Oleh: Muhammad Nuruddin*
GERAKAN sosial dalam konteks Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika kultural dan sosial keagamaan, budaya lokal, dan struktur kekuasaan. KH. Imam Aziz adalah contoh nyata dari aktor gerakan sosial yang menjadikan agama bukan sekadar doktrin, melainkan sumber daya transformatif.
Pertama kali saya mengenal Mas Imam Aziz sekitar tahun 1992, ketika saya menjabat sebagai Ketua Umum PMII Komisariat Universitas Islam Malang. Dalam rangka kunjungan ke Yogyakarta, saya dan beberapa rekan menginap di rumah sepupu saya, almarhum Mas Fajrul Falaakh, di kawasan perumahan Komplek Colombo, dimana lokasi perumahan tersebut dekat dengan kampus IAIN Sunan Kalijaga
Mas Fajrul, yang saat itu sudah menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, dikenal sebagai sosok intelektual yang gemar berdiskusi hingga larut malam. Rumahnya menjadi semacam ruang diskusi informal, tempat bertemunya para aktivis muda, akademisi, dan pemikir progresif. Pada tengah malam, kami diajak silaturahmi ke area masjid kampus IAIN Sunan Kalijaga dan di sanalah saya bertemu Mas Imam Aziz untuk pertama kalinya.
Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi titik awal dari proses pembelajaran yang mendalam tentang gerakan sosial, Islam transformatif, dan pentingnya keberpihakan dalam advokasi. Mas Imam Aziz, dengan gaya bicara yang tenang namun tajam, memperkenalkan saya pada cara berpikir yang menggabungkan tradisi pesantren dengan wacana keadilan sosial.
Baca juga: In Memoriam: Kenangan Indah Bersama Mas Imam Aziz
“Gerakan itu bukan soal ramai-ramai turun ke jalan,” saat dia mendebat terkait aktivitas kami selain aktif di PMII Malang, juga aktif mendampingi kasus-kasus structural akibat dampak Pembangunan era Orde Baru, seperti kasus Buring Satelite, kasus tanah di Tuban. “Tetapi soal bagaimana kita membangun kesadaran, menyusun strategi, dan tetap berpihak pada yang lemah.” Sejak saat itu, saya melihat gerakan sosial bukan hanya sebagai aktivitas organisasi, tetapi sebagai praksis keagamaan dan intelektual. Mas Imam Aziz menjadi salah satu figur yang membentuk cara pandang saya terhadap Islam, masyarakat, dan perubahan.

Pertemuan saya dengan Mas Imam Aziz berlanjut secara lebih intens ketika kami, bersama para sahabat lain, mulai membangun jejaring melalui Gerakan Mahasiswa NU (GMNU). Salah satu simpul penting dalam konsolidasi ini adalah Kajian 164, yang mempertemukan kami dengan sahabat-sahabat seperti Mas Amsar, Mun’im, dan lainnya di Jakarta.
Dari Diskusi Kampus ke Aksi Nyata
Kota Malang menjadi salah satu titik strategis untuk konsolidasi gerakan. Di kampus ABM (STIE Malang Kucecwara), kami menyelenggarakan berbagai diskusi dan pertemuan, yang kemudian berkembang menjadi inisiatif pelatihan Paralegal Santri di Universitas Islam Malang. Mas Imam Aziz kami undang sebagai narasumber utama, karena kami tahu beliau bukan hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga keberpihakan yang jelas terhadap korban dan kelompok rentan.
Latar belakang pelatihan paralegal santri ahir dari keprihatinan mendalam terhadap peristiwa Situbondo, sebuah tragedi yang mengguncang kesadaran kami sebagai santri dan aktivis. Informasi yang kami peroleh dari almarhum Mas Agus Sunyoto, yang melakukan investigasi independen, membuka mata kami terhadap kompleksitas konflik sosial dan kekerasan yang terjadi.
“Ada hal-hal yang tidak bisa dipublikasikan,” kata Mas Agus bersama dengan almarhum Gus Im (adik bungsu Gus Dur) saat menganalisis bersama dengan aktivis mahasiswa Malang dan Jawa Timur. “tetapi cukup untuk membuat kita sadar bahwa keadilan harus diperjuangkan, bahkan dari ruang-ruang kecil seperti pesantren.”
Baca juga: Jelang Muktamar Nasional, Unisma Kupas Pemikiran KH Hasyim Asy’ari
Hasil pembelajaran dari analis sosial tersebut kami mengundang Gus Dur dan Mas Imam Aziz, dalam pelatihan tersebut. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Imam Aziz adalah dua tokoh yang berasal dari akar tradisi pesantren, namun keduanya melangkah jauh melampaui batas-batas konvensional. Mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi gerakan sosial yang berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan pluralisme.
Memadukan Tradisi dan Ilmu Modern
Dalam satu forum kecil di ruang sekretariat PP Lesbumi, di kantor PBNU, KH. Imam Aziz sebagai Ketua PBNU bersama para praktisi pemberdayaan petani, pengurus Lesbumi pusat termasuk almarhum Mas Agus Suyoto membahas dampak serius dari perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan perikanan. Diskusi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi menyentuh dimensi epistemologis: bagaimana pengetahuan tradisional seperti Pranata Mangsa—sistem penanggalan musim Jawa—telah kehilangan relevansi akibat perubahan pola cuaca yang ekstrem dan tak menentu. Mas Imam Aziz mendorong agar pengetahuan klasik tidak ditinggalkan, melainkan ditafsir ulang secara epistemik, pengetahuan tradisional seperti Pranata Mangsa harus berdialog dengan ilmu modern, bukan dikalahkan olehnya.
“Kalender musim bukan sekadar alat hitung, tetapi cermin hubungan spiritual antara manusia dan alam dan kita harus merawatnya.”
Dari Aktivis ke Ruang Negara
Setelah gegap gempita Muktamar NU, dinamika gerakan sosial yang sebelumnya intens dan berbasis komunitas mengalami transisi. KH. Imam Aziz, yang sebelumnya aktif dalam gerakan sosial keagamaan di akar rumput, diangkat sebagai Staf Khusus Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin, dengan mandat khusus di bidang penanggulangan kemiskinan dan otonomi daerah
Hubungan kami, para praktisi lapangan, dengan Mas Imam Aziz pun bergeser. Jika sebelumnya kami berdiskusi tentang Pranata Mangsa, agroekologi, dan advokasi petani, kini kami terlibat dalam penyajian data sosial untuk mendukung kebijakan teknokratik di tingkat nasional. Kami membantu di Kementerian Desa, PDTT, menyusun data kemiskinan ekstrem berbasis SDGs Desa, data tersebut digunakan untuk memetakan wilayah prioritas, seperti daerah 3 T ( terpencil, terluar dan tertinggal).
Menarik dan unik relasi kami, unik karena dari Gerakan sosial berubah menjadi teknoratik dan terpenting disini adalah memastikan bahwa Mas Imam Aziz tetap menjadi jembatan antara aktivis gerakan sosial dan kebijakan negara dan berdampak bahwa suara desa tetap terdengar di ruang-ruang istana.
“Gerakan sosial harus bisa masuk ke ruang kebijakan, supaya nilai-nilai yang kita perjuangkan tidak berhenti di seminar dan pelatihan.” Statemen beliau sering kali kita dengar saat kami silaturahmi ke beliau didaerah Jakarta Pusat.
Meskipun relasi kami berubah dari diskusi gerakan menjadi koordinasi teknokratik, semangatnya tetap sama, keberpihakan pada yang lemah. Mas Imam Aziz tetap membawa nilai-nilai Gus Dur ke dalam ruang kebijakan, memastikan bahwa pesantren, petani, dan nelayan tidak hanya menjadi objek statistik, tetapi subjek perubahan.
Kepergian yang Mengguncang
Sabtu dinihari 12 Juli 2025, pukul 03.50 saat kami membaca berita baru di WAG’s Jama’ah LKiS, kaget campur sedih mendengar beliau meninggal di RS Sarjito Yogyakarta. Kesedihan yang memecahkan dada, kualitasnya sama saat mendengar kabar meninggalnya guru dan sahabat kami, almaghfurlah Gus Iim (KH. Hasyim Wahid) di RS Mayapada, hari Sabtu dini hari, 1 Agustus 2020.
Selamat jalan sahabat dan mentor kami, KH. Imam Aziz, kami bersaksi bahwa dirimu adalah orang ihlas, salih dan welas asih. Semoga Allah SWT menempatkan dirimu di surgaNya, dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan, ketabahan dan kesabaran serta mewarisi jejak kehebatanmu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis: Pekerja Sosial, Ketua IKAPMII Kota Malang 2021-2026, Sekjen Aliansi Petani Indonesia
redaktur: jatmiko





























