Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Toxic Positivity: Ketika “Stay Positive” Justru Membuat Tertekan

Redaksi by Redaksi
Agustus 12, 2025 6:15 am
in Tugu Sehat
Toxic Positivity

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Kalimat seperti “Ayo semangat, jangan sedih terus!” atau “Pikir positif aja, pasti bisa kok” sering kali terdengar menenangkan. Namun, bagi sebagian orang, kata-kata tersebut justru bisa memicu rasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu bersikap positif meski sedang berada dalam situasi sulit.

Padahal, emosi seperti sedih, marah, atau kecewa adalah bagian normal dari kehidupan. Jika dipaksakan untuk diabaikan, justru dapat merugikan kesehatan mental seseorang.

READ ALSO

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Baca juga: Emotional Agility: Kunci Ketangkasan Emosional di Tengah Dinamika Kehidupan

Apa Itu Toxic Positivity?

Ilustrasi
Ilustrasi/freepik

Istilah toxic positivity mulai populer pada 2019 setelah dijelaskan oleh psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman. Ia mendefinisikannya sebagai obsesi berlebihan terhadap sikap positif di semua situasi yang justru memicu penyangkalan, minimnya empati, dan penekanan emosi.

Berbeda dengan berpikir positif yang sehat, toxic positivity menghapus ruang bagi pengalaman emosional yang nyata. Alih-alih membantu, sikap ini membuat seseorang merasa bersalah karena tidak selalu bahagia.

Penelitian Shipp & Hall (2024) menemukan beberapa dampak toxic positivity, di antaranya:

  • Emotional suppression – menekan emosi negatif tanpa mengolahnya, yang bisa memicu stres kronis.

  • Optimisme tidak realistis – berharap semua akan berakhir baik tanpa bukti pendukung.

  • Forced gratitude – memaksakan rasa syukur dalam situasi buruk, yang justru memperburuk perasaan.

Mengapa Toxic Positivity Semakin Marak?

Salah satu pemicu utamanya adalah media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi konten kehidupan yang tampak bahagia, estetik, dan sempurna. Jarang sekali momen kesedihan atau kegagalan dibagikan, sehingga menciptakan ilusi bahwa emosi negatif harus disembunyikan.

Penelitian Zoe Wyatt menyebut budaya #PositiveVibesOnly menimbulkan tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia. Akibatnya, banyak orang memendam emosi demi citra digital, yang berujung pada kesehatan mental yang rentan.

Alternatif Sehat Menghadapi Emosi Negatif

Para psikolog menyarankan dua pendekatan yang lebih sehat dibanding toxic positivity:

  1. Emotional Realism

    Menurut Susan David, psikolog Harvard Medical School, emosi bukan untuk dikendalikan atau disangkal, tetapi dipahami.

    Emotional realism berarti menerima semua emosi—baik maupun buruk—sebagaimana adanya, sehingga kita tetap terhubung dengan realitas dan dapat membuat keputusan yang sehat.

  2. Tragic Optimism

    Diperkenalkan oleh Viktor Frankl, penyintas Holocaust, konsep ini menekankan harapan meski di tengah penderitaan.

    Bedanya dengan toxic positivity, tragic optimism mengakui kesulitan namun tetap percaya diri bisa melewatinya.

    Contohnya:

    • Mengatakan, “Aku tahu ini berat, tapi aku percaya kamu bisa melewatinya” ketimbang “Semua akan baik-baik saja”.

    • Bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” alih-alih langsung berkata, “Semangat ya”.

Kesimpulan

Toxic positivity pada dasarnya adalah bentuk emotional invalidation—menolak validitas emosi negatif. Untuk menciptakan kesehatan mental yang lebih baik, kita perlu memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan, lalu mengelolanya secara sadar.

Dengan mengadopsi emotional realism dan tragic optimism, kita bisa membangun hubungan yang lebih tulus, memahami diri sendiri lebih baik, dan menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih seimbang—tanpa terjebak dalam tuntutan untuk selalu bahagia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: dampak toxic positivityDr Jaime Zuckermanemotional realismemotional suppressionforced gratitudeKesehatan MentalMedia Sosialoptimisme tidak realistispositive vibes onlySusan DavidToxic Positivitytragic optimismviktor frankl

Related Posts

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit
Tugu Sehat

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit

Rabu, 14 Okt 2026
Akademisi UMM Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru
Tugu Sehat

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Senin, 31 Agu 2026
Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat Jadi Kunci Hidup Sehat
Advertorial

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Jumat, 14 Agu 2026
Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Tugu Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Jumat, 14 Agu 2026
7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C
Tugu Sehat

7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C

Senin, 10 Agu 2026
Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi
Tugu Sehat

Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Rabu, 5 Agu 2026
Next Post
Film Indonesia

5 Film Indonesia Terlaris 2025, dari Jumbo hingga Jalan Pulang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.