Malang, Tugu Malang.id – Di era serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang, banyak orang merasa kewalahan bukan semata karena tantangan hidup yang datang, tetapi karena tidak mampu mengelola emosi dengan sehat. Dalam situasi seperti ini, emotional agility atau ketangkasan emosional menjadi keterampilan kunci untuk bertahan dan berkembang.
Konsep ini diperkenalkan oleh Dr. Susan David, psikolog dari Harvard, yang mendefinisikan emotional agility sebagai kemampuan untuk mengenali, menerima, dan merespons emosi dengan fleksibel, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai diri. Alih-alih menolak atau menekan perasaan, emotional agility mengajak kita untuk “bergerak bersama emosi” tanpa kehilangan arah.
Apa Itu Emotional Agility dan Mengapa Penting?
Emotional agility adalah kemampuan menghadapi emosi—positif maupun negatif—secara sadar dan fleksibel, tanpa reaksi spontan yang merugikan. Individu dengan ketangkasan emosional cenderung lebih tangguh dalam menghadapi stres, lebih bijak dalam mengambil keputusan, serta memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.
Baca juga: Jangan Abaikan! Ini Tanda-tanda Kamu Butuh Emotional Healing
Dalam dunia yang dipenuhi tekanan kerja, persaingan akademik, dinamika media sosial, dan banjir informasi, keterampilan ini membantu kita tetap tenang dan fokus pada tujuan hidup, bukan larut dalam emosi sesaat.
Tantangan dalam Mengelola Emosi
Mengelola emosi bukan hal mudah. Banyak orang terbiasa menekan, menghindari, atau bahkan tenggelam dalam emosi mereka. Misalnya, perubahan mendadak di lingkungan kerja dapat memicu kecemasan, sementara konflik sosial bisa membangkitkan kemarahan yang meledak-ledak.
Dr. Susan David menyebut kondisi ini sebagai emotional rigidity, yakni kebalikan dari emotional agility. Ketika seseorang kaku terhadap emosinya, mereka terjebak dalam lingkaran negatif yang menghambat pertumbuhan pribadi dan profesional.
Baca juga: Apa Jadinya Kalau HP Jadi Pengasuh Anak? Begini Kata Para Ahli
4 Pilar Emotional Agility Menurut Dr. Susan David
Untuk membantu individu mengembangkan ketangkasan emosional, Dr. Susan David merumuskan empat pilar utama emotional agility:
1. Showing Up
Berani hadir sepenuhnya untuk setiap emosi yang muncul—baik rasa takut, kecewa, sedih, atau marah—tanpa menyangkal atau menekannya. Menyadari dan menerima emosi adalah langkah awal menuju pengelolaan emosi yang sehat. Studi menunjukkan bahwa kesadaran emosional berkontribusi besar terhadap kesejahteraan mental.
2. Stepping Out
Kemampuan untuk mengambil jarak dari emosi dan pikiran. Ini berarti tidak langsung bereaksi, melainkan menyadari bahwa emosi adalah data, bukan perintah. Dengan sudut pandang ini, kita mampu menghindari reaksi impulsif dan bertindak lebih rasional. Penelitian validasi di Indonesia menunjukkan bahwa keterampilan ini berkorelasi dengan pengendalian diri yang lebih baik.
3. Walking Your Why
Setelah mengenali emosi dan mengambil jarak, langkah selanjutnya adalah bertindak sesuai dengan nilai-nilai diri, seperti kejujuran, kasih sayang, atau integritas. Saat tindakan selaras dengan nilai pribadi, kita merasa lebih konsisten, utuh, dan bermakna meski di tengah tekanan.
4. Moving On
Kemampuan untuk terus melangkah ke depan secara adaptif. Artinya, belajar dari pengalaman emosional, membuat perubahan kecil, dan membangun kebiasaan baru yang lebih sehat. Pilar ini sangat relevan dalam konteks kehidupan modern yang penuh ketidakpastian.
Emotional Agility sebagai Keterampilan Abad 21
Ketangkasan emosional adalah soft skill penting dalam menghadapi dunia yang terus berubah. Dengan membangun empat pilar utama—showing up, stepping out, walking your why, dan moving on—seseorang dapat mengubah emosi menjadi motor pertumbuhan dan bukan penghalang.
Keterampilan ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental, tapi juga mendukung produktivitas, hubungan interpersonal yang sehat, serta pengambilan keputusan yang lebih bijak.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko





























