Oleh: M. Zainuddin*
Tugumalang.id – HARI itu Sabtu pagi-pagi saya mendapat berita dari sahabat Jogja, Kang Mangel–sahabat sejawat-bahwa Mas Imam Aziz telah meninggal di RS. Sarjito pada pukul 12.30 dini hari (Sabtu, 12/7/2025).
Karuan saja saya kaget, sebab sebelumnya masih berdiskusi di WAG LKiS. Dan saya juga masih dikabari jika beliau sehat dan mimpin pesantren Bumi Cendekia.
Saya memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan beliau, karena sama-sama sibuknya. Dulu sebelumnya beberapa kali masih bertemu dan saling canda dan bernostalgia saat kita masih berjuang melawan involusi berpikir.
Baca Juga: UIN Malang Luncurkan Branding Baru Maliki Islamic University: Jawab Tantangan Global
Ketika beliau sakit agak parah, saya sempat menyambangi di rumahnya (saat itu baru merintis Pesantren). Saya bawakan air zamzam yang kebetulan saat itu saya baru datang dari umroh.

Keluhan yang disampaikan badannya jika disentuh sakit banget. Tapi dengan berjalannya waktu, akhirnya sembuh, alhamdulillah. Dan saya bertemu lagi saat resepsi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam pernikahan putera Mas Agus Maftuh (Abu Gabriel) yang mantan Dubes RI untuk Kerajaan Saudi Arabia (KSA).
Saya terkejut saat bertemu dengan isterinya yang lagi gendong baby-nya. Ternyata sudah dapat momongan lagi usai sembuh dari sakit.
Saya dan beliau adalah satu angkatan, satu kelas dan satu jurusan (SKI) Fakultas ADAB IAIN SuKa (sekarang UIN SuKa Yogyakarta). Dari program propeduse, hingga bakoloreus.
Saat itu kami masih program lama, dari Bakoloreat (BA) ke Doktoral (Drs). Dan untuk naik jenjang Doktorl (Drs) harus melalui tes. Alhamdulillah kami berdua juga lolos.
Dari SGPC, Harkat Indonesia Hingga LKiS
Kami sama-sama aktivis, baik di organisasi intern kampus (Senat) hingga ekstern kampus (PMII). Saat menjadi pengurus PMII Komisariat kami berjibaku dengannya dan runtang-runtung bareng bersamanya.
Baca Juga: Disertasi Doktor UIN Malang Ungkap Alasan Kyai Pilih Platform Digital untuk Zakat
Di kontrakannya Nologaten, kami mengonsep kegiatan LKD –saat itu BATRACO (Basic Training Course) namanya, tahun 80-an. Kala itu ia sudah cakap menulis dan mengetik dengan mesin ketik merek Brother.
Dia juga penulis cepat (speed writer). Bahkan untuk menulis opini di harian Kedaulatan Rakyat (KR).
Ketika masih tingkat bacaloreat (tingkat II) saat itu saya sudah mulai belajar menulis dan menjadi reporter tabloid Al-Hikmah bersamanya.
Tulisan (artikel) pertama dimuat di Harian Masa Kini, Kedaulatan Rakyat (keduanya surat kabar harian Yogyakarta) dan Pelita (Jakarta).
Hasrat menulis inilah saya diilhami oleh Mas Imam yang saat itu sudah beberapa kali menulis di Kedaulatan Rakyat (KR) yang bagus sekali. Selain menulis bersamanya di book chapter bersama para sahabat PMII yang lain seperti (alm) Mas Majrul Falah, SH., MA. dll.
Saat menjadi pengurus takmir di masjid IAIN Sunan Kalijaga, saya dan Mas Imam, Mas Sartim, Mas Dahlan dan senior Kak Otong Abdurrahman punya pengalaman yang lucu.
Dalam kegiatan Ramadhan in Campus panitia mengundang Prof. Syafi’i Maarif untuk memberikan ceramah di Masjid kampus. Usai ceramah kemudian panitia memberi honor (saat itu besarannya Rp. 3.000,-). Setelah itu panitia mengantarkan pulang.
Namun, beliau tidak langsung minta pulang, tetapi mengajak mampir makan malam di RM. Sate Samirono. Dan ternyata habisnya jauh lebih besar dari honor yang diberikan oleh panitia. Karuan saja panitia tersipu malu (semoga beliau mendapat sorga di sisi-Nya).
Pengalaman lain dengan teman seangkatan, Khoiri Mukhtar namanya. Ia juga mulai belajar menulis opini di koran (Masa Kini). Setelah tulisannya dimuat, ia mondar-mandir memberitahu kepada teman-temannya sembari pamer: “Sudah baca opini di Masa Kini? Baca!”, katanya dengan bangganya.
Setelah itu dia mengambil honor di kantor redaksi dengan naik motor bebeknya. Dan dengan senang hati dia mendapatkan honor sebanyak Rp. 3000,-.
Namun tak disangka, di tengah perjalan pulang, ada operasi kendaraan bermotor. Karena tidak memiliki kelengkapan kendaraan, maka ia dikenai denda (tilang) seharga honor tersebut.
Tradisi menulis dan budaya diskusi di kalangan mahasiswa Yogyakarta memang marak dan terbentuk dengan baik saat itu. Banyak study club dan komunitas baca di beberapa tempat.
Demikian pula kios-kios buku murah. Banyak book store dan shoping center yang sangat popular di pasar Malioboro. Di kota pelajar ini, saya dan Mas Imam, Gus Fat (Fatchurrahman Alfa), Kang Mangel (Ismail Ahmad), Mas Humaidy, Mas Saiful Bachri Anshori, (Yunior), Farid Wajdi juga merintis Pusat Studi dengan nama SGPC (Study Group for Peace and Culture).
Namanya kebetulan sama dengan warung SGPC (Sego Pecel) yang ada di dalam kampus UGM. Saat ini mereka menjadi tokoh di daerahnya masing-masing.
Program pertama masih sangat sederhana, yaitu memahami tulisan para pakar baik di Surat Kabar maupun Majalah (Kompas dan Prisma). Misalnya memahami dan mendiskusikan tulisan Gus Dur di harian Kompas yang berjudul: Paradigma Pemikiran Islam Kontemporer.
Saat itu, istilah paradigma saja masih asing bagi para sahabat. Dari SGPC kemudian berkembang menjadi “Harkat Indonesia” yang bergerak di bidang collecting dan editing naskah terjemahan serta penerbitan buku.
Naskah pertama yang diterbitkan saat itu adalah kitab Fashl al-Maqal fi ma Bain al-Syari’ah wa al-Hikmah, karya Ibn Rusyd yang diterjemahkan oleh Mas Yudian Wahyudi mhs. Fak. Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga (saat ini Ketua BPIP) alumni S2 Mc. Gill dan Ph.D Harvard. Yang kedua, kitab al-Fikr al-Tarbawi Inda Al-Ghazali, terjemahan sahabat-sahabat sendiri yang diterbitkan LP3M melalui senior PMII, Kak Masdar Farid Mas’udi (PBNU saat itu).
Dari sinilah kemudian Mas Imam membentuk Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) yang sangat popular dan berkembang pesat dengan buku-buku best seller-nya. Buku terjemahan yang booming saat itu adalah karya Hasan Hanafi yang berjudul Kiri Islam (Al-Yasar al-Islamy).
Di organisasi ekstra kampus PMII, saya dan Mas Imam juga aktif mengikuti jenjang pengkaderan mulai dari Basic Training Course (Batraco) atau Latihan Kader Dasar (LKD) dan Latihan Kader Menengah (LKM) yang kala itu dibina oleh para nara sumber senior seperti Arif Mudatsir, Slamaet Efendy Yusuf, Muhyiddin Abu Risman, Syarif Muhammad, dst, bahkan juga Mahbub Junaidi.
Kami juga pernah melakukan penelitian di Pondok Pesantren “An-Nur” Ngrukem, Bantul asuhan Kiai Nawawi bekerjasama dengan LP3M PBNU. Bersama Mas Imam dan para senior yang lain saya juga menjadi nara sumber yang pesertanya (kadernya) saat itu antara lain Prof. Nizar Ali (mantan Sekjen Kementerian Agama dan Rektor UIN Walisongo sekarang), termasuk Cak Imin (Muhaimin Iskanddar, Ketua Umum PKB) juga menjadi Yunior saya dan Mas Imam (yang saat itu masih menjadi Ketua Cabang PMII Yogyakarta).
Bersama Mas Imam saya juga aktif mengikuti berbagai seminar dan loka karya. Sudah mengenal beberapa tokoh penting sepert Prof. Amin Rais, Prof. Mohammad Idris, Prof. Mukhtar Mas’ud (mereka Dosen Fisipol UGM).
Prof. Lukman Strisno, (Dosen Fak. Sosiologi UGM) Prof. Syahirul Alim, M.Sc (Dosen Fak. MIPA UGM, hafidz Quran) dan beberapa tokoh penting lainnya. Beberapa diskusi dan seminar nasional banyak diikuti.
Saat itu saya dan Mas Imam sudah banyak bergaul dengan para pakar seperti: Gus Dur, Cak Nur (Nur Cholis Madjid), Romo Mangun Wijaya, Mukti Ali, Dawam Raharjo, Syafii Ma’arif. Jalaluddin Rahmat dst.
Mengikuti forum PMIIS (Peminat Muda Ilmu-Ilmu Sosial) di bawah kordinator Muslim Abdurrahman. Forum ini bergerak di bidang kajian dan penelitain social dan dibahas di kampus-kampus.
Kala itu tahun 80-an diadakan di IKIP Malang (sekarang UM), dengan nara sumber para pakar ilmu-ilmu sosial seperti Lukman Sutrisno, UGM, Daniel Dakide, Emanuel Kasipo, Muslim Abdurrahman, Ignas Kleden, Martin Van Bruinessen (Belanda), Wardah Hafidz dll. Saat ini saya dan Mas Imam sudah akrab dengan bacaan ilmu-ilmu sosial, bacaan majalah Prisma yang berseri-seri.
Mas Imam memang aktivis yang sukses, ulet, bekerja keras (workaholic), smart, speed writer dan tetap bersahaja. Banyak berjasa membantu dan membimbing para yuniornya. Pemihakannya terhadap masyarakat kecil hingga akhir hayatnya masih tetap konsisten.
Melalui LKiS, tidak terhitung jumlah buku yang diterbitkannya dan best saller, bahkan LKiS sangat popular dengan kajian sosial-keislamannya. Selain itu juga banyak kader yang sukses di bawah asuhannya.
Kariernya banyak, selain menjadi pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), juga seorang tokoh gerakan intelektual muda. Beliau juga menjadi staff khusus Wapres, KH. Ma’ruf Amin dan pernah menjadi salah satu ketua PBNU.
Selamat jalan sahabatku yang baik hati dan shalih, semoga damai di sorga-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan dapat mewarisi kehebatannya.
*Profesor Filsafat dan Sosiologi Agama, Rektor Maliki Islamic University Malang
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























