Oleh: Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama bukan sekadar forum memilih pemimpin baru. Muktamar menjadi momentum menentukan arah perjalanan jam’iyah yang telah berusia lebih dari satu abad. Di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi keilmuan para ulama sekaligus memperkuat kapasitas organisasi agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi umat.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kepemimpinan tidak pernah bertumpu pada satu figur. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU merupakan dua pilar yang saling melengkapi. Rais Aam menjaga khittah, menjadi otoritas keagamaan sekaligus kompas moral organisasi. Adapun Ketua Umum bertugas menggerakkan roda organisasi agar nilai-nilai tersebut terwujud dalam program yang dirasakan manfaatnya oleh warga.
Karena itu, Muktamar sejatinya bukan hanya memilih individu terbaik, melainkan juga membangun harmoni kepemimpinan. Ketika Syuriyah dan Tanfidziyah berjalan beriringan, NU akan semakin kokoh menghadapi tantangan zaman.
Dalam perspektif itulah saya memandang duet KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Zulfa Musthofa sebagai Ketua Umum PBNU sebagai salah satu kombinasi kepemimpinan yang layak dipertimbangkan.
Baca juga: Polemik Nasab Habib di Indonesia, Ketua PBNU Gus Fahrur: Siapapun Harus Dinilai sebagai Manusia!
Saya mengenal KH Miftachul Akhyar sejak lama, terutama ketika bersama-sama aktif dalam Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur pada awal 2000-an. Dari berbagai forum ilmiah yang kami ikuti, saya melihat beliau sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu, kedalaman pengalaman, serta kematangan dalam mengambil keputusan. Namun, kualitas yang paling menonjol adalah keteguhan pendiriannya.
Beliau tidak mudah mengubah sikap karena tekanan maupun perubahan konstelasi politik. Prinsip-prinsip organisasi selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi ataupun kelompok. Ketegasan itu bukan lahir dari sikap keras, melainkan dari keyakinan yang kokoh terhadap amanah yang diemban. Dalam berbagai persoalan penting, beliau memiliki keberanian moral untuk menyampaikan pandangan yang diyakininya benar tanpa gentar menghadapi siapa pun. Sikap istiqamah itulah yang menghadirkan kewibawaan di hadapan para masyayikh dan warga NU.
Di sisi lain, organisasi sebesar NU membutuhkan Ketua Umum yang mampu membangun konsolidasi, merangkul berbagai kalangan, serta menggerakkan seluruh potensi organisasi. Kepemimpinan yang efektif tidak cukup hanya memiliki visi, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi dan kebersamaan.
Dalam interaksi saya dengan KH Zulfa Musthofa, beliau saya kenal sebagai pribadi yang terbuka dan mudah diajak berdialog. Beliau bersedia mendengar berbagai pandangan serta tidak merasa paling benar. Sikap akomodatif seperti ini sangat penting dalam organisasi yang besar dan majemuk seperti Nahdlatul Ulama.
Di tengah dinamika organisasi yang semakin kompleks, seorang pemimpin dituntut mampu merangkul, bukan sekadar memimpin. KH Zulfa Musthofa juga dikenal rendah hati. Jabatan dan pengalaman organisasi tidak menjadikannya berjarak dengan para kiai maupun warga NU. Kesederhanaan, kemauan mendengar, serta kemampuan membangun komunikasi menjadi modal penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi.
Perpaduan karakter keduanya, menurut saya, menghadirkan keseimbangan yang selama ini menjadi kekuatan Nahdlatul Ulama. KH Miftachul Akhyar menawarkan keteguhan prinsip, kedalaman ilmu, dan kewibawaan ulama. Sementara KH Zulfa Musthofa menghadirkan energi, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan organisasi yang inklusif. Yang satu menjaga arah, yang lain menggerakkan langkah. Yang satu menjadi kompas moral, yang lain memastikan organisasi berjalan efektif.
Baca juga: Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasaan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual
NU saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi warga, dakwah di ruang digital, peningkatan kualitas pelayanan sosial, hingga penguatan peran NU dalam menjaga persatuan bangsa membutuhkan kepemimpinan yang mampu bekerja secara sinergis. Tantangan sebesar itu tidak dapat dijawab oleh satu figur, melainkan melalui kerja sama yang harmonis antara Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pada akhirnya, siapa pun yang dipilih melalui mekanisme Muktamar merupakan keputusan organisasi yang patut dihormati. Namun, menyampaikan pandangan mengenai figur-figur yang dinilai memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan membangun sinergi juga merupakan bagian dari tradisi musyawarah yang sehat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Harapan kita sama. Semoga Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga warisan para muassis, merawat persatuan warga, memperkuat khidmah kepada umat, serta mengantarkan NU semakin besar kontribusinya bagi Indonesia dan peradaban dunia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
























