Jumat, September 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Ayat-Ayat Luka

Redaksi by Redaksi
Juli 19, 2026 5:31 pm
in Catatan, Sastra & Budaya
Ayat-Ayat Luka

Ilustrasi.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Rohim Warisi

Ayat Ayat Luka 1
Rohim Warisi, penulis cerita pendek. Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari, Gondanglegi, Kabupaten Malang.

 Santri-santri tahfiz, para penghafal Al-Qur’an, biasanya datang kepadaku dengan wajah tegang.

READ ALSO

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Makna Hidup dan Kasih Sayang dalam Puisi

Ada yang tangannya dingin. Ada yang bibirnya komat-kamit sejak dari kamar. Ada yang baru duduk di depan ustazah sudah lupa ayat, lalu tersenyum seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri mangga.

Tugasku mencatat semuanya. Bukan rasa takutnya, tentu saja. Aku hanya mencatat tanggal, juz, halaman, lancar, belum lancar, dan paraf ustazah.

Dari sekian banyak nama yang pernah ditulis di tubuhku, ada satu nama yang paling rapi.

Naila.

Sampulku hijau muda. Pinggirku mulai lecek. Di halaman depanku, nama Naila ditulis dengan huruf yang hati-hati, seolah-olah ia takut namanya sendiri jatuh kalau ditulis sembarangan.

Dulu, Naila membawaku hampir setiap pagi. Sebelum setor, ia selalu merapikan ujung halamanku dengan telunjuknya. Pelan sekali. Kadang sampai tiga kali, padahal halamanku tidak miring-miring amat. Mungkin itu kebiasaannya kalau gugup. Atau mungkin ia memang anak yang ingin segala sesuatu tampak rapi, meskipun isi kepalanya belum tentu begitu.

Kalau mulai setor hafalan, suara Naila pelan saja. Tidak keras, tidak dibuat-buat. Beberapa santri kalau setor suaranya sengaja ditinggikan, seolah satu kamar harus tahu ia sudah sampai juz sekian.

Naila tidak begitu. Ia membaca seperlunya. Jarang salah. Jarang mengulang.

Ustazah biasanya cuma tersenyum.

“Bagus. Lancar.”

Lalu paraf kecil ditulis di tubuhku.

Santri lain kadang iri.

“Naila mah enak, sekali baca langsung nyantol.”

Temannya menjawab, “Kamu juga nyantol. Tapi di bantal.”

Mereka tertawa.

Naila hanya tersenyum kecil. Senyum yang aman. Senyum yang tidak membuat orang bertanya lebih jauh.

Aku dulu mengira Naila baik-baik saja. Semua orang juga begitu. Anak yang hafalannya lancar sering dianggap tidak punya masalah. Seolah-olah kalau ayat bisa keluar dari mulutnya dengan benar, maka hidupnya pasti sedang lurus-lurus saja.

Halaman-halamanku terus penuh. Juz demi juz selesai. Paraf demi paraf bertambah. Sampai suatu hari, ustazah menulis catatan yang membuat banyak orang ikut bangga:

Khatam 30 juz. Semoga istiqamah.

Hari itu aku merasa menjadi buku yang berhasil.

Namaku memang buku setoran, dan setoran Naila sudah selesai. Tiga puluh juz. Lengkap. Rapi. Tidak ada halaman yang terasa sia-sia.

Aku pikir setelah itu hidup akan lebih lembut kepada Naila.

Ternyata aku salah.

Tidak lama setelah khatam, Naila boyong. Pulang dari pondok dan tidak kembali.

Alasannya tidak ditulis di tubuhku. Tidak ada kolom untuk itu. Di dalam diriku hanya ada tanggal, juz, halaman, lancar, belum lancar, dan paraf. Aku tidak punya tempat untuk mencatat kenapa seorang santri yang baru saja selesai menghafal tiga puluh juz tiba-tiba pulang dan tidak kembali.

Orang-orang mengira setelah hafal tiga puluh juz, Naila punya bekal yang cukup untuk menghadapi hidupnya sendiri. Mereka lupa, orang yang hafal tiga puluh juz tetap manusia. Bisa capek. Bisa takut. Bisa jatuh juga.

Naila tidak jatuh karena lupa ayat. Ia jatuh karena setelah keluar dari pondok, hidup tidak pernah bertanya apakah ia masih kuat.

Setelah itu aku lama berada di lemari.

Gelap. Pengap. Kadang tertindih kerudung, kadang tertindih baju lama. Sesekali pintu lemari dibuka, tapi bukan untuk mengambilku. Orang hanya mencari benda-benda yang lebih diperlukan hidup daripada buku setoran yang sudah selesai dipakai.

Lalu aku mulai mendengar nama Naila lagi.

Bukan dari halaqah, tempat setoran hafalan. Bukan dari ustazah. Bukan dari santri yang iri karena hafalannya cepat.

Dari mulut orang-orang.

“Dengar-dengar Naila sekarang begitu.”

“Sayang, dulu anaknya pinter.”

“Padahal tiga puluh juz, lho.”

Manusia aneh. Dulu mereka menyebut nama Naila dengan bangga. Setelah Naila jatuh, mereka menyebut namanya pelan-pelan, seolah suara pelan bisa membuat gosip terdengar seperti doa.

Aku tidak tahu arti “begitu”. Aku hanya buku. Aku tidak bisa keluar dari lemari untuk melihat dunia seperti apa yang dimasuki Naila setelah pondok.

Tapi dari potongan-potongan kabar, aku tahu satu hal: di luar sana, orang tidak banyak bertanya hafalannya sampai mana. Orang bertanya ia bisa kerja apa, butuh uang berapa, pulang jam berapa, dan sanggup bertahan sampai kapan.

Lama setelah itu, lemari tempatku disimpan akhirnya dibuka lagi.

Tangan yang mengambilku bukan lagi tangan santri kecil yang dulu merapikan ujung halamanku sebelum setor. Jarinya lebih kurus. Geraknya lebih pelan. Tapi aku tetap mengenalnya.

Naila.

Ia mengusap sampulku dengan ujung kerudung. Lama sekali ia memandang namanya sendiri di halaman depan. Seperti orang yang bertemu teman lama, tapi malu karena datang dengan wajah yang sudah terlalu jauh berubah.

Malam itu aku dibuka lagi.

Naila membaca pelan. Suaranya tidak selancar dulu. Ada ayat yang berhenti di tengah. Ada huruf yang diulang. Ada napas yang putus sebelum sampai ujung.

Tapi aku tahu, yang berubah bukan hanya hafalannya. Naila seperti sedang membawa sesuatu yang berat, tapi tidak tahu harus meletakkannya di mana.

Beberapa malam ia mencoba membaca sendiri. Kadang sampai setengah halaman. Kadang baru satu ayat sudah berhenti. Lama-lama, mungkin ia merasa perlu dituntun lagi. Bukan karena ia tidak hafal, tapi karena ia tidak lagi percaya pada suaranya sendiri.

Dari situlah ia mulai mengaji kepada seseorang yang kata orang-orang baik. Alim. Sabar. Mengerti cara menuntun orang yang ingin pulang.

Beberapa malam setelah itu, aku sering dibuka. Kadang Naila membaca. Kadang cuma memegang halamanku lama sekali. Kadang tidak ada ayat yang keluar, hanya air mata yang jatuh dan buru-buru ia hapus, seolah menangis juga perlu disembunyikan.

Naila sedang mencoba kembali.

Tidak dengan cerita panjang. Tidak dengan suara besar. Ia hanya membuka buku lamanya, membaca ayat yang dulu pernah ia hafal, seperti orang yang ingin pulang tapi takut salah jalan.

Lalu suatu malam, ia pulang dengan tangan gemetar.

Ia meletakkanku di atas kasur, tapi tidak membukaku. Lama sekali ia duduk di sampingku. Matanya kosong. Bukan kosong seperti orang lupa ayat. Kosong seperti orang yang datang mencari arah, lalu dibuat takut oleh jalan yang ditunjukkan kepadanya.

Aku tidak melihat semuanya.

Aku hanya buku setoran. Mataku cuma halaman. Telingaku cuma bekas suara yang jatuh dekat tubuhku.

Tapi setelah malam itu, cara Naila menyentuhku berubah.

Dulu ia merapikan ujung halamanku sebelum membaca. Sekarang jarinya berhenti lama di pinggir kertas. Seperti orang yang ingin membuka ayat, tapi takut tidak sanggup menutup ingatan.

Orang-orang tetap menyebut tempat itu baik. Mereka tetap berkata, “Untung Naila ada yang membimbing.”

Tapi setiap kali nama orang itu disebut, tangan Naila berhenti lama di atas sampulku. Tidak ada ayat yang keluar. Hanya diam yang panjang.

Setelah itu, aku makin jarang dibuka. Kadang Naila membawaku di dalam tas, tapi sepanjang malam tidak ada satu ayat pun keluar dari mulutnya. Kadang ia menyentuh sampulku, lalu menarik tangannya lagi, seperti seseorang yang ingin pulang tapi sudah takut pada pintu.

Di halaman terakhirku, catatan lama itu masih ada:

Khatam 30 juz. Semoga istiqamah.

Dulu kalimat itu terdengar seperti doa. Sekarang, kalimat itu seperti sesuatu yang ditaruh terlalu berat di pundak Naila.

Orang-orang mudah sekali menulis: semoga istiqamah. Seolah setelah itu selesai. Seolah Naila hanya perlu kuat, hanya perlu mengulang hafalan, hanya perlu kembali menjadi dirinya yang dulu.

Kadang yang paling berat adalah percaya lagi, setelah orang yang seharusnya menuntun justru membuat jalan pulang terasa seperti jurang.

Suatu subuh, Naila menutupku pelan sekali. Tidak marah. Tidak membanting. Tidak menangis keras. Hanya menutupku seperti orang yang sudah lama ingin pulang, tapi ketika sampai di depan pintu, malah takut masuk. Sejak hari itu, aku tidak tahu apakah Naila masih menghafal.

Aku hanya tahu, pernah ada ayat-ayat tinggal di dadanya. Pernah ada suara yang lancar. Pernah ada nama yang ditulis rapi di halaman depanku. Dan pernah ada hidup yang terlalu panjang untuk dimasukkan ke kolom keterangan.

Aku punya tempat untuk menulis tanggal, juz, halaman, kesalahan, dan paraf. Tapi aku tidak punya kolom untuk mencatat berapa kali seorang perempuan mencoba pulang kepada Tuhan, lalu dibuat takut oleh orang yang merasa paling tahu jalannya.

Dulu aku mengira tugasku hanya mencatat ayat yang berhasil dihafal Naila: tanggalnya, juznya, lancar tidaknya, dan paraf ustazah.

Setelah Naila menutupku untuk terakhir kali, aku baru tahu, tidak semua orang berhenti membaca karena lupa.

Ada yang berhenti karena terlalu lelah mengetuk pintu yang dulu diajarkan sebagai jalan pulang.

Persembahan:

Untuk seseorang yang pernah membawa ayat-ayat di dadanya. Semoga jalan pulang tidak terasa jauh hanya karena luka.

*Penulis adalah Khodimul Ma’had  Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

editor: jatmiko

Tags: Al Amin Sukosariayat-ayat lukapondok pesantrenPondok Pesantren TerpaduRohim WarisiSastra Pesantrensastrapesantren

Related Posts

Siapa yang Berhak Disebut NU?
Catatan

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Kamis, 3 Sep 2026
Karya Surya Burhanuddin, 50 Tahun Perjalanan Kasih: Surya & Sjenny (1976-2026). Foto/dok
Catatan

Makna Hidup dan Kasih Sayang dalam Puisi

Kamis, 3 Sep 2026
Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan
Catatan

Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan

Rabu, 2 Sep 2026
Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Next Post
Mortir Ditemukan di Gudang Rongsokan Kepanjen, Tim Gegana Lakukan Disposal

Mortir Ditemukan di Gudang Rongsokan Kepanjen, Tim Gegana Lakukan Disposal

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.