Tugumalang.id-Pernahkah kamu merasa cemas, rendah diri, atau sulit percaya pada orang lain akibat pola asuh orang tua? Banyak orang tidak menyadari bahwa luka psikologis itu sering kali berakar dari toxic parenting. Istilah ini mengacu pada pola asuh orang tua yang secara konsisten merugikan kesejahteraan emosional anak.
Apa Itu Toxic Parenting?
Menurut Dr. Susan Forward dalam bukunya Toxic Parents: Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life (1989), toxic parenting adalah pola pengasuhan ketika orang tua, sadar maupun tidak, menempatkan kebutuhan emosional mereka di atas kebutuhan anak.
Ciri-ciri toxic parenting antara lain:
Manipulasi emosional
Kritik berlebihan tanpa dukungan positif
Pengendalian yang ekstrem
Pengabaian terhadap kebutuhan emosional anak
Bukan sekadar “kemarahan sesaat”, toxic parenting adalah perilaku yang konsisten dan intens, sehingga dapat merusak harga diri serta kesehatan mental anak hingga dewasa.

Mengapa Toxic Parenting Bisa Terjadi?
Penelitian Putnick di Developmental Psychology menunjukkan bahwa toxic parenting sering terbentuk dari transgenerational transmission, yakni pola asuh yang diwariskan lintas generasi. Beberapa faktor penyebabnya meliputi:
Trauma masa kecil orang tua
Orang tua yang dulu mengalami kekerasan, penelantaran, atau dibanding-bandingkan cenderung mengulang pola yang sama pada anaknya.
Kesehatan mental yang terganggu
Depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian membuat orang tua sulit merespons kebutuhan emosional anak.
Tekanan sosial-ekonomi
Stres karena keuangan, pekerjaan, atau kondisi hidup tidak stabil membuat orang tua lebih mudah melampiaskan frustrasi kepada anak.
Seperti ditegaskan Dr. Gabor Maté, orang tua yang belum sembuh dari luka batin sering kali tanpa sadar mewariskan luka itu kepada anak-anaknya.
Baca juga: Toxic Positivity: Ketika “Stay Positive” Justru Membuat Tertekan
Dampak Toxic Parenting pada Anak
Lingkungan keluarga yang penuh kritik, manipulasi, dan kontrol berlebihan bisa menimbulkan efek jangka panjang. Beberapa dampak yang paling sering muncul adalah:
Harga diri rendah
Anak merasa tidak pernah cukup baik meski berprestasi.
Kesulitan mengatur emosi
Lebih rentan mengalami emotional dysregulation atau ledakan emosi yang tidak terkendali.
Relasi interpersonal tidak sehat
Pola hubungan penuh syarat dan manipulatif terbawa hingga ke pertemanan, percintaan, bahkan dunia kerja.
Cara Mengatasi Dampak Toxic Parenting
Meski dampaknya berat, luka dari toxic parenting bisa dipulihkan. Berikut langkah yang bisa ditempuh:
Menyadari dan memberi label pada pengalaman
Mengakui bahwa pola asuh yang diterima bersifat toksik adalah langkah awal. Dengan begitu, kita bisa memisahkan identitas diri dari luka masa lalu.
Membangun batas sehat (healthy boundaries)
Menentukan jarak atau batas komunikasi dengan orang tua yang toksik adalah bentuk perlindungan diri. Batas ini tidak selalu berarti memutus hubungan, tapi menjaga diri agar lebih aman secara emosional.
Mengikuti terapi atau konseling
Terapi kognitif-perilaku (CBT) maupun terapi berbasis trauma efektif membantu mengubah pola pikir negatif, meningkatkan regulasi emosi, serta membangun harga diri yang lebih sehat.
Baca juga: Toxic Productivity: Ketika Produktivitas Menjadi Beban yang Tak Terlihat
Penutup
Toxic parenting bukan sekadar pola asuh yang salah, melainkan pola yang bisa meninggalkan luka psikologis mendalam. Namun, dengan kesadaran, batas yang sehat, dan dukungan profesional, rantai toxic parenting bisa diputus. Inilah investasi besar agar generasi berikutnya tumbuh di lingkungan yang lebih sehat secara emosional.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko





























