Rully Novianto*
Melupakan sahabat karena alasan sibuk, tak ada waktu, atau sekadar lupa, sering kali menjadi pembenaran yang tidak adil. Namun, saya tak ingin terjebak dalam alasan klasik itu. Maka dari itu, tulisan ini saya niatkan sebagai bentuk salam hangat kepada seorang sahabat yang sudah 11 tahun tak bersua—sekaligus apresiasi atas dedikasinya sebagai abdi negara.
Namanya Santoso Wardoyo, atau akrab disapa Cak San. Persahabatan kami terjalin berkat kesamaan hobi di dunia fotografi. Terakhir kami bertemu pada 14 Oktober 2014 dalam sebuah kegiatan hunting foto bawah air di Taman Wisata Air Wendit, Pakis, Kabupaten Malang. Waktu terus bergulir, tapi kesan akan pertemanan itu tetap hidup dalam ingatan saya.

Demi bisa menuliskan kisahnya secara lengkap, saya pun berusaha menghubunginya. Setelah mencari informasi kontak melalui teman-teman jurnalis, akhirnya pada Senin (27/5/2025) saya berhasil menyapanya lewat WhatsApp. Tak heran bila namanya dikenal luas di kalangan media, karena kini ia menjabat sebagai Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu. Posisinya yang strategis membuatnya sering dijadikan narasumber penting dalam setiap kejadian kebakaran.
“Siang ya om, soale pagi aku paparan materi pelatihan penanggulangan kebakaran di Dirlantas Polda,” balasnya ramah saat saya meminta waktu untuk bertemu. Gayanya masih seperti dulu: santai, hangat, dan bersahabat.
Jejak Karier Cak San Menuju Medan Petarung Api

Bagi saya, Cak San bukan hanya sahabat, tapi juga sosok inspiratif. Lulus dari STPDN pada tahun 2000, ia memulai perjalanan kariernya di berbagai satuan kerja Pemerintah Kota Batu—mulai dari ajudan wali kota, Dinas Sosial, Sekretariat DPRD, hingga Satpol PP. Namun dari semua posisi itu, hanya satu yang benar-benar menjadi panggilan jiwanya: pemadam kebakaran. Sejak 2011 hingga kini, selama lebih dari 14 tahun, ia mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai petugas fire fighter.
Sesuai waktu pertemuan yang sudah kami sepakati, saya mendatangi markasnya. Lokasinya berada di area luar kantor Balai Kota Among Tani, Kecamatan Pesanggrahan, Kota Batu.
Kantornya berdiri kokoh di antara perbukitan pinus. Di halaman depan berjajar 7 gajah. Gajah adalah istilah yang biasanya digunakan tim fire fighter untuk menyebut kendaraan pemadam kebakaran.
Tepat di bagian tengah area parkir terdapat tulisan besar Panca Dharma Pemadam Kebakaran. Bertemu dengan staff operasional, saya diminta untuk naik ke lantai 2. Sebelum melangkah ke tangga, saya melihat ular kobra yang ada di dalam galon air mineral letaknya berada tepat di bawah tangga, dan area ini merupakan tempat penyimpanan binatang yang berhasil dievakuasi tim damkar (pemadam kebakaran). Salah satu petugas damkar menjelaskan jika ular tersebut hasil evakuasi dari wilayah Cangar, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Dari pintu masuk terlihat Santoso sedang menyiapkan power point materi training penanggulan kebakaran pada kendaraan. Santai sambil mendengarkan lagu Dead or Live yang dinyanyikan Jon Bon Jovi, musik itu keluar dari playlist desktop miliknya.
“Monggo sam, kopi ya ?,” tanyanya kepada saya membuka pembicaraan.
Santoso masih seperti yang dulu, meskipun karirnya terus naik tapi masih menghargai pertemanan tanpa pandang bulu. Kami pun sempat ngobrol santai membahas kamera digital, “iki lho mas mirrorless, luweh (lebih) ringan timbang (daripada) DSLR (Digital Single Lens Reflex),” jelasnya, sambil menunjukkan dua kamera mirrorless merk SONY dan Cannon.
Sambil menyeruput kopi suguhannya, sesekali saya menikmati pemandangan perbuktian dan atlet paralayang yang melintas di atas pepohonan pinus, semua terlihat dengan jelas dari jendala kantornya. Suasana obrolan tambah asyik diiringi alunan musik, namun kali ini sudah berganti judul Saturday Night, masih dengan penyanyi yang sama.
Baca juga: Catat! Daftar Nomor Penting di Kota Batu Jika Sewaktu-Waktu Butuh Bantuan
Berbeda dengan ruangan pimpinan setingkat Pembina (IV/a) pada umumnya, ruangan pria jebolan IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) ini memiliki lay out yang unik. Tepat di belakang kursi yang Ia duduki terdapat display seragam lengkap fire fighter, helm, kapak, dan breathing apparatus, yaitu tabung fiber composite yang memiliki fungsi sebagai alat bantu pernapasan. Semua tersusun rapi, menghiasi dinding diantara puluhan sertifikat yang berhasil diraihnya.
Sertifikat dan Kompetensi Internasional

Puluhan sertifikat itu adalah buah dari kerja kerasnya selama mengabdi di bidang Fire and Rescue. Yang menarik bagi saya, putra dari pasangan Soewari dan Arlinah ini sudah memiliki beberapa sertifikat yang jarang dimiliki petugas pemadam kebakaran lainnya.
Lisensi internasional yang berhasil diraih
👩🚒 Fire Fighting Vehicle Course, 2017
👩🚒 Fire Asia, Hong Kong, 2017
👩🚒 Karba Turkey Aerial Ladder Vehicle Training, 2017
👩🚒 Singapore Global Fire Fighters & Paramedics Challenge, 2018
👩🚒 IDEX India Private Ltd, 2024
👩🚒 Intersec 2025
👩🚒 Dubai, UAE, 2025,
👩🚒 NAFFCO, Dubai, UAE, tahun 2025
Baginya, semua sertifikat itu bukan formalitas. Lebih dari itu, Ia menilai sertifikasi harus memiliki kontribusi besar terhadap pengetahuan dan keahlian di bidang penanggulan bencana.
Aksi Penyelamatan dan Teknologi Rescue

Santoso memberi contoh kasus, pada kejadian longsor di kawasan Sumber Brantas, Pacet, Kabupaten Mojokerto, yang menelan 10 korban pada Kamis (3/4/2025) lalu. Saat itu Santoso bersama pasukannya dimintai bantuan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Mojokerto mengevakuasi korban. Dengan keahliannya menggunakan rescue cutter dan rescue spreader, memudahkan tim penyelamat membuka akses ke korban yang saat itu masih berada di dalam mobil dan tertimbun tanah.
“Alatnya bisa untuk potong baja, rescue cutter untuk potong kalau rescue spreader untuk merenggangkan, jadi kap mobil bisa ditarik, korban bisa segera di evakuasi,” jelasnya.
Baca juga: Tiga Wasiat Langit, Kunci Sukses Bisnis ala Mudhofar Podo Rukun
Dari kejadian itu, Santoso menilai bahwa keahlian teknis wajib dimiliki seluruh personel fire fighter and rescue, supaya memudahkan timnya dalam bekerja. Ia pun tidak segan membantu satuan rescue dari kota lain untuk memberikan pelatihan teknis.
“Setelah kejadian itu (longsor pacet) aku diminta isi pelatihan tim rescue BPBD Kabupaten Mojokerto untuk penggunaan alat rescue cutter dan rescue spreader, njagani antisipasi kalau ada longsor lagi, tim rescuenya sudah siap, ndak bingung gunakan alat,” ucap pria yang pernah menjadi ajudan Imam Kabul, Walikota Batu ini.
Keahlian Diving yang Mendukung Misi Penyelamatan

Ada keahlian lain yang dimiliki suami Ira Christanty ini, yakni lisensi diving (selam). Setidaknya ada enam lisensi yang Ia miliki:
🤿 Dive Guide SSI, 2018,
🤿 Snorkeling Instructor SSI, 2018,
🤿 Dive Master Scuba SSI, 2019,
🤿 One Star Scuba CMAS, 2013,
🤿 Advanced Adventurer Diver SSI, 2016,
🤿 Specialty Diver SSI, 2017.
Saya bertanya, apa ada hubungan keahlian selam dengan profesi fire rescue? “Ada mas, dibutuhkan pas operasi penyelamatan korban tenggelam,” imbuh komandan yang memiliki 40 pasukan fire rescue itu.
Lebih detail Ia menjelaskan, bahwa Pada tanggal 11 Desember 2018, Santoso memimpin misi penyelamatan 3 siswa SD yang tenggelam di air terjun Coban Talun, Kota Batu. Karena keahliannya, Ia bersama timnya berhasil mengangkat 1 jasad korban yang tenggelam.
“Bismillah, kondisinya gelap, airnya keruh, senter juga ndak ngatasi, tapi tetap jalan, meraba dasar air di sekitar TKP, Alhamdulillah ketemu, imbuh diver yang pernah mendapat pelatihan langsung dari Tim Elite Rescue di bawah naungan PBB, International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG) ini.
Misi Besar: Kebakaran Pasar Besar Kota Malang

Dari banyaknya rangkaian pengalaman yang Ia sampaikan, ada pengalaman paling menantang, yaitu saat dirinya memimpin pasukan memadamkan api di lokasi kebakaran Pasar Besar Kota Malang yang terjadi pada 2016 silam. Jarak tempuh dan besarnya api menjadi kendala utama, menurutnya estimasi pemadaman bisa diselesaikan lebih dari sehari, namun saat itu seluruh tim gabungan fire rescue bisa menyelesaikan dalam waktu 12 jam.
“Apinya terlalu besar, tapi alat kami lengkap, ada SCBA (Self-Contained Breathing Apparatus), jadi tim bisa masuk dan bisa lebih cepat padam,” ucap pria yang kerap menjadi instruktur rescue di berbagai instansi pemerintah ini.
Armada Lengkap dan Filosofi Tugas
Untuk diketahui, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu memiliki properti yang lebih lengkap dibandingkan UPT pemadam kebakaran milik Kota Malang dan Kabupaten Malang. Untuk armada saja, Kota Batu memiliki 7 truk pemadam, salah satunya adalah Ladder Truck, yaitu truk tangga hidrolis yang memudahkan tim fire rescue untuk menjangkau titik api dan melakukan misi penyelamatan di area yang tinggi.
“Kami sudah punya Ladder Truck, properti lainnya juga sudah lengkap, jadi tidak ada kata gak bisa, pokoknya pantang pulang sebelum padam,” tegasnya.
Banyak relawan yang mengakui spesifikasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu lebih mumpuni, baik personalnya maupun kelembagaannya. Namun bagi Santoso, predikat itu tidak akan bermanfaat kalau tidak dikaryakan untuk misi penyelamatan.
Ucapan itu bukan pemanis, terbukti dalam catatan dinasnya, Santoso sudah memiliki puluhan catatan memimpin berbagai operasi pemadaman dan penyelamatan, mulai 2011 hingga sekarang. Ia juga menekankan kepada seluruh petugas di bawah komandonya untuk memberi layanan kepada masyarakat tanpa pamrih.
“Semua layanan gratis,” jelas pria yang memiliki bekas luka di bagian tangan dan kaki saat bertugas ini.
Tanggung Jawab Sosial dan Edukasi
Mengevakuasi binatang buas adalah salah satu bagian yang menjadi tanggungjawab timnya. Menurutnya, yang biasa terjadi adalah permintaan masyarakat untuk mengevakuasi ular dan tawon. Selebihnya permintaan untuk memberi edukasi kepada pelajar untuk melatih melakukan pencegahan dan penanganan api kecil.
“Sudah sering menerima kunjungan siswa, dan kita siap bantu, anak-anak senang dan menurutku ini life skill yang harus diajarkan kepada mereka. Pokoknya nggak masalah pribadi, soalnya pernah ada yang minta bantuan, setelah kita datangi ternyata masalah rumah tangga, ya kita arahkan ke pengurus RT, sebab bukan ranah kita,” imbuhnya sambil tersenyum.
Baca juga: Jalan Sufi Nurhayati Subakat
Pesan Ayah dan Dedikasi Hidup
Di penghujung obrolan, Santoso menyampaikan bahwa banyaknya kualifikasi yang Ia miliki sekarang bermuara dari pesan sang ayah, Soewari, yang dipegang teguh Santoso pada saat mengawali pendidikan IPDN.
“Aku hidup dari keluarga ndak punya, bapakku PNS biasa gak bisa ngasi apa-apa ke orang lain, pesen bapak cuma satu, buat orang lain senang, Insya Allah lancar hidup kita. Makanya aku mau tetap di Fire Rescue sampai pensiunnya, semoga yang aku kerjakan bantu madamkam api, evakuasi bisa jadi jalan kebahagiaan untuk orang lain,” ucapnya.
Disela-sela obrolan, saya diajak makan siang di lantai satu, ” ayo makan mas, wes (sudah) waktunya makan siang, sampeyan biar ngerti masakannya anggota,” ajaknya.
Menu makan siang yang disajikan tidak akan saya ceritakan apalagi menjadi bagian akhir dari tulisan ini, meskipun menunya enak dan layak mendapatkan bintang lima.
Baca juga: Waspada Bencana selama Lebaran 2024, Ini Daftar Nomor Darurat di Kota Batu
Namun ucapannya yang ingin tetap di Fire Rescue sampai pensiun adalah kalimat pamungkas, penyemangat, dan memiliki ruh.
Saya menilai Santoso totalitas menekuni keahlian yang sesuai dengan jabatannya sebagai Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batu, apalagi bidang yang Ia naungi adalah lahan kering yang sarat dengan misi kemanusiaan.
Pantang pulang sebelum padam, semangat berjuang Cak San, semoga sukses menahkodai para petarung api.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis Manager Event Tugu Media Group.
redaktur: jatmiko





























