Kota Batu, Tugumalang.id – Kisah menyentuh datang dari sosok ibu penjaga loket penitipan barang di Masjid An-Nuur Kota Batu, Jawa Timur. Namanya Nur Khofifah. Warga Jalan Ikhwan Hadi Gang 8, Kelurahan Ngaglik Kota Batu.
Sehari-hari, ibu berusia 61 tahun itu menghabiskan sebagian besar waktunya di loket penitipan barang di masjid tersebut. Dengan ramah dan cekatan, ibu tersebut melayani dan menerima titipan barang milik pengunjung yang datang.
Setelah menyimpan barang tersebut di kotak lemari, ia langsung menyerahkan kartu nomor yang sesuai dengan nomor kotak lemarinya. Nanti, pengunjung tinggal menyerahkan kartu tersebut untuk mengambil kembali barangnya.

Sepintas, aktivitas yang dia lakoni memang tampak remeh-temeh. Menjaga barang titipan milik jamaah. Butuh dedikasi, komitmen dan keikhlasan level dewa bagi seseorang untuk melakoni aktivitas tersebut.
Berkat jasanya pula, barang-barang berharga milik jamaah pengunjung bisa tetap aman dan terjaga. Dengan menitipkan barang di sana, pengunjung bisa fokus beribadah, tanpa harus was-was memikirkan barang mereka tertinggal atau hilang.
Ibu kelahiran asli Kota Batu itu menilai pekerjaan yang dilakoninya sangat mulia sebab berkaitan dengan tanggung jawab dan amanah. Saking dedikasinya, Khofifah bahkan rela berkutat dengan aktivitas itu selama hampir 24 jam nonstop.
”Saya di sini sudah 3 tahun. Jaga di sini mulai jam subuh sampai jam 9 malam,” ujar Khofifah ditemui tugumalang.id di sela kesibukannya menerima titipan barang para jamaah.
Ditanya kenapa harus selama itu dia berjaga di loket penitipan barang masjid? Khofifah memiliki alasan dan motivasi yang mengharukan. Khofifah adalah seorang ibu yang kini tinggal sebatang kara di rumahnya.
Suaminya sudah meninggal. Anak-anaknya sudah menikah dan hidup bersama keluarganya masing-masing. Untuk mengisi hari-harinya, hanya pekerjaan itulah yang dirasa mampu mengusir penat. Hitung-hitung, juga sekaligus mencurahkan sisa pikiran, hati dan tenaganya di rumah ibadah.
”Ya daripada sendirian di rumah, mending kan di sini. Ramai, banyak orang. Sekaligus beribadah dan nabung pahala,” tutur beliau, santai.
Berkat jasanya pula, kejadian barang tertinggal atau hilang milik jamaah kian berkurang dari tahun ke tahun. Berbeda dari sebelumnya yang ditemukan banyak barang-barang tanpa identitas milik jamaah tertinggal dan kemudian hilang.
Agar menjadi pengingat, barang-barang ketinggalan itu kemudian dipajang rapi di sebuah etalase kaca.
Di dalamnya berisi aneka macam barang. Mulai jam tangan, gelang, bros, tas, kacamata, hingga dompet dan sabun tampak tertata rapi seperti barang dagangan.
Kotak etalase kaca itu sengaja dibuat agar ketika pemilik bisa mengidentifikasi barang miliknya yang tertinggal. Namun, kebanyakan pemilik barang rata-rata memilih untuk mengikhlaskannya. Pasalnya, semakin lama, deretan barang di dalamnya semakin penuh.
Bahkan, dari sekitar hampir mencapai ribuan barang itu ada yang sudah berusia 5 tahun. Bahkan ada jam tangan yang bernilai jutaan rupiah. ”Kenapa tidak diambil-ambil? Bisa jadi pemiliknya orang luar kota. Jadi mereka pasrah saja. Yang datang ke sini kan banyak yang dari luar kota, wisatawan,” ungkapnya.

Meski begitu, pihak takmir masjid tetap memilih untuk menyimpan barang-barang tersebut dengan pertimbangan siapa tahu pemiliknya kembali suatu hari dan mencari barangnya.
Namun agar tidak menjadi sampah, pihak takmir memutuskan untuk melelang barang-barang yang masih berharga tersebut jika sudah berusia 3-5 tahun. ”Nanti hasilnya masuk ke kas masjid. Dinilai sebagai amal bagi pemiliknya, siapapun itu,” ungkap Khofifah.
Reporter: Ulul Azmy
editor: jatmiko





























