Rabu, Juli 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Toxic Productivity: Ketika Produktivitas Menjadi Beban yang Tak Terlihat

Redaksi by Redaksi
Juli 24, 2025 10:47 am
in Tugu Sehat
Toxic Productivity

Ilustrasi/foto:freepik

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Di tengah budaya serba cepat dan digitalisasi yang masif, banyak orang merasa harus terus sibuk demi dianggap sukses. Notifikasi pekerjaan berdentang tanpa henti, media sosial penuh dengan kisah “hustle culture”, hingga muncul rasa bersalah saat mencoba beristirahat. Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity—dorongan obsesif untuk terus produktif, meski mengorbankan kesehatan mental, fisik, dan hubungan sosial.

Apa Itu Toxic Productivity?

Menurut Dr. Natalie Christine Dattilo dari Harvard Medical School, toxic productivity adalah kondisi di mana seseorang sulit membedakan antara kerja keras yang sehat dan kebiasaan “selalu sibuk” yang justru merusak. Di balik semangat produktivitas, tersimpan tekanan untuk terus berbuat, seolah “berhenti = gagal”.

READ ALSO

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Baca juga: Gejala dan Cara Mengatasi Toxic Productivity

Perspektif Psikologi: Akar dari Toxic Productivity

Toxic productivity
ilustrasi/pinterest

Secara psikologis, toxic productivity dapat dijelaskan melalui Self‑Determination Theory oleh Deci & Ryan, yang menyebut bahwa manusia butuh tiga hal untuk berkembang secara sehat: otonomi, kompetensi, dan koneksi sosial. Ketika hanya aspek kompetensi (menjadi ahli atau produktif) yang dikejar, sementara dua lainnya diabaikan, maka muncullah ketidakseimbangan emosi dan mental.

Dr. Bryan Robinson, pakar burnout dan kesejahteraan kerja, menyebut bahwa banyak orang merasa bersalah saat tidak bekerja, seolah waktu istirahat adalah kemewahan yang tak boleh dimiliki. Rasa bersalah inilah yang menjadi bahan bakar toxic productivity.

Budaya “Hustle” dan Media Sosial: Pemicu yang Tak Terlihat

Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Narasi seperti “grind every day” atau “work while they sleep” menciptakan tekanan sosial untuk selalu produktif. Israa Nasir, psikoterapis dan penulis buku Toxic Productivity, menyebut kondisi ini sebagai “hyper-optimization mindset”, yaitu keyakinan bahwa semua hal dalam hidup—bahkan waktu santai—harus memberikan output atau manfaat.

Selain itu, FOMO (fear of missing out), tekanan dari lingkungan kerja, dan akses digital 24/7 membuat toxic productivity semakin sulit dikenali, tapi efeknya nyata dan merusak.

Baca juga: Waktunya Digital Detox! Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental di Era Sosial Media

Dampak Buruk Toxic Productivity terhadap Kesehatan Mental dan Sosial

Toxic productivity dapat menyebabkan:

  • Burnout (kelelahan fisik dan emosional)

  • Kecemasan dan insomnia

  • Depresi ringan hingga kehilangan makna hidup

  • Rusaknya hubungan sosial dan keluarga

Eva Elisa Schneider, psikolog dan konsultan karier, menekankan bahwa toxic productivity sering kali muncul sebagai bentuk perfeksionisme terselubung, terutama pada individu yang menetapkan standar tinggi tanpa mengenali batasan diri.

Ilustrasi
Ilustrasi/freepik

Cara Keluar dari Jebakan Toxic Productivity

Untuk membebaskan diri dari toxic productivity, berikut beberapa langkah strategis yang direkomendasikan para pakar:

1. Praktik Self-Compassion

Belajar bersikap lembut pada diri sendiri. Menurut Israa Nasir, istirahat bukan bentuk kegagalan, tapi bagian penting dari produktivitas yang sehat.

2. Mindfulness dan Refleksi Diri

Luangkan waktu untuk “check-in” emosional setiap hari. Sadari kapan tubuh dan pikiran butuh jeda.

3. Membangun Batasan Sehat (Boundaries)

Tentukan jam kerja yang jelas, hindari membawa pekerjaan ke waktu pribadi, dan manfaatkan hari libur untuk pemulihan total.

4. Re-definisi Makna Produktivitas

Seperti yang diungkapkan Jennifer Moss dalam Harvard Business Review, produktivitas sebaiknya diukur dari makna dan kualitas, bukan semata kuantitas.

5. Menghargai Istirahat

Dalam kuliah terkenalnya The Science of Well-Being, Dr. Laurie Santos menyarankan untuk melihat istirahat sebagai kebutuhan biologis, bukan kelemahan.

Kesimpulan

Toxic productivity bukan tentang seberapa keras kita bekerja, tetapi tentang sejauh mana kita kehilangan diri dalam kesibukan. Kesadaran akan bahaya produktivitas yang tidak sehat sangat penting di era modern ini.

Dengan memahami konsep toxic productivity dari sisi psikologis, kita bisa membangun pola hidup seimbang: tetap berkarya tanpa kehilangan diri. Ingat, produktivitas sejati adalah yang membuat kita tumbuh, bukan hancur perlahan.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: budaya kerja modernburnoutHustle CultureKesehatan Mentalkesehatan mental kerjakeseimbangan hidupmental health awarenessproduktivitas berlebihanproduktivitas sehatpsikologi kerjaself-compassionToxic Productivity

Related Posts

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?
Tugu Sehat

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?

Jumat, 10 Jul 2026
5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya
Tugu Sehat

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Senin, 6 Jul 2026
Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara
Tugu Sehat

Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara

Minggu, 5 Jul 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Investasi Kesehatan Terbaik! Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Wanita, Mulai RP 990 Ribu

Minggu, 28 Jun 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Pria Mulai Rp 900 Ribu!

Sabtu, 27 Jun 2026
PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang gelar webinar session sebagai bentuk dukungan terhadap tumbuh kembang anak, khususnya anak dengan gangguan autisme. /Foto: Dok. PSLC.
Tugu Sehat

Gratis! Ikuti Event Webinar Session PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang

Kamis, 25 Jun 2026
Next Post
AI untuk Video

Deretan AI untuk Video: Dari Gratis Hingga Berbayar, Mana yang Cocok untuk Kreator?

BERITA POPULER

  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.