Selasa, Juni 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Mayjen TNI Susilo dan Veteran Hotel Yamato: Dua Sosok Inspiratif Indonesia Merdeka

Redaksi by Redaksi
Juni 18, 2025 2:12 pm
in Catatan
Mayjen TNI Susilo dan Veteran Hotel Yamato

Rully Novianto, Penulis

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Penulis: Rully Novianto*

Cakra !, ini adalah suara yang pertama saya dengar, diucapkan oleh TNI yang berjaga di ruang kerja Panglima Divisi Infanteri (Pangdiv) 2 Kostrad, Mayor Jenderal TNI Susilo.

Saya bersama CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq, didampingi Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara (Danbrigif Linud) 18, Kolonel Inf Risa WP Setyawan sudah menentukan jadwal untuk bertemu Pangdiv berkaitan dengan penyusunan buku yang memuat biografinya.

READ ALSO

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

MBG: Kembalikan Eksekusi ke Komite Sekolah, Jangan Birokrasi

Sebelum masuk kami diminta untuk menunggu di ruang transit. Ini adalah prosedur yang biasa diterapkan kepada semua tamu.

“Mohon ditunggu”, ucap salah satu penjaga piket. Ruang transitnya tenang, senyap, sekalipun ada suara bisa dipastikan yang terdengar dengan jelas adalah ucapan ‘siap’. Di ruangan ini ada pintu kaca rayband yang ukuran tidak terlalu besar namun terconecting menuju ruang kerja Pangdiv.

“Monggo mas, gimana kabarnya, berapa tahun ndak ketemu ya”, tanya Pangdiv kepada saya.

Memang ini adalah pertemuan pertama kami setelah lama tidak berjumpa.

“Seingat saya, selepas panglima menjadi Dandim Kabupaten, saya sudah ndak pernah ketemu jenengan,” jawab saya.

Jejak Kepemimpinan Mayjen TNI Susilo

(Dari kiri ) CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq, Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, Mayjen TNI Susilo, penulis, dan
Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara (Danbrigif Linud) 18, Kolonel Inf Risa WP Setyawan.

Meskipun melekat bintang dua di pundaknya, pria kelahiran Wotsogo, Jatirogo, Tuban pada 16 Desember 1969 ini, tetap low profile, tidak mudah melupakan sahabat, ingatannya detail., Bahkan di kalangan internal militer, dirinya dikenal peduli terhadap satuan di bawah komandonya.

Lebih dari itu, saya masih mengaguminya sejak Ia masih menjabat Komandan Kodim (Dandim) 0818 Kabupaten Malang-Batu pada tahun 2011. Kagum bukan tanpa alasan, menurut saya, Ia termasuk pemimpin yang rajin sambang wilayah, terjun ke beberapa desa bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa). Sebenarnya Ia punya kuasa untuk mendelegasikan kepada stafnya, namun langkah itu tidak diambilnya. Dulu, saat menjadi Dandim saya pernah bertemu dan bertanya kepadanya saat berada di lokasi Banjir Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, “Langsung terjun ke lokasi Ndan?”, ucap saya, dengan singkat Ia menjawab, “Pemimpin yang harus tahu kondisi di lapangan, ini tanggung jawab”, katanya.

Tidak hanya itu,saat Kabupaten Malang dijabat Bupati Rendra Kresna, Ia juga kerap hadir di beberapa kegiatan Bina Desa, untuk melihat secara langsung kesiapan anggota Komando Rayon Militer (Koramil) dalam mendampingi masyarakat di desa.

Bagi pria lulusan AKABRI (sekarang AKMIL) 1993 ini, kemanunggalan TNI bersama rakyat adalah harga yang tidak bisa ditawar. Jadi jangan heran, meskipun sudah menjadi Pangdiv, dirinya masih suka terjun langsung ke masyarakat, sebab kebiasaan itu sudah melekat dalam dirinya.

Baca juga: Cak San: Dari Sahabat Lama Jadi Komandan Petarung Api

Dari Tukang Cuci Truk hingga Taruna AKABRI

Dibalik ketegasannya, Jenderal yang memiliki 13.000 prajurit aktif dan tersebar di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah ini menyimpan beragam kenangan perjalanan hidup yang menantang. Keterbatasan ekonomi keluarga yang dirasakan Susilo semasa kecil tidak membuat ciut dan minder, justru sebaliknya, semangatnya semakin meledak dan berhasil mendobrak batas ketidakmungkinan. Tempaan kehidupan itulah yang menjadikan dirinya bermental baja.

“Ekonomi keluarga kami tidak cukup baik mas, jadi kadang pas libur sekolah saya bantu nyuci truk, upahnya seratus rupiah tiap nyuci, saya berikan adik untuk jajan sebagian saya ambil”, jelas putra dari pasangan Abu Sajad dan Siti Khadijah ini.

Cerita masa kecilnya saat duduk di bangku SD adalah salah satu bagian kecil yang akan dituangkan dalam tulisan buku biografinya.

Meskipun di ruangan kerja Pangdiv ada banyak makanan ringan dan kopi panas yang bisa dengan leluasa saya seruput, namun keinginan itu sirna, terbius dengan cerita heroik Susilo semasa kecil.

Sambil melihat catatan kecil perjalanan hidup yang dipengangnya, cucu dari seorang kiai kampung bernama KH Abdurrahman ini menceritakan dengan detail kenangannya hidupnya.

Ibarat film, perjalanan hidup Susilo kecil penuh dengan skenario dramatik, yang seharusnya cerita itu bisa didengar langsung generasi muda saat ini, supaya mereka paham bahwa mimpi bisa diraih dengan usaha yang keras dan penuh perjuangan. Namun sayang, hanya saya, Irham Thoriq dan Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara (Danbrigif Linud) 18, Kolonel Inf Risa WP Setyawan yang mendegarkan langsung. Semoga saja setelah buku biografinya terbit, Mayjen TNI Susilo memiliki kesempatan menularkan semangatnya kepada generasi muda melalui bedah buku yang mengupas perjalanan hidupnya.

Cerita perjuangannya tidak berhenti sampai di sini, ada adegan lain yang memuat kisah unik, yang mungkin terdengar biasa namun penggalan peristiwa ini mewakili semangatnya yang selalu membara.

Baca juga: Tiga Wasiat Langit, Kunci Sukses Bisnis ala Mudhofar Podo Rukun

Lulus dari SMP, tepatnya pada 1986, Susilo bersama dua temannya, Nur Kosin dan Nurudin, nekat ke Bali. Tidak naik angkutan umum, tidak juga nebeng truk, melainkan gowes menggunakan sepeda angin, itu pun bukan miliknya melainkan sepeda pinjaman. Bagi saya yang suka gowes, mendegar cerita perjalanan yang Ia tempuh dari Lasem, Jawa Tengah menuju Bali cukup kaget, apalagi saat itu teknologi geometri sepada tidak secanggih sekarang.

“Saya gowes mas, sama Nur Kosin dan Nurudin, dari Lasem ke Bali, cuma modal nekat, saya yakin, kalau orang lain bisa saya pasti bisa”, ucapnya penuh semangat.

Disela – sela ceritanya saya sempat berfikir, sepertinya sosok Jenderal di hadapan saya ini ditakdirkan untuk menerima tempaan hidup yang keras saat masa mudanya dulu. Sekeras baja yang sudah ditempa dengan serangkaian perjalanan hidupnya yang penuh tantangan, kenyang dengan segala bentuk penderitaan, semakin berat halangan untuk meraih impian semakin membara juga semangatnya untuk menggenggam cita – cita.

Masuk sebagai taruna AKABRI juga bagian dari rencana hidupnya, yang mungkin bagi sebagian orang saat itu meremehkan kemampuannya. Namun lagi – lagi Susilo muda berani menerjang arus, Ia ingin membuktikan, bahwa dirinya bisa.

Tanpa beckingan siapa – siapa, pria yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan kepada semua prajurit di bawah komandonya ini akhirnya lulus sebagai Taruna AKABRI pada 1990.

“Jangan takut gagal, coba terus, gagal coba lagi, karir bisa cemerlang meski tidak mempunyai uang dan orang dalam”, tegasnya.

Kalimat itu menjadi cerita pamungkas pertemuan kami di ruang kerja Mayjen TNI Susilo.

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang Sarat Makna

Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, Mayjen TNI Susilo bersama Amad, veteran peraih Bintang Gerilya dalam acara Hari Lahir Pancasila di Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad (Madivif 2 Kostrad), Singosari, Kabupaten Malang.

Berbeda waktu, saya mendapat kabar dari CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq, bahwa untuk yang kedua kalinya, saya bertemu Mayjen TNI Susilo, namun kali ini bukan untuk memenuhi penyusunan buku yang memuat biografinya, melainkan hadir dalam kegiatan Hari Lahir Pancasila, pada 1 Juni 2025 lalu.

“Besok minggu ojo lali ajak mas rully hadir”, itulah pesan melalui whatsap yang disampaikannya melalui Irham Thoriq.

Kami berdua hadir ke Markas Divisi Infanteri 2/ Kostrad di Jalan Raya Singosari, Song Song, Ardimulyo, Kec. Singosari, Kabupaten Malang, untuk memenuhi undangan itu.

Baca juga: Jalan Sufi Nurhayati Subakat

Jauh dari kesan formal, Mayjen TNI Susilo mengemas momentum peringatan Hari Lahir Pancasila dengan cara yang unik namun sarat makna. Ia mengundang sahabat-sahabat lamanya dari berbagai kalangan, baik dari lingkungan militer maupun tokoh masyarakat.

Sebagai Panglima Divisi Infanteri 2/ Kostrad, sebenarnya nama Susilo bukan sosok asing di bumi arema, selain pernah menjabat sebagai Dandim 0818/Kabupaten Malang-Batu, karier militernya juga mencatat bahwa pada 2013 dirinya pernah menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 18/Trisula/2 Kostrad. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Asisten Operasi Kepala Staf (Asops Kasdivif) 2 Kostrad pada 2014, yang semuanya berada di wilayah Malang, jadi tidak heran jika hubungan persahabatannya dengan beberapa tokoh masyarakat di Malang Raya sangat erat.

Eratnya ikatan persahabatan terlihat jelas saat Susilo merangkul semua sahabatnya yang hadir dalam acara Hari Lahir Pancasila.

“Nah gitu senyum mas, jangan tegang, jangan mikir kerjaan terus, harus bahagia, anggap aja ini acara reuni kita”, ucapnya kepada beberapa tamu undangan yang hadir, sambil merangkul dan memberi salam komando.

Dari caranya menyapa, saya melihat Susilo begitu akrab, totalitas dalam merajut hubungan pertemanan, bukan tipikal orang yang senang basa basi.

Amad, Sang Saksi Hidup Perjuangan Indonesia

Penulis bersama Amad, veteran peraih Bintang Gerilya dalam acara Hari Lahir Pancasila di Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad (Madivif 2 Kostrad), Singosari, Kabupaten Malang.

Selama saya liputan peringatan Hari Lahir Pancasila, belum pernah merasakan suasana seperti ini. Semua tamu undangan tampak bahagia, merasakan kebersamaan seperti reuni persahabatan yang sudah lama terpisah.

Yang luar biasa, strategi Susilo menjadikan momen tersebut untuk mengumpulkan kerabat karibnya untuk memperkuat rasa kebangsaan secara kolektif.

“Tamu undangan sekalian, saya ingin mengenalkan ayah saya, seorang veteran, beliau ini adalah saksi hidup yang ikut dalam penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato”, ucapnya sambil menyebut nama Amad, seorang veteran perang gerilya yang usianya sudah menginjak 103 tahun.

Pikir saya, hebat juga jenderal yang satu ini, bisa menkreasi acara yang umumnya diselenggarakan secara formalitas, bisa menjadi acara sakral sarat dengan nuansa perjuangan. Bisa – bisa Ia memiliki waktu untuk mencari ‘bintang tamu’ legend, seorang tentara veteran yang pernah mendapat penghargaan Bintang Gerilya dari 2 presiden, Presiden RI Soekarno dan Joko Widodo.

“Lihat bintang ini, gak gampang dapat bintang ini, penuh perjuangan”, jelasnya sambil menunjukkan 2 Bintang Gerilya berwarna hitam, disambut tepuk tangan tamu yang hadir.

“Nggak tau ya hati ini kok senang lihat Jenderal Susilo, dia nyalami saya waktu ketemu di Kantor Gubernur Jatim, dan minta saya hadir di acara ini, semoga karirnya bagus”, ucap Amad sambil memegang dada Susilo.

Meskipun usianya sudah menginjak 103 tahun, tapi veteran gerilya kelahiran 7 Februari 1922 ini masih tegas bersuara. Meskipun bukan ayah bilogis Susilo tapi dia mengenalkan Amad sebagai ayah. Mungkin karena dirinya menaruh hormat atas perjuangan Amad dalam merebut kemerdekaan.

Amad memang bukan salah satu dari tiga tokoh yang terlibat dalam perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Hariyono, Koesno Wibowo, dan Sidik yang merobeknya, sedangkan Amad bersama pasukannya lainnya mencari tangga untuk memudahakan ketiganya dalam menurunkan Bendera Belanda, merobokenya menjadi Merah Putih dan mengibarkannya kembali.

Amad tidak menunggu perintah. Ia berlari ke sebuah rumah warga, mengambil tangga kayu seadanya, lalu menuntunnya ke depan Hotel Yamato. Dengan tangga itu, para pemuda mulai memanjat tembok hotel, menuju atap tempat bendera Belanda berkibar. Namun misi Amad tidak semudah yang dibayangkan. Tangga itu hanya sampai lantai dua. Di atas sana, bendera penjajah masih berkibar dengan pongah. Tanpa ragu, Amad dan kawan-kawannya kembali turun, mencari tangga tambahan.

“Saya dan teman – teman yang ada dekat Yamato cari tangga ke kampung Embong Malang, Surabaya, ya nggak nunggu perintah, langsung cari”, ucapnya.

Sebenarnya cerita ini pernah saya baca, tapi yang membuat beda adalah karena saya mendengarkan langsung dari pelaku sejarah, jadi ceritanya seperti memiliki ruh perjuangan.

Ada pemandangan yang mengharukan. Ide jenius sang Jenderal untuk menghadirkan Amad disambut hangat para undangan, bahkan tidak sedikit yang rela antri foto bersama veteran yang juga pernah mengangkat tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman. Susilo tidak hanya berhasil mengobarkan semangat perjuangan, tapi juga jenius, menghadirkan Amad sebagai bintang tamu utama, supaya peserta yang hadir bisa meresapi langsung nilai pengorbanan para pejuang kemerdekaan secara langsung.

Saya penasaran dengan cerita pengalam Amad saat mengangkat tandu Jenderal Sudirman di Nganjuk, saya yakin ada cerita menarik lainnya yang perlu ditulis dan bisa dibaca generasi muda saat ini.

Penulis saat mendampingi Amad, veteran peraih Bintang Gerilya dalam acara Hari Lahir Pancasila di Markas Divisi Infanteri 2 Kostrad (Madivif 2 Kostrad), Singosari, Kabupaten Malang.

Ia menuturkan bahwa saat itu, tepatnya pada 1948, dirinya mendapat tugas untuk memandu Jenderal Sudirman semasa perang gerilya Agresi Militer Belanda II di Nganjuk.

Saya tanya apa yang dirinya kagumi dari sosok Jenderal Sudirman ?.

“Itu jenderalnya rakyat”, jawab Ahmad dengan singkat.

Ada satu kebiasaan Jenderal Sudirman yang tidak pernah ditinggal selama perang gerilya.

“Dia itu selalu menjaga wudhu selama perang, saya yang mencair air dan menaruhnya di ember”, imbuh Amad.

Masyarakat Nganjuk, khususnya di Bajulan, berperan penting dalam membantu Jenderal Sudirman dengan menyembunyikannya dan menyediakan kebutuhan makanan selama bergerilya. Amad sempat mengatakan bahwa Jenderal Sudirman pernah berpesan bahwa masyarakat Nagnjuk memiliki jasa besar atas kemerdekaan Indonesia.

Sambil menggandeng Amad menuju area devile TNI di lapangan utama Divisi Infanteri 2 Kostrad, saya melihat seakan dirinya sedang bernostalgia. Menyalami dan memberi semangat prajurit Kostrad yang ada di sekitarnya.

“Kamu kelihatan gagah dik”, sapa Amad kepada salah satu prajurit yang berjaga di sekitar area devile.

Selama berada di area Kostrad, Amad juga mendapat pengawalan khusus dari Lettu Rindi Agustian. Dia mendapat mandat langsung dari Mayjen TNI Susilo untuk menjemput dan mendampingi, termasuk menyediakan kerupuk kulit sapi (rambak) yang dipesan Amad.

“Saya kalau makan nasi sudah nggak bisa, kadang ya makan rambak untuk isi perut”, ucapnya.

Ia bercerita kembali bahwa setiap pagi dirinya biasa mengambilkan air untuk wudhu Jenderal Sudirman. Salah satu temanya yang biasa menemani mangangkat tandu dan mencari air adalah Sucipto.

“Ada teman saya sama-sama angkat tandu, cari air wudhu, Sucipto, tapi baru meninggal, di makamkan di Cakalang Malang”, jelasnya.

Dari tatapan matanya yang tegas, Ia masih bisa menceritakan perjuangannya bersama puluhan penjuang lainnya yang gugur. Baik Jenderal Sudirman maupun teman-teman perjuangan yang lainnya merasakan hal yang sama, berperang hingga titik darah penghabisan.

“Belanda serang darat dan udara, kita semua hanya pasrah, diserang terus-terusan, yang nguatkan kita ya Jenderal Sudirman, dia orangnya taat beribadah sama seperti Mas Tomo (Bung Tomo), Mas Tomo pernah pesan, masio sugih masio mlarat yo tetep mati (meskipun kaya, meskipun melarat ya tetap mati), berjuang sampai Indonesia merdeka”, ucap veteran yang pernah bergabung BKR (Badan Keamanan Rakyat) pimpinan Bung Tomo itu.

Adakalanya Ia rindu sahabat-sahabatnya yang gugur di medan perang. Untuk mengobati rindu, Ia ke taman makam pahlawan (TMP). Ada dua TMP yang biasa Ia kunjungi, di Nganjuk dan di Bondowoso. Kalau ke Bondowoso biasanya sekalian napak tilas ke Markas tempatnya bertugas pada 1954, Perwira Distrik Militer (PDM), sekarang Kodim 0822 Bondowoso.

Meskipun renta, semangat juangnya masih berkobar sampai sekarang. Kulit lengannya yang mulai mengendur, tergurat garis-garis halus yang seperti peta perjalanan panjang perjuangannya, setiap kerutan menyimpan cerita perlawan di medan perang melawan penjajahan.

Amad bukan tokoh dalam buku sejarah, tapi dialah sejarah itu sendiri.

“Ini peluru penjajah masih ada di kaki kiri”, ucapnya sambil memegang tangan saya dan mengarahkannya ke tempat peluru yang bersarang di paha kirinya.

“Ini tangan kanan saya juga ada bekas peluru”, ucapnya sambil menunjukkan bekas luka bergaris.

Dua Sosok, Satu Semangat Kebangkitan

Dua nama yang saya munculkan dalam tulisan ini, Susilo dan Amad. Nama yang singkat, namun panjang cerita perjalanan hidupnya.

Keduanya memberi inspirasi bagi saya, bahwa sejatinya keterbatasan bukan menjadi penghalang utama dalam meraih tujuan.

Dari Mayjend TNI Susilo saya belajar bahwa proses menjadi kunci utama keberhasilan. Dalam dirinya tidak ada kamus ketidakmungkinan. Tekadnya kuat sekuat baja untuk mendobrak sekat yang menghalanginya dalam meraih mimpi.

Dari veteran perang gerilya, Amad, saya belajar ketulusan. Memegang teguh sumpah prajurit, ikut berperang tanpa memikir pamrih. Tujuannya hanya satu, Indonesia merdeka.

Inilah sejarah yang seharusnya dipelajari generasi muda saat ini. Supaya bisa menghargai sebuah proses, tidak mengambil jalan instan untuk mencapai tujuan.

Terima kasih Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, Mayjen TNI Susilo, atas inisiatif menghadirkan sosok legenda veteran perang gerilya Amad. Sebuah langkah yang baik untuk menghormati sejarah para pejuang bangsa.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis Manager Event Tugu Media Group.
redaktur: jatmiko

Tags: Bela NegaraDivif 2 KostradGenerasi MudaHari lahir pancasilaHari Pancasila 2025Hotel YamatomalangMayor Jenderal TNI SusiloPangdivif 2 KostradSejarah Perobekan BenderaTNI ADVeteran Hotel Yamato

Related Posts

Hari Lahir Pancasila
Catatan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Senin, 1 Jun 2026
Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si. Foto/dok
Catatan

MBG: Kembalikan Eksekusi ke Komite Sekolah, Jangan Birokrasi

Senin, 1 Jun 2026
Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Agama
Catatan

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Selasa, 19 Mei 2026
Next Post
Diduga Rem Blong, Minibus Pengangkut Cabai Masuk Gang di Kebalen Malang, 1 Orang Tewas di Tempat

Diduga Rem Blong, Minibus Pengangkut Cabai Masuk Gang di Kebalen Malang, 1 Orang Tewas di Tempat

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Hujan Ringan! Prakiraan Cuaca Kota Malang Minggu 15 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.