Malang, Tugumalang.id – Anak-anak zaman sekarang tampak anteng duduk berjam-jam sambil nonton YouTube atau main game di HP. Bagi banyak orang tua, gawai sering dijadikan “pengasuh instan” untuk menenangkan si kecil. Tapi tahukah kamu? Kebiasaan ini bisa membawa dampak serius terhadap perkembangan anak dalam jangka panjang, lho.
Psikolog dunia seperti Jean Piaget, Erik Erikson, hingga Daniel Goleman sepakat: anak butuh stimulasi nyata, bukan sekadar hiburan digital. Yuk, kita lihat bagaimana para ahli menjelaskan dampaknya.
Jean Piaget: Anak Belajar Lewat Main, Bukan Scroll
Menurut teori perkembangan Piaget, anak usia 2–7 tahun berada pada tahap pre-operational. Mereka belajar melalui eksplorasi fisik, menyentuh, bermain, dan mengalami langsung. Saat anak terlalu lama terpapar layar, mereka kehilangan kesempatan emas untuk mengembangkan sensorimotor skills, imajinasi, dan rasa ingin tahu alami.
Baca juga: 5 Tips Bijak Orangtua Mengelola Penggunaan Gadget sebagai Pengasuh Anak
Erik Erikson: Bangun Rasa Percaya dan Kemandirian
Erikson menyebut usia dini sebagai fase trust vs mistrust dan autonomy vs shame and doubt. Di masa ini, anak belajar membangun kepercayaan terhadap lingkungan dan mulai merasa bisa melakukan hal sendiri. Jika setiap rengekan langsung direspons dengan HP, anak berisiko kehilangan kemampuan mengelola emosi dan membangun relasi yang sehat.
Lev Vygotsky: Anak Butuh Interaksi, Bukan Isolasi
Teori sosiokultural Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam tumbuh kembang anak. Lewat bermain bersama, ngobrol, dan berimajinasi dengan orang lain, anak mengasah kemampuan berbahasa, empati, dan berpikir kritis. Sayangnya, HP bisa membuat anak tenggelam dalam dunia sendiri dan melewatkan fase penting ini.
B.F. Skinner: Kebiasaan Terbentuk Lewat Penguatan
Menurut Skinner, perilaku anak terbentuk dari reinforcement atau penguatan. Ketika anak rewel langsung diberikan HP, itu menjadi penguatan negatif yang memperkuat perilaku tersebut. Lama-kelamaan, anak belajar bahwa menangis = dapat hiburan. Ini bisa membentuk pola yang sulit diubah di kemudian hari.
Daniel Goleman: Gadget Bisa Ganggu Kecerdasan Emosional
Goleman, penggagas teori emotional intelligence (EQ), menyebut bahwa anak perlu belajar mengenali dan mengelola emosinya sejak dini. Tapi jika setiap rasa bosan atau kesal langsung dialihkan dengan layar, anak kehilangan kesempatan untuk membangun self-regulation, empati, dan ketahanan emosional.
Baca juga: Mata Minus pada Anak: Bukan Hanya karena Gadget, Ini Faktanya
Jadi, Bukan Melarang, Tapi Mendampingi
Penggunaan HP bukan berarti harus dihapuskan sepenuhnya. Anak tetap bisa berkenalan dengan teknologi, asalkan didampingi, dibatasi, dan diarahkan. Utamakan aktivitas fisik, bermain bersama, cerita sebelum tidur, atau diskusi kecil yang melatih daya pikir dan hubungan emosional.
Ingat: Peran utama orang tua bukan sekadar menjaga anak anteng, tapi juga memastikan tumbuh kembangnya optimal.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko

Erik Erikson: Bangun Rasa Percaya dan Kemandirian




























