bahkan semua species yang ada di bumi ini.

Ketika perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat semakin terasa dampaknya, maka tuntutan terhadap peran agama semakin besar, sementara kepergian ulama satu demi satu terus bertambah dan belum muncul penggantinya yang signifikan, maka pada gilirannya tuntutan terhadap ulama pun tak kalah besarnya, sebab merekalah sebagai penerus (perjuangan) Nabi (warasat al-anbiya).

Secara sosiologis, predikat keulamaan memang lebih banyak disandangkan kepada para kiai daripada para sarjana pada umumnya. Bahkan tidak sedikit para sarjana, meski mereka kompeten di bidang studi keislaman, namun mereka hampir tidak pernah menyandang gelar ini (kecuali sarjana yang berbasis Pesantren).

Baca Juga: 5 Life Hacks Disiplin Ala Santri, Ampuh Tingkatkan Produktivitas Anak Muda

Hal itu mudah dipahami, sebab sebutan ulama secara kultural sudah amat melekat dalam diri para kiai yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan bangsa, utamanya kiai yang ada di pesantren yang memiliki kharisma dan kekuatan spiritual.

Jadi memang ini persoalan kultur yang sudah membentuk dalam masyarakat kita. Selain itu memang kiai dengan para santrinya telah memiliki kontribusi besar dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, terutama di bidang pembentukan karakter dan ketahanan mental.

Dan begitulah memang predikat ulama itu lebih banyak terkait dengan sikap moral, selain kedalaman ilmu. Dalam al-Quran sendiri ditegaskan bahwa yang taat kepada Allah itu adalah ulama (QS. Fathir: 28).

Pola Pendidikan Pesantren

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, memiliki kontribusi besar dalam pengembangan kepribadian, antara lain adanya perhatian besar kiai terhadap santri, rasa hormat dan tawadhu santri terhadap kiai, hidup sederhana, hemat dan mandiri, kesetiakawanan, saling menolong, disiplin serta tahan uji.

Dalam kehidupan pesantren terlihat leburnya individualisme dan egoisme. Apalagi jika dikaitkan dengan persoalan pengangguran, pesantren tidak akan khawatir dengan pekerjaan, sebab pendidikan di pesantren memang tidak menawarkan atau memberkan janji kerja (promise of job) bagi lulusannya.

Tujuan pendidikan pesantren yang asasi adalah untuk mencetak generasi berilmu dan berkarakter. Dua entitas ilmu dan karakter tersebut harus dimiliki oleh seorang santri untuk diakui keberadaannya, sebagaimana penegasan ulama besar Imam As-Syafii, bahwa eksistensi pemuda terletak pada ilmu dan takwanya, jika keduanya tidak dimiliki maka tidak diakui eksistensinya (hayat al-fata wallahi bil-ilmi wat-tuqa, idza lam yakuna la’tibaran lidzatihi).

Sementara ungkapan Hikmah menegaskan: al-‘Ilm bil adabi la bin-nasabi, ilmu itu harus disertai budi pekerti (adab) bukan nasab.

Sistem pendidikan pesantren hingga saat ini masih diakui sebagai yang terbaik, karena tiga hal: Pertama, pola pendidikan live in (tinggal di ma’had) selama masa pendidikan (24 jam).

Kedua, adanya kurikulum yang tersembunyi (hidden curriculum) dari para kiai dan ustaz yang menjadi role model bagi para santrinya. Ketiga, tradisi santri yang memiliki sikap dan karakter yang excellent yaitu: tawadhu’, ulet, dan mandiri.

Sikap-sikap tersebut menjadi kebutuhan yang sangat didambakan di era modern seperti sekarang ini. Maka, lulusan pesantren pada umumnya juga tidak kenal menganggur, karena dengan modal soft skill-nya mereka bisa bekerja di hampir semua sektor (meski terkadang missmatch dengan keilmuannya). Inilah kelebihan santri.

Tentang pentingnya pendidikan mental atau karakter ini, temuan psikolog Reuven Bar-On (M. Zainuddin, 2024: 119)  menjelaskan, bahwa IQ manusia rata-rata hanya berpengaruh 6-20 persen dalam menentukan keberhasilan, sementara 80-90 persennya lebih ditentukan oleh atittude (karakter).

Sementara itu Institut Teknologi Carnegie memaparkan, bahwa dari 10.000 orang sukses, 15 persennya sukses karena kemampuan teknis dan 85 persennya karena faktor-faktor kepribadian (karakter).

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Dr. Albert Edward Wiggam yang menghasilkan temuan, bahwa dari 4000 orang yang kehilangan pekerjaan adalah 400 orang (10%) karena kemampuan teknis dan 3600 orang (90%) karena faktor kepribadian (karakter).

Maka sifat yang ada pada diri Nabi pun juga begitu, dimulai dari kejujuran (shiddiq), terpercaya (amanah), komunikatif (tabligh), baru smart (fathanah) terakhir. Dan beliau pun menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang terbaik kepribadiannya (ahsanuhum khuluqa).

Oleh sebab itu, dalam era modern yang menurut Alvin Toffler ditandai dengan budaya impersonal dan ketergantungan teknologi ini, maka tradisi pesantren yang mandiri, ulet dan tahan uji harus tetap dipertahankan.

Misalnya, jika menurut penelitian Cliffort Geertz, santri yang bekerja mengabdi (ngawulo) kiai dengan memasak, mencuci dan menggarap tanah untuk memperoleh berkahnya apakah di era internet of things (IoT) ini masih dapat dipertahankan? Paling tidak nilai-nilainya itulah yang mesti kita pertahankan.

Selain itu, pendidikan di pesantren juga bersifat inklusif dan tidak membatasi usia santri. Siapa pun boleh dan bebas belajar (nyantri) di pesantren, termasuk yang tidak memiliki ijazah dan biaya hidupnya.

Karena para kiai memiliki tanggung jawab dan perhatian besar terhadap keberlangsungan pendidikan anak bangsa.

Tradisi pendidikan khas pesantren inilah yang kemudian menginspirasi para pengelola pendidikan di beberapa perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk menyelenggarakan program ma’had yang memadukan pendidikan tinggi dengan pesantren, seperti yang sudah berlangsung lama diterapkan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan ma’had jami’ah-nya.

 

*Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rektor Periode 2021-2025 dan alumni MAN PPBU tahun 1980

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: KiaiPeradaban DigitalPesantrenUlama

Related Posts

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Next Post
Informasi prakiraan cuaca Malang hari Senin, 20 Oktober 2025 yang masih didominasi kondisi berawan. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra

Prakiraan Cuaca Malang Hari Senin 20 Oktober 2025: Masih Dominan Berawan

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.