Rully Novianto*
Ini pelajaran yang mungkin tidak diajarkan di sekolah dan di kampus. Tapi, rasa-rasanya, pelajaran seperti ini yang perlu kita tularkan kepada manusia lintas generasi.
Inilah yang kami dapat ketika bersilaturahim dengan owner perumahan yang sedang naik daun yakni Podo Rukun Group, Mochamad Mudhofar. Selasa siang (13/5), saya dan CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq berkesempatan berkunjung ke rumahnya di Perumahan Oma Campus, Dau, Kabupaten Malang.
Meskipun sedang sibuk mengawasi proyek pembangunan rumah yang lokasinya tidak jauh dari kediamannya, Ia masih menyempatkan waktu menerima kami. Sederhana dan bersahaja, itulah kesan pertama kami berjumpa pria yang akrab disapa Mudhofar ini.
“Monggo pinarak om, saya buatkan kopi ya, cuacanya pas kalau kita minum kopi, biar ngobrolnya enak,” ucapnya.
Kunci Sukses Bisnis
Kami diarahkan menunggu di saung yang berada tepat di seberang rumahnya. Sambil menunggu kopi, kami mencicipi makanan ringan sekaligus menikmati pemandangan Gunung Semeru, Arjuna dan Welirang yang bisa dilihat langsung dari Saung.
Menurut beberapa kolega kami yang sudah kenal lebih dahulu dengan Mudhofar, mengatakan bahwa pengusaha properti yang memiliki 21 perumahan ini terkenal gemar memuliakan tamu. Apalagi, Mudhofar juga senang bersilaturahim, dan inilah yang diajarkan kepada kami agar terus bergerak bersilaturahim kepada siapapun.
Di saung dengan semilir angin itu, disajikan aneka camilan yang membuat tamu nyaman dan ingin cangkruk lebih lama. “Maaf ya saya pakai sarung, ya begini ini keseharian saya kalau di rumah pas libur ndak ngantor, sambil momong anak sekalian ngawasi tukang,” ucapnya mengawali pembicaraan.
Sebenarnya selain menjalin silaturahim tujuan utama kami bertemu beliau ingin ngangsu kaweruh (menimba ilmu) soal manajemen perusahan yang Ia kelola.
“Fokus di satu titik mas,” jawabnya saat kami bertanya apa yang menjadi kunci utama kesuksesannya dalam membangun PT Podo Rukun.
Awal yang Sederhana
Pria kelahiran Tuban, 1 Maret 1982 ini melanjutkan jawabannya, bahwa Ia benar – benar memulai dari bawah. Bukan menjabat sebagai manager atau direktur, melainkan menjadi sales manager lapangan perumahan di bawah manajemen PT Lembah Permata Biru, itupun dilakukan di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Mesin di Universitas Islam Malang (Unisma).
Baca juga: Menjembatani Gap Generasi, Tantangan dan Peluang Dunia Kerja di Industri Kebugaran
“Saya mengawali karir sebagai sales lapangan, tapi saya berusaha maksimal untuk menjual unit dan ndak tahu kalau akhirnya Allah mentakdirkan saya bisa mendirikan Podo Rukun,” imbuh cucu dari KH Nur Salim Gondowardoyo, pendiri Nahdlatul Ulama di wilayah Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini.
Bukan waktu yang sebentar, lebih dari 20 tahun putra dari pasangan Mochamad Rosyidi dan Siti Shamiroh ini fokus di dunia properti, meskipun jalur akademik yang dipilihnya tidak linier.
“Saya teknik mesin, tapi mau gimana lagi, amanah yang Allah titipkan ada di properti, jadi saya harus istiqomah,” jelasnya sambil tersenyum.

Selama proses mengawali karirnya sebagai sales, pria yang dikaruniai 3 anak ini berusaha keras membangun komunikasi dengan banyak pihak. Selain client, Ia juga berupaya membuka hubungan dengan perbankan untuk mempelajari mekanisme pembiayaan pembelian rumah.
Setelah merasa cukup berhasil dalam menjual unit rumah dan memiliki koneksi di perbankan, Mudhofar merasa tertantang untuk naik ke level berikutnya, yaitu mendirikan PT Podo Rukun.
“Saya berusaha ikhtiar, memberanikan diri mendirikan Podo Rukun, semua teman yang pernah ikut saya di sales, saya libatkan, Alhamdulillah sukses,” ucapnya.
Tiga Wasiat Langit
Selain upayanya bekerja keras dan membangun kepercayaan client, Mudhofar memiliki amalan wajib yang menurutnya menjadi faktor penentu keberhasilan melalui jalur langit.
“Ada amalan wajib mas, ini pesan dari kakek dan ibu. Pertama menjaga silaturahmi, kedua sedekah rutin, dan ketiga menjadikan ibu sebagai ratu,” jelasnya.
Pria yang saat ini memiliki 800 lebih karyawan menjelaskaan bahwa dirinya memiliki kebiasaan menjaga silaturahim dengan siapa pun tanpa pandang bulu. Menurutnya, dari silaturahmi ada dampak yang Ia rasakan, yaitu kemudahan terbukanya pintu rejeki dari arah yang tidak terduga.
Sedekah juga menjadi amalan rutin yang biasa dilakukan setiap Jum’at. “Saya mengawali sudah lama, mulai sepuluh ribu tiap Jumat berkah, selanjutnya dinaikkan nominal, saya merasakan betul manfaatnya, semua jalan rejeki lancar,” ucap pria yang sekarang diberi kepercayaan warga menjadi wakil ketua RT ini.
Lebih lanjut, suami dari Novia Indria Pratiwi ini memiliki amalan pamungkas yang pantang ditinggalkan, yaitu memuliakan orang tua, terutama ibu.
Baca juga: 111 Tahun Kota Malang: Kota Pendidikan yang Masih Diuji oleh Banjir
Ditempa dalam lingkungan keluarga yang sederhana dan religius menjadikannya matang dalam menjalani hidup. Sang ibu, Siti Shamiroh yang mengabdikan dirinya sebagai guru TK sekaligus penggerak Muslimat Nahdlatul Ulama ini menjadi orang berperan penting dalam kesuksesan Mudhofar.
“Saya kalau diperintah ibu gak berani menolak, saat itu juga saya penuhi, termasuk ibu mertua semua saya anggap sama, pokoknya saya jadikan ratu, jadi bagaimana ibu itu serasa berada di surga, meski ada di dunia,”, ujarnya.
Ia bercerita, bahwa pernah suatu waktu dimintai tolong ibunya mengirim uang untuk modal menanam padi. Meskipun tidak ada dana, Mudhofar tetap berusaha maksimal mencarikan uang, alhasil atas ijin istrinya, Mudhofar menjual perhiasan, demi kebahagiaan sang ibu.
“Dulu pernah dimintai tolong ibu, pas musim rendeng (penghujan) butuh modal untuk tanam padi, masio nggak ono (meskipun tidak ada) uang, tetap saya usahakan, dengan jual perhiasan, dan istri juga mengijinkan,” jelasnya.
Sampai saat ini amalan pamungkas itu masih rutin Ia kerjakan, tidak hanya untuk dirinya, semua karyawan di bawah naungannya juga sempat ditulari kebiasaan yang menurutnya menjadi kunci utama membuka pintu rejeki melalui jalur langit.
Selain itu, Mudhofar juga rutin bersedekah setiap hari jum’at, yang menurut dia itulah juga salah satu pintu suksesnya. Setiap hari jum’at dia bersedekah dengan nominal sama. Dimulai dari sedikit, setiap tahun nominalnya meningkat.
”Yang paling penting itu istiqomah, misal setiap jum’at sepuluh ribu, ya itu terus istiqomah menjadi seperti sebuah kewajiban, lalu tahun depan meningkat, jadi setiap tahun ada perkembangan,” imbuhnya.
Pertemuan ini sangat bermanfaat baik saya dan CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq untuk mengupgrade mindset menjadi lebih baik. Yang jelas dari obrolan santai ini bersama owner PT Podo Rukun, Mudhofar, membuat kami tertantang untuk mengamalkan tiga wasiat pamungkas andalannya yakni,
- Silaturahim
- Memuliakan orang tua
- Bersedekah secara rutin di hari jum’at.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis Manager Event Tugu Media Group.
redaktur: jatmiko
























