Muhammad Alaudin Alexumein*
Catatan ini penulis tulis untuk mengenang KH Fuad Mun’im Djazuli, yang besok (8/8/2026) tepat peringatan haul beliau yang ke-6. Salah satu kata-kata beliau yang penulis ingat: mulia itu dengan adab, bukan karena nasab.
Dahulu kala kamar Kyai Fuad bersebelahan dengan penulis. Sangking dekatnya kamar penulis dengan Kyai, seringkali ketika Timnas Indonesia berlaga pada AFF dan mencetak gol ke gawang timnas lain, sayup-sayup terdengar suara TV “GOOOLLL”.
Kedekatan lokasi ini bukan hanya terdeteksi dengan volume pengeras suara TV beliau. Hal lain yang menggambarkan seberapa dekatnya lokasi kami adalah bau rokok beliau yang sesekali tercium di saat ada tamu tokoh-tokoh dari berbagai elemen. Bau rokok ini sangat khas, kalau tidak salah Sampoerna. Merek rokok mild yang sekarang sedang diracik dan hendak dibuat kemiripan rasanya oleh para juragan duro di Malang.
Joinan Rokok Dengan Yai
Rokok yang beliau hisap tidak pernah sampai habis. Anggap saja rokok merek Sampoerna ini panjangnya 9 cm sampai pada pangkal, 6 cm adalah panjang tembakau, sedangkan 3 cm sisanya adalah panjang filter. Lah, bahan asap rokok yang 6 cm tadi oleh Yai hanya dihabiskan sekitar 2-3 cm saja. Kemudian dibuang di tempat sampah depan kamar kami.
Biasanya pas sore di saat glongsoroan rokok panjang – panjang itu turun, penulis dan beberapa konco – konco menunggu glongsoran rokok ini. Ini adalah salah satu rutinitas yang saya lakukan beberapa waktu, sekalipun tidak bisa konsisten. Melalui abdi ndalem beliau yang bernama Kang Ghozali yang sepertinya selalu rutin membuang rokok dengan sisa panjang 6-7 cm ini pada tempat sampah depan kamar kami. Bagaikan ketiban rezeki, penulis dan beberapa konco yang perokok kadang rebutan.
Baca juga: Sosok Mas Imam Aziz: Pemikir yang Ngaktivis, Kyai yang Merakyat
Jujur, setelah dipikir kembali -belasan tahun kemudian- ini merupakan satu nikmat yang mantap. Karena penulis dulu sempet “joinan” rokok sama seorang ulama besar. Tapi sayang, rutinitas ini harus berhenti di periode abdi ndalem yang selanjutnya. Seingat penulis, rokok “glongsoran untuk joinan” itu tidak logis sesering dulu di masa Kang Ghozali. Periode “joinan” rokok dengan Kyai mungkin hanya bertahan sekitar kurang lebih 2 tahun.
Pernah dulu ketika saya tanya pada senior dan guru saya di pondok, Gus Ali Mas’ud (PPRU 4 Putri) Khadim Majelis Hubbun Nabi ihwal mengapa Kyai Fuad tidak pernah menghabiskan rokok. Senior saya itu cuman bilang begini “Setau saya, kyai kita merokok tidak sampai habis karena beliau sedikit banyak tidak ingin terlepas dari dunia”. Jujur saya bingung dan agak tidak sepakat dengan jawaban itu. Mungkin lebih rasional bila ini dilihat dari teori kedekatan misalnya.
Dalam teori kedekatan disebutkan bahwa “jika engkau ingin harum, maka cobalah mendekat pada penjual parfum”. Saya melihat, Mbah Kyai Fuad sangat konsisten ihwal kedekatan dengan murid ini. Bahkan sampai beliau wafat pun tidak pernah pindah kamar sebelahan dengan santri.
Pernah di satu waktu, santri – santri senior ditanya beliau ihwal jumlah santri mukim di asrama DYF (Nurul Falah). Para senior saya ini malah berbohong dengan menyedikitkan jumlah santri. Bisa dianggap wajar karena ada desas desus bahwa Kyai akan pindah kalau santri di asrama pondok sudah banyak.
Baca juga: Disertasi Doktor UIN Malang Ungkap Alasan Kyai Pilih Platform Digital untuk Zakat
Menarik ini ketika penelitian Psikologi kontemporer menemukan bila model pengajaran via perilaku guru langsung punya kecenderungan lebih berhasil daripada pakai pengajaran verbal.
Bukan Rasulullah Yang Hadir Tapi Kita Yang Harusnya Menghadirkan Beliau
Kuantitas kedekatan fisik tidak bisa menjadi faktor tunggal penentu hubungan antar guru dan murid. Karena bakal repot kalau prinsipnya cuman begini. Kita yang tidak pernah bertemu Rasul tidak bisa menjadi murid Rasul. Pun orang – orang yang tidak pernah menjadi abdi ndalem seperti saya ini, kemungkinan akan kalah dengan Gus Ali Mas’ud yang sudah lama jadi abdi ndalem.
Ini sebenarnya konsisten dengan lelakon para ulama melalui kegiatan acara semacam haul dan maulid. Di mana, kita orang ini tidak pernah bertemu dengan para beliau – beliau yang luar biasa. Tapi kita disarankan untuk nyambung dengan beliau – beliau.
Pada akhir tulisan ini saya hanya ingin menutup dengan tutupan quote begini: “Bukan beliau – beliau yang harus hadir dalam acara haul atau bahkan srakalan maulid kita. Tapi kita sendirilah yang seyogyanya menghadirkan beliau – beliau di dalam hati dan pikiran kita”.
Salam.
*Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 dan Wakil Ketua Badan Siber Ansor PC GP Ansor Kabupaten Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























