Oleh: Aries Musnandar
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, refleksi atas makna kedaulatan bangsa menjadi semakin mendesak. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi yang bergerak eksponensial, makna kedaulatan sebuah negara telah mengalami pergeseran paradigma yang radikal. Kedaulatan kini tidak lagi sekadar urusan menjaga batas wilayah fisik dari ancaman militer konvensional.
Memasuki usia ke-81 tahun Indonesia merdeka, tantangan nyata justru terletak pada bagaimana kita menjaga ketahanan mentalitas warga di ruang siber. Ruang digital memang mempercepat arus informasi, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan fragmentasi sosial, polarisasi horizontal, dan kecenderungan masyarakat semakin mudah terbelah.
Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa eksistensi sebuah negara tidak semata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Kohesi sosial, kepercayaan antarmasyarakat (trust), serta kemampuan warga untuk bergerak bersama justru menjadi fondasi paling krusial.
Jika pada masa perjuangan 1945 senjata adalah alat utama, maka di era digital ini, persatuan emosional dan intelektual di ruang virtual adalah tameng utama kita.
Dalam konteks itulah, menyambut fajar kemerdekaan ke-81 ini, semangat “holopis kuntul baris” menemukan relevansinya kembali. Ungkapan yang hidup dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda tersebut secara umum dimaknai sebagai ajakan untuk bergerak bersama secara serempak dan teratur. Ia lahir dari pengalaman kolektif masyarakat agraris yang menempatkan gotong royong sebagai episentrum kehidupan bersama.
Baca juga: Guru dan Orang Tua: Dua Sisi Mata Uang Pendidikan Akhlak
Pada masa lalu, seruan itu lazim terdengar ketika masyarakat mengerjakan pekerjaan fisik yang berat: membangun jalan desa, memperbaiki saluran irigasi, atau memindahkan beban besar. Tradisi ini kemudian disempurnakan oleh falsafah “cancut taliwondo”, yang berarti menyingsingkan baju untuk segera bekerja tanpa menunda-nunda.
Jika holopis kuntul baris adalah komando persatuan dan keselarasan irama, maka cancut taliwondo adalah aksi nyata yang tangkas dan responsif. Keduanya membentuk satu kesatuan etos: bersatu dalam visi, bergerak cepat dalam aksi.
Hari ini, tantangan yang kita hadapi tentu berbeda, tetapi esensinya tetap sama. Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Sayangnya, modal sosial tersebut perlahan terkikis akibat individualisme, intoleransi, dan pertentangan yang tidak produktif di ruang digital.
Media sosial yang semestinya memperkuat literasi publik kerap berubah menjadi arena pertengkaran tanpa ujung.
Informasi palsu (hoaks), ujaran kebencian, dan polarisasi mudah menyebar karena masyarakat semakin terbiasa merespons sebelum memverifikasi.
Energi sosial bangsa sering habis untuk konflik simbolik di linimasa, bukan untuk menyelesaikan persoalan riil bersama. Di sinilah dunia pendidikan harus mengambil peran intervensi.
Generasi muda hari ini adalah warga asli digital (digital natives) yang tumbuh dalam ekosistem siber yang penuh disrupsi. Menjadikan momentum HUT RI ke-81 sebagai titik balik, nilai gotong royong tradisional ini harus ditransformasikan ke dalam institusi pendidikan kita melalui metodologi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran yang tepat.
Baca juga: Belajar Disiplin dari Negeri Matahari Terbit
Pendidikan kebangsaan tidak boleh lagi terjebak pada indoktrinasi tekstual atau sekadar romantisme sejarah masa lalu.
Tugas berat dunia pendidikan hari ini adalah membangun kecerdasan kewarganegaraan digital (digital civic intelligence). Lembaga pendidikan harus mampu mendidik generasi muda agar memiliki kemampuan membangun dialog yang sehat, menyaring informasi secara kritis, menjaga empati sosial, serta menempatkan kepentingan publik di atas algoritma pencari panggung.
Agar harapan tersebut tidak menjadi utopia, jembatan utamanya ada pada guru. Di sinilah pentingnya program pelatihan guru yang berfokus pada integrasi teknologi pembelajaran berbasis nilai.
Pelatihan guru tidak boleh lagi hanya berkutat pada aspek teknis, seperti cara mengoperasikan perangkat digital atau membuat media pembelajaran yang estetis. Lebih dari itu, para guru harus dilatih untuk memiliki kompetensi digital pedagogy yang humanis.
Guru harus mampu mendesain ruang kelas digital yang kolaboratif, di mana siswa diajak mempraktikkan langsung etos gotong royong modern. Melalui pelatihan terstruktur, guru dipersiapkan untuk memandu siswa memutus mata rantai hoaks, menghentikan perundungan siber (cyberbullying), dan mengonsolidasikan gerakan sosial berbasis komunitas virtual untuk kemanusiaan.
Menghidupkan kembali semangat “holopis kuntul baris” di era digital berarti menempatkan kembali gotong royong sebagai etos sosial modern.
Kemerdekaan ke-81 bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum pembuktian bahwa bangsa ini mampu berdaulat secara digital. Ketika guru dan dosen telah membekali tunas-tunas muda dengan kecerdasan digital, saat itulah kita benar-benar siap menghadapi tantangan zaman. Mari singsingkan lengan baju, bersiap, dan bergerak serempak.
Holopis kuntul baris. Cancut taliwondo!
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Dr. Aries Musnandar, Dosen Mata Kuliah Teknologi Pembelajaran di Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang, sekaligus penggiat pendidikan politik kebangsaan.
editor: jatmiko


























