Sabtu, Juni 27, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)

Redaksi by Redaksi
Juni 27, 2026 11:39 am
in Catatan
Rama dan Sinta
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Rohim Warisi*

Rohim Warisi

Aku adalah dalang.

READ ALSO

Belajar Disiplin dari Negeri Matahari Terbit

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasaan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Bertahun-tahun aku membawakan Rama dan Sinta di balik kelir. Rama mencari, Sinta menunggu, Rahwana kalah, lalu cinta pulang setelah melewati hutan, perang, dan api. Orang-orang sudah tahu akhirnya, tapi tetap menonton. Barangkali karena manusia selalu ingin percaya bahwa yang setia tidak akan ditinggalkan terlalu lama.

Tapi malam ini aku tidak membawakan Rama dan Sinta yang itu.

Rama yang ini tidak membawa busur. Sinta yang ini tidak tinggal di istana. Tidak ada hutan Dandaka. Tidak ada kerajaan Alengka. Tidak ada Rahwana yang datang dengan tawa besar dan kereta terbang.

Rama yang ini hanya santri putra. Sinta yang ini hanya santri putri.

Mereka pernah duduk di kelas yang sama, di sebuah sekolah formal dalam pesantren. Bukan di taman kerajaan. Bukan di ruang sayembara. Hanya di antara bangku kayu, papan tulis, suara guru, dan bunyi bel pelajaran yang kadang berbunyi sebelum catatan selesai ditulis.

Aku tidak tahu kapan tepatnya Sinta mulai menyukai Rama. Barangkali dari cara Rama menunduk ketika melewati barisan santri putri. Barangkali dari diamnya di kelas. Barangkali dari sikapnya yang tidak ikut tertawa ketika teman-temannya menertawakan orang lain. Hal-hal kecil seperti itu sering luput dari cerita besar. Padahal, bagi Sinta, justru dari sanalah rasa aman mula-mula tumbuh.

Barangkali tidak jauh berbeda dari kisah lama, ketika Rama dan Sinta saling mengenal mula-mula dari pandangan yang singkat, tapi cukup untuk membuat takdir bergerak. Bedanya, dalam wayang, pandangan itu membuka jalan menuju kisah besar. Dalam cerita ini, pandangan itu hanya tumbuh diam-diam di ruang kelas pesantren, di antara batas-batas yang dijaga ketat.

Baca juga: Tombol ON yang Menyalakan Takdir

Setiap cerita punya pakem. Wayang punya pakemnya sendiri. Pesantren juga.

Dalam pakem pesantren, cinta antara santri putra dan santri putri tidak boleh berjalan sembarangan. Pacaran adalah pelanggaran berat. Bahkan selembar kertas pun bisa menjadi perkara panjang apabila jatuh ke tangan yang salah. Maka cinta di pesantren harus pandai menunduk, seperti wayang yang belum waktunya keluar dari kotak.

Sinta tahu pakem itu. Rama juga. Tapi cinta, seperti tokoh yang gelisah di balik kelir, kadang tidak menunggu izin untuk tumbuh.

Dalam kisah lama, Rama memenangkan Sinta lewat busur besar yang hanya sanggup ditarik lelaki pilihan. Dalam kisahku, tidak ada busur. Tidak ada sayembara. Tidak ada para raja yang menonton dengan dada berdebar.

Yang ada hanya sepotong kertas.

Suatu hari, Sinta seperti wayang yang nekat keluar sebelum gilirannya dimainkan. Ia merobek halaman belakang buku tulisnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menulis satu kalimat:

“Rama, aku sering berdoa dan namamu ada di dalamnya.”

Itulah panah pertama dalam cerita ini. Bukan panah yang melesat dari busur. Bukan panah yang menembus dada musuh. Hanya panah kecil dari seorang santri putri, dilepaskan pelan-pelan ke laci meja seorang santri putra.

Rama menemukan kertas itu setelah kelas kosong. Dari balik kelir, aku melihatnya duduk lama. Ia membuka lipatan itu, membacanya, lalu membacanya sekali lagi. Namun ada sesuatu di matanya yang membuatku tahu: kalimat itu telah sampai.

Sejak hari itu, di antara mereka ada rahasia. Tidak ada janji. Tidak ada balasan. Tidak ada keberanian yang cukup untuk mengubah satu kalimat menjadi jalan. Rama hanya menyimpan kertas itu di sela kitabnya, seperti menyimpan sesuatu yang tidak sanggup ia buang.

Barangkali ia mengira itulah cara paling aman mencintai Sinta. Ia belum tahu, cinta yang terlalu aman kadang hanya menyelamatkan orang yang menyimpan, bukan orang yang menunggu.

Baca juga: Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI

Waktu berjalan. Gunungan dalam tanganku bergerak pelan. Adegan berganti.

Rama lulus, lalu pindah ke pondok lain. Katanya, ia ingin memperpanjang duduknya di hadapan kitab. Sinta tetap di pondok lama. Ia mengabdi, membantu sebisanya, dan sesekali pulang karena urusan rumah.

Tentang Sinta, aku harus berhati-hati.

Tidak semua lakon boleh dibuka sampai ke dalam-dalamnya. Seorang dalang boleh tahu banyak hal, tapi tidak semua harus ia ucapkan di depan kelir. Ada bagian hidup Sinta yang cukup menjadi bayangan saja. Sebab kalau diterangkan terlalu terang, ia bukan lagi cerita, melainkan luka yang dipaksa berdiri di hadapan penonton.

Maka cukup kukatakan begini: Sinta punya keadaan yang tidak mudah diceritakan. Ada urusan yang membuatnya sering pulang. Ada beban yang membuat wajahnya makin diam setiap kali kembali.

Dalam kisah lama, Sinta diculik Rahwana. Dalam cerita ini, Sinta tidak diculik siapa-siapa. Atau mungkin juga diculik, hanya saja penculiknya tak memiliki wajah. Namanya keadaan. Namanya masa lalu. Namanya rumah. Namanya kewajaran.

Itulah Rahwana dalam kisah ini. Ia tidak datang dengan tubuh raksasa. Ia tidak tertawa di langit. Ia hanya berdiri di antara Rama dan Sinta sebagai sesuatu yang terlalu masuk akal untuk disebut kejam.

Sinta tidak dikalahkan oleh kebencian, melainkan oleh kewajaran. Dalam wayang, Sinta diuji api; dalam ceritaku, Sinta diuji hidup.

Api menyala terang. Orang-orang bisa melihat siapa yang terbakar. Tetapi hidup membakar pelan-pelan, tanpa asap, tanpa suara, tanpa membuat orang lain merasa perlu datang membawa air.

Di sinilah tanganku mulai berat. Aku bisa membuat Rama berjalan. Aku bisa membuat Hanoman terbang. Aku bisa membuat Rahwana jatuh. Tapi Sinta yang ini terlalu manusia untuk kugerakkan sesuka hati.

Aku tidak ingin penonton hanya mengasihani Sinta. Ia bukan tokoh untuk diratapi, melainkan manusia yang harus dijaga martabatnya.

Maka malam ini, aku akan melanggar pakem sedikit saja. Aku tidak akan mengubah seluruh nasibnya. Aku tidak akan memaksa Rama menjadi kesatria yang tiba-tiba sanggup mengalahkan semua keadaan. Aku tidak akan membuat hidup menjadi mudah hanya karena aku ingin akhir yang indah.

Tapi aku bisa memberi Sinta satu adegan.

Kalau hidup tidak memberi Sinta kemenangan, setidaknya biarlah panggung memberinya satu pengakuan.

Maka kutulis: Rama datang.

Bukan untuk melamar. Bukan untuk membawa janji besar. Bukan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sejak awal memang terlalu berat diselesaikan oleh dua orang muda yang hanya pernah saling menyimpan nama.

Rama hanya datang pada suatu sore setelah hujan. Sinta dipanggil ke ruang tamu. Di sana Rama duduk menunduk. Tidak gagah. Tidak seperti kesatria. Tidak seperti Rama dalam kisah lama yang selalu tahu ke mana harus melangkah. Rama yang ini tampak seperti lelaki biasa yang terlambat memahami bahwa menyimpan rasa tidak selalu sama dengan menjaganya.

Beberapa saat mereka diam. Lalu Rama mengeluarkan kertas kecil dari sela kitab yang dibawanya.

Kertas itu sudah kusam. Lipatannya hampir robek. Tapi kalimatnya masih bisa dibaca.

“Rama, aku sering berdoa dan namamu ada di dalamnya.”

Sinta memandang kertas itu lama.

“Masih ada?” tanyanya.

Rama mengangguk.

“Kenapa tidak dibuang?”

Rama kembali menunduk.

“Karena itu doa,” katanya. “Dan aku tidak berani membuang doa seseorang.”

Sinta tidak menjawab. Ia tidak tahu harus merasa bahagia atau lebih sedih. Sebab ternyata doanya sampai, tapi tetap tidak cukup kuat untuk mengubah hidup.

Rama pun diam. Selama ini ia mengira menyimpan kertas itu adalah bentuk kesetiaan. Baru sore itu ia sadar, menyimpan saja tidak pernah cukup bagi seseorang yang diam-diam menunggu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Barangkali mereka tetap tidak bersama. Barangkali Rama kembali ke pondoknya. Barangkali Sinta tetap menjalani hidupnya seperti biasa, mengabdi, pulang sesekali karena urusan rumah, lalu kembali dengan wajah yang makin pandai menyimpan lelah.

Tapi malam ini, sebelum pagelaran selesai, aku ingin Sinta tahu satu hal: doanya dulu tidak jatuh ke tempat kosong. Ada seseorang yang menerima doa itu, menyimpannya lama-lama, tetapi tidak pernah sanggup mengubahnya menjadi rumah.

Aku hanya seorang dalang. Kuasaku pendek. Hanya sepanjang cerita. Hanya sepanjang malam sebelum lampu dipadamkan, sebelum penonton pulang, sebelum tokoh-tokoh kembali menjadi bayangan.

Barangkali hanya itu yang bisa dilakukan dalang yang gagal menjadi Tuhan: tidak mengubah seluruh nasib, hanya menyelamatkan satu bagian kecil dari hati tokohnya.

Dalam hidup, nasib manusia berada di tangan Tuhan. Dalam wayang, nasib tokoh berada di tangan dalang. Dan dalam cerita yang pendek ini, biarlah Sinta sebentar saja berada di tanganku.

Bukan untuk kubuat menang, melainkan agar ia tidak merasa kalah sendirian.

Meski hanya di panggung.

Meski hanya di cerita.

Meski hanya di doa.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah khodimul Ma’had
Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari

editor: jatmiko

Tags: Cerita PendekCerpencintadoakesetiaankhodimul ma’hadPesantrenPondok Pesantren Terpadu Al-Amin SukosariRama dan SintaRohim Warisisantrisantri putraSantri PutriSastra Indonesiawayang

Related Posts

Aries Musnandar. Foto/dok
Catatan

Belajar Disiplin dari Negeri Matahari Terbit

Jumat, 26 Jun 2026
Fairouz Huda. Foto/dok
Catatan

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasaan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Rabu, 24 Jun 2026
M. Lutfi Khoirudin, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Rabu, 24 Jun 2026
Bagian 1 Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026) tentang perjalanan takdir dan pohon cinta. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra
Catatan

Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta

Selasa, 23 Jun 2026
Dr. KH. Abdurrahhman, S.H.I, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Political Framing Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren

Senin, 22 Jun 2026
Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi. Foto/dok
Catatan

Jangan Hukum Pesantrennya, Hukum Pelakunya

Sabtu, 20 Jun 2026
Next Post
Hospital Penawar

Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Pria Mulai Rp 900 Ribu!

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.