Sabtu, Juli 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Toxic Positivity: Ketika “Stay Positive” Justru Membuat Tertekan

Redaksi by Redaksi
Agustus 12, 2025 6:15 am
in Tugu Sehat
Toxic Positivity

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Kalimat seperti “Ayo semangat, jangan sedih terus!” atau “Pikir positif aja, pasti bisa kok” sering kali terdengar menenangkan. Namun, bagi sebagian orang, kata-kata tersebut justru bisa memicu rasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu bersikap positif meski sedang berada dalam situasi sulit.

Padahal, emosi seperti sedih, marah, atau kecewa adalah bagian normal dari kehidupan. Jika dipaksakan untuk diabaikan, justru dapat merugikan kesehatan mental seseorang.

READ ALSO

Mengenal Kombucha, Teh Fermentasi yang Semakin Populer tetapi Manfaatnya Masih Terus Diteliti

Sinom Bangkit Lewat Kemasan Modern, Minuman Tradisional Kini Mulai Dilirik Generasi Muda

Baca juga: Emotional Agility: Kunci Ketangkasan Emosional di Tengah Dinamika Kehidupan

Apa Itu Toxic Positivity?

Ilustrasi
Ilustrasi/freepik

Istilah toxic positivity mulai populer pada 2019 setelah dijelaskan oleh psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman. Ia mendefinisikannya sebagai obsesi berlebihan terhadap sikap positif di semua situasi yang justru memicu penyangkalan, minimnya empati, dan penekanan emosi.

Berbeda dengan berpikir positif yang sehat, toxic positivity menghapus ruang bagi pengalaman emosional yang nyata. Alih-alih membantu, sikap ini membuat seseorang merasa bersalah karena tidak selalu bahagia.

Penelitian Shipp & Hall (2024) menemukan beberapa dampak toxic positivity, di antaranya:

  • Emotional suppression – menekan emosi negatif tanpa mengolahnya, yang bisa memicu stres kronis.

  • Optimisme tidak realistis – berharap semua akan berakhir baik tanpa bukti pendukung.

  • Forced gratitude – memaksakan rasa syukur dalam situasi buruk, yang justru memperburuk perasaan.

Mengapa Toxic Positivity Semakin Marak?

Salah satu pemicu utamanya adalah media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi konten kehidupan yang tampak bahagia, estetik, dan sempurna. Jarang sekali momen kesedihan atau kegagalan dibagikan, sehingga menciptakan ilusi bahwa emosi negatif harus disembunyikan.

Penelitian Zoe Wyatt menyebut budaya #PositiveVibesOnly menimbulkan tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia. Akibatnya, banyak orang memendam emosi demi citra digital, yang berujung pada kesehatan mental yang rentan.

Alternatif Sehat Menghadapi Emosi Negatif

Para psikolog menyarankan dua pendekatan yang lebih sehat dibanding toxic positivity:

  1. Emotional Realism

    Menurut Susan David, psikolog Harvard Medical School, emosi bukan untuk dikendalikan atau disangkal, tetapi dipahami.

    Emotional realism berarti menerima semua emosi—baik maupun buruk—sebagaimana adanya, sehingga kita tetap terhubung dengan realitas dan dapat membuat keputusan yang sehat.

  2. Tragic Optimism

    Diperkenalkan oleh Viktor Frankl, penyintas Holocaust, konsep ini menekankan harapan meski di tengah penderitaan.

    Bedanya dengan toxic positivity, tragic optimism mengakui kesulitan namun tetap percaya diri bisa melewatinya.

    Contohnya:

    • Mengatakan, “Aku tahu ini berat, tapi aku percaya kamu bisa melewatinya” ketimbang “Semua akan baik-baik saja”.

    • Bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” alih-alih langsung berkata, “Semangat ya”.

Kesimpulan

Toxic positivity pada dasarnya adalah bentuk emotional invalidation—menolak validitas emosi negatif. Untuk menciptakan kesehatan mental yang lebih baik, kita perlu memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan, lalu mengelolanya secara sadar.

Dengan mengadopsi emotional realism dan tragic optimism, kita bisa membangun hubungan yang lebih tulus, memahami diri sendiri lebih baik, dan menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih seimbang—tanpa terjebak dalam tuntutan untuk selalu bahagia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: dampak toxic positivityDr Jaime Zuckermanemotional realismemotional suppressionforced gratitudeKesehatan MentalMedia Sosialoptimisme tidak realistispositive vibes onlySusan DavidToxic Positivitytragic optimismviktor frankl

Related Posts

Mengenal Kombucha, Teh Fermentasi yang Semakin Populer tetapi Manfaatnya Masih Terus Diteliti
Tugu Sehat

Mengenal Kombucha, Teh Fermentasi yang Semakin Populer tetapi Manfaatnya Masih Terus Diteliti

Kamis, 16 Jul 2026
jamu sinom
Tugu Sehat

Sinom Bangkit Lewat Kemasan Modern, Minuman Tradisional Kini Mulai Dilirik Generasi Muda

Kamis, 16 Jul 2026
Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?
Tugu Sehat

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?

Jumat, 10 Jul 2026
5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya
Tugu Sehat

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Senin, 6 Jul 2026
Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara
Tugu Sehat

Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara

Minggu, 5 Jul 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Investasi Kesehatan Terbaik! Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Wanita, Mulai RP 990 Ribu

Minggu, 28 Jun 2026
Next Post
Film Indonesia

5 Film Indonesia Terlaris 2025, dari Jumbo hingga Jalan Pulang

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.