Oleh: Mastur, S.Psi, M.A
Hajatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, resmi ditutup pada 31 Agustus 2026.
Hasil Muktamar menetapkan KH Miftachul Akhyar kembali sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Selain itu, disepakati mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). NU pun resmi memasuki fase baru.
Ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ini adalah gerbang masuk abad kedua (2026–2126) yang menuntut cara pandang baru terhadap tubuh organisasi terbesar di Indonesia.
Satu abad pertama NU dibangun di atas fondasi pesantren, tradisi, dan solidaritas komunal pedesaan. Abad kedua menghadapi realitas yang jauh lebih kompleks, yakni digitalisasi, urbanisasi, mobilitas kelas menengah, dan generasi muda yang tidak lagi otomatis mewarisi identitas ke-NU-an.
Di sinilah temuan riset Alvara Research Center menjadi sangat relevan. Hasanuddin Ali memetakan warga NU ke dalam tiga lapisan: Cultural Nahdliyin, Engaged Nahdliyin, dan Core Nahdliyin. Pemetaan ini bukan untuk memecah-belah, melainkan untuk memahami anatomi internal agar strategi abad kedua lebih tepat sasaran.
Baca juga: Jelang Pemilihan di Muktamar NU ke-35, Ini Daftar Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa
Lapisan ini adalah yang terbesar. Mereka mengidentifikasi diri sebagai Nahdliyin karena amaliah (tahlilan, maulid, qunut, ziarah), tradisi keluarga, dan rasa dekat secara kultural. Namun, keterikatan terhadap struktur jam’iyah relatif longgar. Survei Alvara menunjukkan bahwa dimensi ikatan organisasi justru paling rendah dibanding praktik keagamaan dan pemikiran Aswaja.
Mereka banyak berada di kalangan Gen Z, milenial, dan kelas menengah urban. Bagi mereka, NU adalah identitas yang nyaman, bukan keanggotaan formal yang menuntut keterlibatan rutin. Tantangan abad kedua terletak di sini: bagaimana membuat NU tetap relevan tanpa memaksa mereka masuk struktur hierarkis yang terasa kaku? Jika Cultural Nahdliyin hanya dicintai, tapi tak diikuti, basis sosial yang besar bisa menjadi ilusi kekuatan.
Baca juga: Fakta Menarik Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kembali ke Tanah Kelahiran
Lapisan menengah ini lebih aktif. Mereka tidak hanya menjalankan amaliah, tetapi juga terlibat dalam kegiatan banom, pengajian, program sosial, atau gerakan kemasyarakatan. Mereka belum tentu menjadi pengurus formal, namun memiliki rasa memiliki yang lebih kuat.
Engaged Nahdliyin adalah penghubung alami antara massa kultural yang luas dengan inti organisasi. Di era digital, mereka sering menjadi “node” yang menyebarkan nilai-nilai NU di ruang online maupun offline.
Tantangan pasca-Muktamar adalah bagaimana sistem kaderisasi dan program kerja mampu menyerap energi mereka tanpa membebani dengan formalitas yang berlebihan. Jika berhasil diorkestrasi, lapisan ini bisa menjadi mesin ekspansi pengaruh NU di tengah perubahan sosial yang cepat.
Ini adalah lapisan terkecil, namun paling solid. Mereka memahami fikrah, amaliah, harakah, dan komitmen kebangsaan secara utuh. Biasanya berasal dari lingkungan pesantren, kader yang melalui jenjang kaderisasi, atau pengurus yang menjadikan NU sebagai ruang khidmah utama.
Core adalah penjaga manhaj Aswaja An-Nahdliyyah. Namun, di abad kedua, mereka tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi. Mereka harus menjadi man of ideas sekaligus man of execution, yakni mampu membaca perubahan, merumuskan gagasan, dan mengeksekusinya. Kepemimpinan baru PBNU dituntut mampu menjaga soliditas Core sambil membuka ruang bagi lapisan lain agar tidak terasing.
Pasca-Muktamar, beberapa tantangan krusial menanti. Pertama, digitalisasi otoritas keagamaan. Internet sudah menjadi salah satu rujukan utama, terutama bagi generasi muda. NU harus hadir di ruang algoritma tanpa kehilangan kedalaman. Kedua, mobilitas kelas menengah dan urbanisasi. Warga NU tidak lagi mayoritas di desa dan kelas bawah.
Program ekonomi, pendidikan, dan layanan sosial harus menyesuaikan. Ketiga, relevansi bagi generasi muda. Mereka butuh alasan yang nyata, bukan sekadar warisan, untuk tetap merasa menjadi bagian dari NU. Keempat, tata kelola organisasi modern. Konflik internal sebelumnya menjadi pelajaran bahwa akuntabilitas, kejelasan kewenangan Syuriah-Tanfidziyah, dan sistem kaderisasi yang sistematis menjadi kebutuhan mendesak.
Muktamar Tambakberas telah menghasilkan kepemimpinan baru dan meneguhkan komitmen kembali kepada marwah serta khidmah. Namun, keputusan formal hanyalah titik awal. Keberhasilan abad kedua akan ditentukan oleh kemampuan mengorkestrasi ketiga lapisan Nahdliyin tersebut.
Cultural Nahdliyin perlu diberi ruang dan manfaat yang membuat mereka merasa dibutuhkan, bukan hanya dihitung. Engaged Nahdliyin harus diberdayakan sebagai mitra aktif. Sementara Core Nahdliyin harus diperkuat kapasitasnya agar mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan ruh keulamaan.
NU abad kedua tidak cukup menjadi organisasi yang besar. Ia harus menjadi ekosistem nilai, layanan, dan gerakan yang relevan bagi zaman. Jika tiga wajah Nahdliyin ini berhasil disatukan dalam satu orkestra yang harmonis, maka NU tidak hanya akan bertahan, tetapi akan terus menjadi rahmat bagi bangsa dan peradaban.
Saatnya bergerak dari sekadar menjaga jumlah menjadi merawat kualitas keterikatan. Itulah ujian sesungguhnya di ambang abad kedua.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang yang sekarang berkhidmat di KPU Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
editor: jatmiko
**Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.






























