Oleh: Coach Dr Fahmi*
Tugumalang.id – Cristiano Ronaldo tertunduk lesu. Air matanya tak kuasa menetes. Ronaldo lunglai usai timnya kalah dengan skor tipis 1-0 dari Spanyol dalam laga 16 besar Piala Dunia, Selasa (7/7/2026). Pemain yang identik dengan nomor urut 7 itu, justru tumbang di tanggal 7, bulan 7.
Usai pertandingan, Ronaldo mengumumkan pensiun dari Portugal pada Piala Dunia. Ya, di usia kini yang sudah 41 tahun, Ronaldo hampir mustahil masih mempunyai kekuatan fisik yang cukup untuk berlaga di Piala Dunia 2030.
Ronaldo sudah menjadi wajah Portugal sejak tahun 2006 di Piala Dunia. Sangat jarang seorang mega bintang mampu berlaga secara konsisten di enam edisi Piala Dunia sekaligus. Dan Ronaldo adalah sedikit dari mega bintang itu.
Baca Juga: Coach Dr Fahmi Dorong Adanya Daya Tumbuh untuk Berdaya Saing di Open House Gemilang
Saya membayangkan, mungkin bukan kekalahan itu yang membuat Cristiano Ronaldo menangis. Sebab sepanjang kariernya, ia sudah berkali-kali kalah. Final yang lepas. Adu penalti yang menyakitkan. Kritik yang datang bertubi-tubi. Bahkan ejekan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Yang membuatnya menangis, barangkali adalah kesadaran bahwa ada satu bab kehidupan yang akhirnya harus ditutup.

Sebab setiap atlet sesungguhnya tidak pernah benar-benar melawan lawan di lapangan. Mereka sedang melawan waktu.
Dan waktu, cepat atau lambat, selalu menang.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh waktu: dedikasi.
Cristiano Ronaldo adalah nama yang selalu mengingatkan kita bahwa keajaiban sering kali lahir bukan dari bakat semata, melainkan dari kebiasaan yang diulang setiap hari.
Saya teringat betul salah satu ungkapannya yang legendaris: saya tahu bahwa siapapun yang bekerja keras akan dibantu oleh Tuhan.
Baca Juga: Bank Indonesia Provinsi Kaltim Hadirkan Coach Dr Fahmi, Dampingi UMKM Siap Naik Kelas
Ya, Ronaldo adalah simbol pemain yang lahir dari etos kerja dan kerja keras. Ia dikenal datang paling awal ke tempat latihan. Menambah sesi latihan ketika rekan-rekannya telah selesai.
Menjaga makanan dengan disiplin yang hampir tak masuk akal. Menghindari hal-hal yang bisa mengurangi performanya. Tidur dengan pola yang teratur. Merawat tubuhnya seolah ia sedang mempersiapkan pertandingan terpenting dalam hidupnya, padahal pertandingan itu mungkin masih seminggu lagi.
Bagi Ronaldo, latihan bukan kewajiban. Latihan adalah cara menghormati mimpinya sendiri.

Hasilnya tidak datang dalam semalam. Angka-angka yang hari ini kita kagumi sesungguhnya adalah buah dari ribuan hari yang dijalani dengan disiplin.
Sepanjang karier profesionalnya, Cristiano Ronaldo telah mencetak lebih dari 976 gol dalam 1.326 pertandingan. Ia mengoleksi 35 trofi bergengsi, termasuk lima gelar Liga Champions, serta mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai pemain pertama yang mampu mencetak gol di enam edisi Piala Dunia yang berbeda.
Namun, angka-angka itu sesungguhnya hanyalah akibat. Sebab utamanya adalah kerja keras yang nyaris tidak pernah berhenti.
Di balik satu gol yang disoraki jutaan orang, ada ribuan tendangan yang dilakukan tanpa tepuk tangan. Di balik satu trofi yang diangkat di depan kamera, ada ribuan jam latihan yang tidak pernah disiarkan televisi. Di balik tubuh yang tetap bugar pada usia 41 tahun, ada ribuan keputusan kecil yang diambil setiap hari: bangun lebih pagi, berlatih lebih keras, menjaga makanan, menjaga tidur, dan menolak merasa puas.
Itulah yang membedakan Ronaldo.
Ada banyak pemain yang lahir dengan bakat luar biasa. Ada pula pemain yang sempat bersinar, lalu perlahan menghilang. Ronaldo memilih jalan yang berbeda. Ia menjadikan disiplin sebagai sahabat, dan kerja keras sebagai bahasa yang ia gunakan setiap hari.
Mungkin karena itulah ia tidak hanya memiliki penggemar, tetapi juga rasa hormat, bahkan dari mereka yang lebih mengidolakan pemain lain.
Di zaman yang serba instan, Ronaldo adalah pengingat bahwa tidak ada jalan pintas menuju puncak. Kesuksesan bukanlah sesuatu yang diwariskan, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, hari demi hari, latihan demi latihan.
Hari ini, Piala Dunia mungkin mengucapkan selamat tinggal kepada Cristiano Ronaldo.
Namun dunia tidak sedang mengucapkan selamat tinggal kepada seorang pesepak bola.
Dunia sedang memberi penghormatan kepada seorang manusia yang menunjukkan bahwa mimpi yang besar harus dibayar dengan pengorbanan yang sama besarnya.
Kelak, anak-anak mungkin tidak lagi hafal berapa gol yang ia cetak, berapa trofi yang ia menangkan, atau berapa rekor yang berhasil ia pecahkan.
Tetapi mereka akan selalu mengingat satu pelajaran sederhana dari seorang anak bernama Cristiano Ronaldo.
Bahwa setiap orang boleh lahir dengan bakat yang berbeda-beda.
Namun setiap orang selalu diberi kesempatan yang sama untuk bekerja lebih keras daripada kemarin.
Sebab pada akhirnya, sejarah bukan ditulis oleh mereka yang paling berbakat.
Sejarah lebih sering ditulis oleh mereka yang sanggup bekerja paling keras, paling lama, dan tetap rendah hati ketika dunia sudah menganggapnya sempurna.
Terima kasih, Cristiano Ronaldo.
Bukan hanya karena engkau mencetak hampir seribu gol atau memenangkan puluhan trofi.
Tetapi karena engkau telah membuktikan kepada dunia bahwa kerja keras adalah bakat yang bisa dimiliki siapa saja. Dan dedikasi, pada akhirnya, adalah cara manusia mengalahkan waktu.
Dan apa yang dilakukan Ronaldo sejatinya selaras dalam konsep Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah haditsh-nya:
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah. Bersungguh-sungguhlah mengejar apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan menyerah (HR Muslim).
Nabi kita, tidak ingin ummatnya lemah. Nabi mengingatkan agar kita menjadi muslim yang kuat, sembari meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Tentu ajaran sesuai apa yang dilakukan oleh sang legenda, Ronaldo. Bagaimana hidupnya dipenuhi dengan kerja keras, dedikasi, dan prestasi.
Kepadanya, kita perlu belajar.
*Penulis adalah The First Indonesian Internasional Total Leader Coach Certified, From LMI, J Meyer, Texas – USA, Pelatih Bisnis Bagi Ribuan UMKM, Advokat dan Pemain Sepak Bola.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News























