Malang, Tugumalang.id – Di tengah budaya serba cepat dan digitalisasi yang masif, banyak orang merasa harus terus sibuk demi dianggap sukses. Notifikasi pekerjaan berdentang tanpa henti, media sosial penuh dengan kisah “hustle culture”, hingga muncul rasa bersalah saat mencoba beristirahat. Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity—dorongan obsesif untuk terus produktif, meski mengorbankan kesehatan mental, fisik, dan hubungan sosial.
Apa Itu Toxic Productivity?
Menurut Dr. Natalie Christine Dattilo dari Harvard Medical School, toxic productivity adalah kondisi di mana seseorang sulit membedakan antara kerja keras yang sehat dan kebiasaan “selalu sibuk” yang justru merusak. Di balik semangat produktivitas, tersimpan tekanan untuk terus berbuat, seolah “berhenti = gagal”.
Baca juga: Gejala dan Cara Mengatasi Toxic Productivity
Perspektif Psikologi: Akar dari Toxic Productivity

Secara psikologis, toxic productivity dapat dijelaskan melalui Self‑Determination Theory oleh Deci & Ryan, yang menyebut bahwa manusia butuh tiga hal untuk berkembang secara sehat: otonomi, kompetensi, dan koneksi sosial. Ketika hanya aspek kompetensi (menjadi ahli atau produktif) yang dikejar, sementara dua lainnya diabaikan, maka muncullah ketidakseimbangan emosi dan mental.
Dr. Bryan Robinson, pakar burnout dan kesejahteraan kerja, menyebut bahwa banyak orang merasa bersalah saat tidak bekerja, seolah waktu istirahat adalah kemewahan yang tak boleh dimiliki. Rasa bersalah inilah yang menjadi bahan bakar toxic productivity.
Budaya “Hustle” dan Media Sosial: Pemicu yang Tak Terlihat
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Narasi seperti “grind every day” atau “work while they sleep” menciptakan tekanan sosial untuk selalu produktif. Israa Nasir, psikoterapis dan penulis buku Toxic Productivity, menyebut kondisi ini sebagai “hyper-optimization mindset”, yaitu keyakinan bahwa semua hal dalam hidup—bahkan waktu santai—harus memberikan output atau manfaat.
Selain itu, FOMO (fear of missing out), tekanan dari lingkungan kerja, dan akses digital 24/7 membuat toxic productivity semakin sulit dikenali, tapi efeknya nyata dan merusak.
Baca juga: Waktunya Digital Detox! Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental di Era Sosial Media
Dampak Buruk Toxic Productivity terhadap Kesehatan Mental dan Sosial
Toxic productivity dapat menyebabkan:
-
Burnout (kelelahan fisik dan emosional)
-
Kecemasan dan insomnia
-
Depresi ringan hingga kehilangan makna hidup
-
Rusaknya hubungan sosial dan keluarga
Eva Elisa Schneider, psikolog dan konsultan karier, menekankan bahwa toxic productivity sering kali muncul sebagai bentuk perfeksionisme terselubung, terutama pada individu yang menetapkan standar tinggi tanpa mengenali batasan diri.

Cara Keluar dari Jebakan Toxic Productivity
Untuk membebaskan diri dari toxic productivity, berikut beberapa langkah strategis yang direkomendasikan para pakar:
1. Praktik Self-Compassion
Belajar bersikap lembut pada diri sendiri. Menurut Israa Nasir, istirahat bukan bentuk kegagalan, tapi bagian penting dari produktivitas yang sehat.
2. Mindfulness dan Refleksi Diri
Luangkan waktu untuk “check-in” emosional setiap hari. Sadari kapan tubuh dan pikiran butuh jeda.
3. Membangun Batasan Sehat (Boundaries)
Tentukan jam kerja yang jelas, hindari membawa pekerjaan ke waktu pribadi, dan manfaatkan hari libur untuk pemulihan total.
4. Re-definisi Makna Produktivitas
Seperti yang diungkapkan Jennifer Moss dalam Harvard Business Review, produktivitas sebaiknya diukur dari makna dan kualitas, bukan semata kuantitas.
5. Menghargai Istirahat
Dalam kuliah terkenalnya The Science of Well-Being, Dr. Laurie Santos menyarankan untuk melihat istirahat sebagai kebutuhan biologis, bukan kelemahan.
Kesimpulan
Toxic productivity bukan tentang seberapa keras kita bekerja, tetapi tentang sejauh mana kita kehilangan diri dalam kesibukan. Kesadaran akan bahaya produktivitas yang tidak sehat sangat penting di era modern ini.
Dengan memahami konsep toxic productivity dari sisi psikologis, kita bisa membangun pola hidup seimbang: tetap berkarya tanpa kehilangan diri. Ingat, produktivitas sejati adalah yang membuat kita tumbuh, bukan hancur perlahan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko
























