Tugumalang.id – Kalimat seperti “Ayo semangat, jangan sedih terus!” atau “Pikir positif aja, pasti bisa kok” sering kali terdengar menenangkan. Namun, bagi sebagian orang, kata-kata tersebut justru bisa memicu rasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu bersikap positif meski sedang berada dalam situasi sulit.
Padahal, emosi seperti sedih, marah, atau kecewa adalah bagian normal dari kehidupan. Jika dipaksakan untuk diabaikan, justru dapat merugikan kesehatan mental seseorang.
Baca juga: Emotional Agility: Kunci Ketangkasan Emosional di Tengah Dinamika Kehidupan
Apa Itu Toxic Positivity?

Istilah toxic positivity mulai populer pada 2019 setelah dijelaskan oleh psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman. Ia mendefinisikannya sebagai obsesi berlebihan terhadap sikap positif di semua situasi yang justru memicu penyangkalan, minimnya empati, dan penekanan emosi.
Berbeda dengan berpikir positif yang sehat, toxic positivity menghapus ruang bagi pengalaman emosional yang nyata. Alih-alih membantu, sikap ini membuat seseorang merasa bersalah karena tidak selalu bahagia.
Penelitian Shipp & Hall (2024) menemukan beberapa dampak toxic positivity, di antaranya:
-
Emotional suppression – menekan emosi negatif tanpa mengolahnya, yang bisa memicu stres kronis.
-
Optimisme tidak realistis – berharap semua akan berakhir baik tanpa bukti pendukung.
-
Forced gratitude – memaksakan rasa syukur dalam situasi buruk, yang justru memperburuk perasaan.
Mengapa Toxic Positivity Semakin Marak?
Salah satu pemicu utamanya adalah media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi konten kehidupan yang tampak bahagia, estetik, dan sempurna. Jarang sekali momen kesedihan atau kegagalan dibagikan, sehingga menciptakan ilusi bahwa emosi negatif harus disembunyikan.
Penelitian Zoe Wyatt menyebut budaya #PositiveVibesOnly menimbulkan tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia. Akibatnya, banyak orang memendam emosi demi citra digital, yang berujung pada kesehatan mental yang rentan.
Alternatif Sehat Menghadapi Emosi Negatif
Para psikolog menyarankan dua pendekatan yang lebih sehat dibanding toxic positivity:
-
Emotional Realism
Menurut Susan David, psikolog Harvard Medical School, emosi bukan untuk dikendalikan atau disangkal, tetapi dipahami.
Emotional realism berarti menerima semua emosi—baik maupun buruk—sebagaimana adanya, sehingga kita tetap terhubung dengan realitas dan dapat membuat keputusan yang sehat.
-
Tragic Optimism
Diperkenalkan oleh Viktor Frankl, penyintas Holocaust, konsep ini menekankan harapan meski di tengah penderitaan.
Bedanya dengan toxic positivity, tragic optimism mengakui kesulitan namun tetap percaya diri bisa melewatinya.
Contohnya:
-
Mengatakan, “Aku tahu ini berat, tapi aku percaya kamu bisa melewatinya” ketimbang “Semua akan baik-baik saja”.
-
Bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” alih-alih langsung berkata, “Semangat ya”.
-
Kesimpulan
Toxic positivity pada dasarnya adalah bentuk emotional invalidation—menolak validitas emosi negatif. Untuk menciptakan kesehatan mental yang lebih baik, kita perlu memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan, lalu mengelolanya secara sadar.
Dengan mengadopsi emotional realism dan tragic optimism, kita bisa membangun hubungan yang lebih tulus, memahami diri sendiri lebih baik, dan menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih seimbang—tanpa terjebak dalam tuntutan untuk selalu bahagia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko
























