Oleh: Rohim Warisi

Santri-santri tahfiz, para penghafal Al-Qur’an, biasanya datang kepadaku dengan wajah tegang.
Ada yang tangannya dingin. Ada yang bibirnya komat-kamit sejak dari kamar. Ada yang baru duduk di depan ustazah sudah lupa ayat, lalu tersenyum seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri mangga.
Tugasku mencatat semuanya. Bukan rasa takutnya, tentu saja. Aku hanya mencatat tanggal, juz, halaman, lancar, belum lancar, dan paraf ustazah.
Dari sekian banyak nama yang pernah ditulis di tubuhku, ada satu nama yang paling rapi.
Naila.
Sampulku hijau muda. Pinggirku mulai lecek. Di halaman depanku, nama Naila ditulis dengan huruf yang hati-hati, seolah-olah ia takut namanya sendiri jatuh kalau ditulis sembarangan.
Dulu, Naila membawaku hampir setiap pagi. Sebelum setor, ia selalu merapikan ujung halamanku dengan telunjuknya. Pelan sekali. Kadang sampai tiga kali, padahal halamanku tidak miring-miring amat. Mungkin itu kebiasaannya kalau gugup. Atau mungkin ia memang anak yang ingin segala sesuatu tampak rapi, meskipun isi kepalanya belum tentu begitu.
Kalau mulai setor hafalan, suara Naila pelan saja. Tidak keras, tidak dibuat-buat. Beberapa santri kalau setor suaranya sengaja ditinggikan, seolah satu kamar harus tahu ia sudah sampai juz sekian.
Naila tidak begitu. Ia membaca seperlunya. Jarang salah. Jarang mengulang.
Ustazah biasanya cuma tersenyum.
“Bagus. Lancar.”
Lalu paraf kecil ditulis di tubuhku.
Santri lain kadang iri.
“Naila mah enak, sekali baca langsung nyantol.”
Temannya menjawab, “Kamu juga nyantol. Tapi di bantal.”
Mereka tertawa.
Naila hanya tersenyum kecil. Senyum yang aman. Senyum yang tidak membuat orang bertanya lebih jauh.
Aku dulu mengira Naila baik-baik saja. Semua orang juga begitu. Anak yang hafalannya lancar sering dianggap tidak punya masalah. Seolah-olah kalau ayat bisa keluar dari mulutnya dengan benar, maka hidupnya pasti sedang lurus-lurus saja.
Halaman-halamanku terus penuh. Juz demi juz selesai. Paraf demi paraf bertambah. Sampai suatu hari, ustazah menulis catatan yang membuat banyak orang ikut bangga:
Khatam 30 juz. Semoga istiqamah.
Hari itu aku merasa menjadi buku yang berhasil.
Namaku memang buku setoran, dan setoran Naila sudah selesai. Tiga puluh juz. Lengkap. Rapi. Tidak ada halaman yang terasa sia-sia.
Aku pikir setelah itu hidup akan lebih lembut kepada Naila.
Ternyata aku salah.
Tidak lama setelah khatam, Naila boyong. Pulang dari pondok dan tidak kembali.
Alasannya tidak ditulis di tubuhku. Tidak ada kolom untuk itu. Di dalam diriku hanya ada tanggal, juz, halaman, lancar, belum lancar, dan paraf. Aku tidak punya tempat untuk mencatat kenapa seorang santri yang baru saja selesai menghafal tiga puluh juz tiba-tiba pulang dan tidak kembali.
Orang-orang mengira setelah hafal tiga puluh juz, Naila punya bekal yang cukup untuk menghadapi hidupnya sendiri. Mereka lupa, orang yang hafal tiga puluh juz tetap manusia. Bisa capek. Bisa takut. Bisa jatuh juga.
Naila tidak jatuh karena lupa ayat. Ia jatuh karena setelah keluar dari pondok, hidup tidak pernah bertanya apakah ia masih kuat.
Setelah itu aku lama berada di lemari.
Gelap. Pengap. Kadang tertindih kerudung, kadang tertindih baju lama. Sesekali pintu lemari dibuka, tapi bukan untuk mengambilku. Orang hanya mencari benda-benda yang lebih diperlukan hidup daripada buku setoran yang sudah selesai dipakai.
Lalu aku mulai mendengar nama Naila lagi.
Bukan dari halaqah, tempat setoran hafalan. Bukan dari ustazah. Bukan dari santri yang iri karena hafalannya cepat.
Dari mulut orang-orang.
“Dengar-dengar Naila sekarang begitu.”
“Sayang, dulu anaknya pinter.”
“Padahal tiga puluh juz, lho.”
Manusia aneh. Dulu mereka menyebut nama Naila dengan bangga. Setelah Naila jatuh, mereka menyebut namanya pelan-pelan, seolah suara pelan bisa membuat gosip terdengar seperti doa.
Aku tidak tahu arti “begitu”. Aku hanya buku. Aku tidak bisa keluar dari lemari untuk melihat dunia seperti apa yang dimasuki Naila setelah pondok.
Tapi dari potongan-potongan kabar, aku tahu satu hal: di luar sana, orang tidak banyak bertanya hafalannya sampai mana. Orang bertanya ia bisa kerja apa, butuh uang berapa, pulang jam berapa, dan sanggup bertahan sampai kapan.
Lama setelah itu, lemari tempatku disimpan akhirnya dibuka lagi.
Tangan yang mengambilku bukan lagi tangan santri kecil yang dulu merapikan ujung halamanku sebelum setor. Jarinya lebih kurus. Geraknya lebih pelan. Tapi aku tetap mengenalnya.
Naila.
Ia mengusap sampulku dengan ujung kerudung. Lama sekali ia memandang namanya sendiri di halaman depan. Seperti orang yang bertemu teman lama, tapi malu karena datang dengan wajah yang sudah terlalu jauh berubah.
Malam itu aku dibuka lagi.
Naila membaca pelan. Suaranya tidak selancar dulu. Ada ayat yang berhenti di tengah. Ada huruf yang diulang. Ada napas yang putus sebelum sampai ujung.
Tapi aku tahu, yang berubah bukan hanya hafalannya. Naila seperti sedang membawa sesuatu yang berat, tapi tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Beberapa malam ia mencoba membaca sendiri. Kadang sampai setengah halaman. Kadang baru satu ayat sudah berhenti. Lama-lama, mungkin ia merasa perlu dituntun lagi. Bukan karena ia tidak hafal, tapi karena ia tidak lagi percaya pada suaranya sendiri.
Dari situlah ia mulai mengaji kepada seseorang yang kata orang-orang baik. Alim. Sabar. Mengerti cara menuntun orang yang ingin pulang.
Beberapa malam setelah itu, aku sering dibuka. Kadang Naila membaca. Kadang cuma memegang halamanku lama sekali. Kadang tidak ada ayat yang keluar, hanya air mata yang jatuh dan buru-buru ia hapus, seolah menangis juga perlu disembunyikan.
Naila sedang mencoba kembali.
Tidak dengan cerita panjang. Tidak dengan suara besar. Ia hanya membuka buku lamanya, membaca ayat yang dulu pernah ia hafal, seperti orang yang ingin pulang tapi takut salah jalan.
Lalu suatu malam, ia pulang dengan tangan gemetar.
Ia meletakkanku di atas kasur, tapi tidak membukaku. Lama sekali ia duduk di sampingku. Matanya kosong. Bukan kosong seperti orang lupa ayat. Kosong seperti orang yang datang mencari arah, lalu dibuat takut oleh jalan yang ditunjukkan kepadanya.
Aku tidak melihat semuanya.
Aku hanya buku setoran. Mataku cuma halaman. Telingaku cuma bekas suara yang jatuh dekat tubuhku.
Tapi setelah malam itu, cara Naila menyentuhku berubah.
Dulu ia merapikan ujung halamanku sebelum membaca. Sekarang jarinya berhenti lama di pinggir kertas. Seperti orang yang ingin membuka ayat, tapi takut tidak sanggup menutup ingatan.
Orang-orang tetap menyebut tempat itu baik. Mereka tetap berkata, “Untung Naila ada yang membimbing.”
Tapi setiap kali nama orang itu disebut, tangan Naila berhenti lama di atas sampulku. Tidak ada ayat yang keluar. Hanya diam yang panjang.
Setelah itu, aku makin jarang dibuka. Kadang Naila membawaku di dalam tas, tapi sepanjang malam tidak ada satu ayat pun keluar dari mulutnya. Kadang ia menyentuh sampulku, lalu menarik tangannya lagi, seperti seseorang yang ingin pulang tapi sudah takut pada pintu.
Di halaman terakhirku, catatan lama itu masih ada:
Khatam 30 juz. Semoga istiqamah.
Dulu kalimat itu terdengar seperti doa. Sekarang, kalimat itu seperti sesuatu yang ditaruh terlalu berat di pundak Naila.
Orang-orang mudah sekali menulis: semoga istiqamah. Seolah setelah itu selesai. Seolah Naila hanya perlu kuat, hanya perlu mengulang hafalan, hanya perlu kembali menjadi dirinya yang dulu.
Kadang yang paling berat adalah percaya lagi, setelah orang yang seharusnya menuntun justru membuat jalan pulang terasa seperti jurang.
Suatu subuh, Naila menutupku pelan sekali. Tidak marah. Tidak membanting. Tidak menangis keras. Hanya menutupku seperti orang yang sudah lama ingin pulang, tapi ketika sampai di depan pintu, malah takut masuk. Sejak hari itu, aku tidak tahu apakah Naila masih menghafal.
Aku hanya tahu, pernah ada ayat-ayat tinggal di dadanya. Pernah ada suara yang lancar. Pernah ada nama yang ditulis rapi di halaman depanku. Dan pernah ada hidup yang terlalu panjang untuk dimasukkan ke kolom keterangan.
Aku punya tempat untuk menulis tanggal, juz, halaman, kesalahan, dan paraf. Tapi aku tidak punya kolom untuk mencatat berapa kali seorang perempuan mencoba pulang kepada Tuhan, lalu dibuat takut oleh orang yang merasa paling tahu jalannya.
Dulu aku mengira tugasku hanya mencatat ayat yang berhasil dihafal Naila: tanggalnya, juznya, lancar tidaknya, dan paraf ustazah.
Setelah Naila menutupku untuk terakhir kali, aku baru tahu, tidak semua orang berhenti membaca karena lupa.
Ada yang berhenti karena terlalu lelah mengetuk pintu yang dulu diajarkan sebagai jalan pulang.
Persembahan:
Untuk seseorang yang pernah membawa ayat-ayat di dadanya. Semoga jalan pulang tidak terasa jauh hanya karena luka.
*Penulis adalah Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
























